Archive for October, 2009
Galakkan Operasi Penertiban Pelajar
PENDIDIKAN PACITAN – Belakangan ini, tingkat kenakalan pelajar menunjukkan
peningkatan. Hal itu terlihat adanya kelompok-kelompok pelajar yang
terkadang menimbulkan keributan. Padahal, semua itu hanya dipicu oleh
persoalan kecil. Seperti kejadian beberapa hari belakangan ini,
tentang ancaman terjadinya tawuran masal yang melibatkan ratusan
pelajar. “Polisi terus melakukan pencegahan agar tawuran masal tidak
meledak,” kata Kapolres Pacitan, AKBP Wahyono, kemarin (25/10).
Padahal, selama ini, setiap satu bulan sekali, pihaknya rutin
memberikan pembinaan-pembinaan secara bergilir ke beberapa lembaga
sekolah. Baik mengenai penyuluhan narkoba, operasi HP porno dan
sebagainya, termasuk masalah perkelahaian antar siswa. Sebab, perilaku
pelajar seperti itu sangat merugikan semuanya. Khususnya pelajar yang
bersangkutan. Sebab, jika terjadi perkelahian, semua pelaku akan
ditindak tegas. Dampak terjeleknya, pelaku bias dikeluarkan dari
sekolah atau disel jika terbukti ada unsur pidananya.
Memang, sejumlah lembaga sekolah, memberikan larangan bagi anak
didiknya membawa HP ke sekolah, khususnya HP yang dilengkapi fasilitas
menyimpan foto-foto. Selain dikawatirkan disalahgunakan menyimpan
gambar porno, juga dianggap mengganggu konsentrasi kegiatan
belajar-mengajar di dalam kelas.
Seperti diungkapkan Heru Triyono, Kepala Sekolah SMKN3 Pacitan. Selama
ini, pihaknya melarang siswa membawa HP ke ruang kelas. Jika tidak
mengindahkan larangan itu, akan dikenakan sanksi. Yakni, HP disita
guru dan harus diambil oleh orang tuanya. “Masalah larangan siswa
membawa HP kesekolah sudah disepakati komite dan wali murid. Hanya
satu dua oang tua murid yang tidak setuju,” jelas Heru.
Penagamatan selama ini, kegunaan HP bagi anak-anak saat kegiatan
belajar, banyak ruginya ketimbang manfaatnya. Misalnya, saat pelajaran
berlangsung ada SMS atau telepon masuk. Dan SMS atau telepon itu
hamper kebanyakan dari teman atau pacar. Sehingga membuat
konsentrasinya buyar. Tidak itu saja, ada yang memanfaatkan HP untuk
mendengarkan musik-musik.
Selain mengganggu, proses belajar-mengajar, pemakaian HP juga
bermdapak negative terhadap perilaku siswa. Misalnya, pengaruh gambar
porno yang menyebabkan ada pelajar hamil. Bahkan, ada juga yang
mendorong terjadinya tindak criminal pencurian HP lantaran teman ingin
memilikinya. “Kami mendukung pihak terkait untuk menertibkan
ketertiban dan kedisiplinan siswa,” imbuhnya.
Rebutan Cewek, Ratusan Siswa Nyaris Bentrok
PENDIDIKAN PACITAN – Didiuga persoalan cewek, dua lembaga sekolah di Pacitan, SMK
Bina Karya dan SMKN 3 nyaris bentrok, Jumat (23/10), kemarin. Tetapi,
guru dan polisi berhasil meredam emosi anak-anak. Kendati begitu,
suasana ‘siaga’ masih terasa dikedua lembaga sekolah yang mayoritas
laki-laki itu.
Kepala Sekolah SMK Bina Karya Pacitan, Drs. Kusyairi, mengaku belum
menerima laporan resmi terkait rencana perkelahian yang melibatkan
ratusan siswa-siswanya. Informasi batu didengar dari cerita orang di
luar. “Belum ada laporan resmi dari guru yang menanganinya,” terang
Kusyairi, kemarin (25/10).
Salah seorang Guru Agama SMK Bina Karya, Nanang Arifin, membenarkan
adanya perselesihan anak-anak kedua lembaga sekolah itu. Hanya,
persoalan itu sudah diselesaikan. Artinya, pelajar dan guru sudah
dipertemukan dan menghasilkan kesepakatan damai.
Tetapi, suasana kembali memanas setelah tersebar pesan singkat (SMS)
melalui HP, bahwa anak-anak SMK Bina Karya tidak ada apa-apanya.
Kendati SMS itu tidak jelas sumbernya, namun membuat ratusan pelajar
SMK Bina Karya tersinggung. Pesan itu dinilai sebuah ‘tantangan’. Tak
pelak, sepulang sekolah, ratusan anak-anak berkonsentrasi di depan
SMKN 3. Terlebih, jumlah total pelajar SMK Bina Karya itu sekitar
550-an anak, dan mayoritas laki-laki. “Untungnya guru mengetahui
rencana itu dan kembali meredam dengan mempertemukan siswa yang
bermasalah,” papar Nanang.
