Archive for August, 2009
Keacamatan Punung, Donorojo pringkuku dan Punung mengalami Kekekeringan serius
Tiap memasuki musim kemarau, wilayah Pacitan barat selalu dihantui masalah kekurangan air bersih. Beberapa dusun di Kecamatan Donorojo, Punung dan Pringkuku selalu langganan kekeringan. Meski pipanisasi telah masuk ke beberapa desa di wilayah tersebut, namun belum semua warga yang dapat menikamti. Pasalnya, letak antara satu dusun ke dusun lainnya sangat berjauhan.
Menanggapi hal tersebut, Sekda Kabupaten Pacitan, Mulyono, sudah melakukan pemetaan kekeringan di wilayah itu. Aparat pemerintahan, seperti Camat dan Kepala Desa harus proaktif berkoordinasi jika ada warganya yang kekeurangan air bersih. “Jangan hanya menunggu laporan. Harus langsung turun ke wilayah rawan kekeringan,” kata Mulyono.
Saat ini, pemkab Pacitan sudah melakukan langkah antisipasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek, pemkab telah menyiapkan armada tangki PDAM jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Sedangkan untuk jangka panjang, pemkab akan mencari dana hibah dari pihak luar untuk pipanisasi. Pasalnya, pembangunan pipanisasi membutuhkan dana yang sangat besar.
Pemkab, lanjut Mulyono juga akan mengoptimalkan sumber-sumber air yang ada. Dengan begitu, masalah kekurangan air dapat segera teratasi. Sementara, untuk wilayah yang belum mempunyai bak penampungan air, pemkab akan segera menyediakan. “Air bersih itu nantinya akan dikelola dan didistribusikan oleh warga setempat. Dan, yang terpenting air itu gratis,”tukas Mulyono.
Selain wilayah barat, pihaknya juga sudah memetakan kekeringan di wilayah timur. Diantaranya, Kecamatan Sudimoro dan sebagian Ngadirojo.
Jeruk pacitan yang begitu tersohor
Sesuai namanya, jeruk manis (Citrus sinensis) rasanya amat manis, dengan kadar asam yang sangat rendah. Jeruk manis umumnya hanya berbuah satu kali selama setahun.
Buahnya berbentuk bulat atau mendekati bulat. Ukurannya agak besar, bertangkai kuat, dengan warna kulit buah hijau sampai kekuningan dan mengkilat. Ketika masih kuncup, warna bunga umumnya putih atau putih kekuning-kuningan. Memiliki kelopak bunga membentuk cawan, dan daun bunganya sebanyak 5 helai.
Penampilan jeruk manis lebih terasa eksotik bila ditanam di dalam pot. Buahnya yang bundar itu tampak bergelantungan. Bahkan saking banyaknya buah, batangnya harus disangga dengan bambu atau kayu penyangga.
Ada dua jenis jeruk manis yang sudah kondang, yakni jeruk Pacitan dan jeruk Sunkis. Jeruk Pacitan warnanya kuning pucat, rasanya sangat manis, bentuk buahnya bulat ke samping, dengan kulit yang tipis. Sementara jeruk Sunkis, atau secara khusus adalah sunkis varietas Lau Kawar, selain rasanya manis, juga kandungan airnya banyak. Warna buahnya kuning kemerah-merahan, kulit buah halus berbintik-bintik, dan memiliki “udel” (puar) pada pantat buah.
Jeruk manis dapat diperbanyak secara generatif (dengan biji), namun untuk kepentingan bertanam dalam pot, sebaiknya gunakan bibit asal perbanyakan vegetatif. Bisa juga memakai bibit okulasi, yang dapat diperoleh dari penangkar bibit buah-buahan.
Untuk pot, bisa menggunakan pot tanah, pot porselen, pot plastik, pot semen, atau pot kayu. Bentuk pot bisa bulat, persegi panjang, atau oval. Yang penting, sesuaikan ukuran pot dengan besar-kecilnya bibit.
Untuk media tanam, gunakan tanah kebun yang subur. Bisa juga campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang (1 : 1 : 1). Sebelum bibit ditanam, lubang dasar pot ditutup dengan pecahan genting, kemudian di atasnya dilapisi kerikil dan pasir secukupnya. Setelah itu, baru dimasukkan media tanam, dengan volume sepertiga dari pot.
Kekeringan di kabupaten Pacitan meluas
Kekeringan di sejumlah Pacitan kini mulaimeluas. Jika sebelumnya hanya wilayah barat (Kecamatan Pringkuku, Punung dan Donorojo), kini mulai merambah ke wilayah timur, seperti beberapa desa di Kecamatan Ngadirojo, Tulakan, Sudimoro maupun Kebonagung.
Setiap menghadapi kekeringan, warga pun menempuh berbagai upaya untuk mendapatkan kebutuhan air. Di antaranya mencari di sendang (sumber air–red). Bahkan, tidak sedikit di antaranya yang harus menyusuri lembah-lembah bukit hanya untuk mendapatkan dua ember air, mereka harus rela menuruni lembah dengan jarak sekitar satu sampai dua kilometer. Itu pun, harus ada yang antre seharian. Atau, memasang ember di bawah jatuhnya sumber air. Dan setiap empat jam sekali, ember itu sudah berisi air dan diambil untuk dibawa pulang.
Kendati upaya mendapatkan air terlihat sulit dan berat, namun warga setempat menganggap hal biasa. Sebab, sejak dulu sampai sekarang, setiap musim kemarau kondisinya sama. Yakni, kesulitan mencari air bersih. Bahkan, persoalan air dinilai sebagai sesuatu yang tidak pernah berubah.
Agus, warga Kecamatan Ngadirojo, mengungkapkan paling tidak, dua minggu terakhir ini, warga kesulitan mendapatkan air bersih. Pasalnya, sumber-sumber air yang ada, debitnya semakin kecil. Di sisi lain, kebutuhan air bagi warga terus meningkat. “Warga berharap pemkab segera menggilir bantuan air. Apalagi saat ini warga tengah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan,” terang Agus Senin (24/9)
Sementara itu, Kabag Pembangunan Pemkab Pacitan Putatmo, yang akrab dipanggil Iput, menegaskan sejak Kamis(20/8) pemkab mulai memberikan bantuan air besih.
Bantuan itu difokuskan di wilayah barat dan timur. Untuk wilayah barat dipusatkan di Kecamatan Donorojo dan Pringkuku. Sedang wilayah timur masih memenuhi wilayah Kecamatan Ngadirojo.
(rep/wr)