Santoso, urusan Humas SMK Bina Karya menambahkan, persoalan itu masih
dalam batas kewajaran. Artinya, tidak seperti anak-anak pelajar di
Kota besar. Kendati begitu, pihaknya gencar melakukan pengarahan dan
pembinaan melalui berbagai kesempatan. Baik dengan tatap muka langsung
maupun saat upacara bendera.
Diakuinya, perkelahian tidak kali ini saja terjadi. Dulu, juga pernah
anak didiknya berantem dengan SMAN I, SMK PGRI maupun SMKN 3. Tetapi,
bisa didamaikan dan tidak sampai menelan korban. Karena itu, lembaga
sekolahnya sangat mendukung jika pihak terkait (Satpol PP dan
kepolisian) menggelar operasi terpadu penertiban pelajar. “Semua hanya
untuk antisipasi saja,” ungkapnya.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Sekolah SMKN 3 Pacitan, Heru
Triyono, membenarkan adanya perselisihan antara anak didiknya dengan
pelaja SMK Bina Karya. Tetapi, permasalahan itu sudah ditangani.
Selalin mempertemukan siswa yang bermasalah, juga memanggil orang tua
yang bersangkutan. “Persolan pacar sudah selesai. Tiba-tiba muncul
persoalan lain, yang sifatnya tantangan dan membuat pelajar
tersinggung,” jelas Heru.
Jika dirunut, persoalan itu sangat sepele dan bersifat pribadi.
Tetapi, akhirnya dibesar-besarkan dan melibatkan ratusan pelajar
lainnya. Dan semua itu terjadi sepulang sekolah. Sebab, di dalam
sekolah suasana aman dan tertib. Begitu juga dengan siswa yang
bermasalah, juga dikenal pendiam. Di rumah juga rajin mengaji. “Semua
sudah diselesaikan oleh guru masing-masing. Dan siswa yang
bersangkutan juga sudah didamikan. Jadi tidak ada persoalan lagi,”
kata Heru.
Pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil Pacitan segera dibuka
CPNS PACITAN – Pembukaan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di
lingkungan Pemerintah Kabupaten Pacitan, rencananya akan dilakukan
mulai tanggal 26 sampai 29 Oktober 2009. Kepastian itu disampaikan
Kabag Humas dan Protokol, Endang Surjasri. “Penerimaan CPNS itu untuk
mengisi kekosongan guru, tenaga kesehatan dan teknis, dengan total
sekitar 418 orang,” katanya, Jumat (23/10).
Dengan rincian, jumlah tenaga pendidikan (guru) sebanyak 40 orang,
tenaga kesehatan 263 orang dan tenaga teknis 115 orang. Setelah,
diumumkan, proses pendaftaan akan dibuka sampai 9 November, pukul
12.00 wib, stempel pos. Sebab, pengiriman lamaran pendaftaran
dilakukan melalui kantor pos. Sedang tes tulis akan dilakukan pada 21
November.
Karena itu, pihaknya meminta pelamar yang memenuhi persyaratan, untuk
segera mempersiapkan diri. Baik mengenai persyaratan administrasi,
Seperti ijasah yang dilegalisir, kartu tanda pencari kerja (AK1),
surat kelauan baik, keterangan sehat dan sebagainya. Selain itu, juga
persiapan menghadapi tes tulis.
Sebab, dalam seleksi nanti, materinya cukup kompleks. Diantaranya, tes
umum yang meliputi ideologi, politik, sosial, ekonomi, budaya, hankam
dan hukum. Selain itu, juga ada materi tes bakat sekolastik, kemampuan
verbal dan kuantitatif penalaran. Sedang mengenai perguruan tinggi
yang akan ditunjuk sebagai pelaksana dan persiapan teknis lainnya,
masih dibahas bersama dinas terkait.
Kepala Kantor Pos Pacitan, Totok Suwanto, mengaku belum diajak rapat
bersama terkait persiapan penerimaan CPNS. Pun dekimian, pihaknya
sudah melakukan antisipasi pelayanan. Terlebih, pelamar CPNS nanti,
jumlahnya mencapai ribuan.
Berbagai persiapan yang akan dilakukannya antara lain, pendirian dua
unit tenda, penambahan dua orang tenaga kerja lepas dan persiapan
teknis lainnya. Sebab, untuk pelayanan tersebut, kantornya akan
membuka empat loket pendaftaran. Sedang saat ini, kantornya baru ada
dua petugas yang akan ditugasi di loket.
Tidak itu saja, pelayanan lain, seperti penambahan jam kerja juga akan
dilakukan. Misalnya, jika jam kerja mulai pukul 07.30 wib sampai pukul
16.00 wib, tidak mencukupi, juga akan ditambah satu jam, sampai pukul
17.00 wib. Terlebih, kegiatan itu hanya dilakukan setahun sekali,
sekaligus sebagai wujud pelayanan maksimal pada masyarakat. “Kami juga
akan membicarakan hal-hal teknis bersama teman-teman di kantor,”
pungkas Totok.
Sementara, beberapa orang calon pelamar berharap proses seleksi CPNS
tahun 2009 ini, benar-benar adil dan bersih. Artinya, rekuretmen yang
dilakukan terbebas dari aksi percaloan atau tindakan lainnya yang
berbau KKN. Dengan begitu, keinginan pemerintah mendapatkan calon
pegawai ‘pilihan’ yang profesional akan terealisasi. Sehingga, dalam
pelaksanaan nanti, perlu pengawas independen yang konsisten mengontrol
seleksi CPNS ini hingga tuntas. Dan jika ada temuan atau bukti
penyimpangan, ditindaklunjuti sesuai aturan hukum yang berlaku
Jelang Musim Tanam, Pupuk Dijamin Aman
Polisi Diminta Ikut Mengawasi Penyalurannya
PACITAN – Memasuki musim tanam tahun ini, petani di Kabupaten Pacitan,
boleh bernafas lega. Pasalnya, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan
setempat, memastikan petani tidak akan mengalami kesulitan mendapatkan
pupuk urea. Terlebih, pupuk bersubsidi masih itu masih tersedia
sekitar 60-an persen. “Kalau tonasenya saya lupa. Tetapi, cukup untuk
memenuhi kebutuhan petani dalam bulan Oktober sampai Desember tahun
ini,” kata Kabid Penyuluhan, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan,
Pacitan, Sugeng, Jumat, (23/10).
Jaminan ketersedian terebut, lanjut Sugeng, disebabkan selama musim
kemarau tidak banyak pemakaian pupuk, yakni sekitar 39 persen. Disisi
lain, sekarang, penyaluran pupuk diatur sesuai Rencana Difinitif
Kebutuhan Kelompok (RDKK). Artinya, penghitungan alokasi mendasarkan
kebutuhan riil yang disampaikan para petani. Terlebih, pada musim
tanam, pasokan pupuk menjadi kebutuhan utama bagi pertanian. “Petani
tidak perlu mengkhawatirkan masalah pupuk. Sebab, pemerintah sudah
berupaya maksimal agar kebutuhan pupuk terpenuhi,” imbuhnya.
Tidak itu saja, pihaknya juga sudah melakukan sinkronisasi pupuk pada
1000-an kelompok tani di Kabupaten Pacitan. Tentunya, dengan kegiatan
sosialisasi menjelang musim tanam, semua menjadi jelas, khususnya
mengenai jadwal dan pengaturan penyaluran pupuk. Bahkan, sebagai
antisipasi, Komisi Pengawas dan Pemantau Pupuk, sudah membuat
pengajuan tambahan pupuk ke Gubernur Jatim. Sehingga, jika kebutuhan
membengkak, langsung bisa diatasi.
Mantan Sekretaris Dinas Kehutanan dan Perkebunan ini, juga meminta
petani untuk memperkirakan dengan tepat kapan saatnya harus tanam
padi. Sebab, iklim sekarang ini kadang berubah. Tentunya, jika
tergesa-gesa (belum memasuki musim penghujan), akan berdampak pada
produksi padi.
Selain memastikan keamanan kebutuhan pupuk, pihaknya juga
mengungkapkan adanya bantuan pemerintah berupa bibit padi dan jagung.
Hanya, penyaluran bantuan itu diberikan melalui kelompok-kelompok
tani. Persoalannya, penyaluran melalui kelompok lebih terorganisir dan
efektif. Sebaliknya, jika penyaluran diberikan sendiri-sendiri pada
petani, akan lebih menyulitkan dan butuh waktu yang lama. Disisi lain,
kondisi areal pertanian masing-masing wilayah sangat berbeda. Ada yang
lebih cocok ditanami padi atau sebalik tanam jagung.
Sementara, Wakil Ketua DPRD Pacitan, Handoyo Aji, menyambut baik upaya
dinas terkait dalam menjamin ketersediaan pupuk menjelang musim tanam
tahun ini. Hanya, kepastian adanya jaminan itu harus dibuktikan saat
petani butuh pupuk nanti. Sebab, dari tahun ke tahun, setiap menjelang
musim tanam, petani pasti selalu kebingungan mendapatkan pupuk.
Bahkan, tidak jarang, harus membeli dari luar daerah dengan harga
tinggi.
Dijelaskan, persoalan yang sering dialami petani adalah, ketika tidak
membutuhkan, pupuk banyak tersedia. Sebaliknya, begitu petani butuh,
saat itu juga tiba-tiba pupuk menghilang. Tidak jarang, untuk
mendapatkan pupuk harus antre di tempat-tempat yang ditunjuk sebagai
penyalur pupuk.
Tidak itu, sebagian petani bahkan tidak mendapatkan jatah pupuk
bersubsidi itu dan terpaksa menggunakan pupuk kompos. Sehingga, sangat
mempengaruhi produksi padi. Pengaman petani selama ini, untuk
mendapatkan pupuk pun harus membuat pengajuan pupuk. Setelah sampai
lima kali, baru bisa mendapatkan. Namun, waktu pemupukan sudah relatif
terlambat.
Karena itu, kader PKS yang dikenal kritis ini, meminta semua pihak
melakukan pengwasan terhadap penyaluran pupuk. Bahkan, Polri juga
diminta melakukan pengawasan. Sebab, pupuk itu adalah pupuk bersbsidi
yang tentunya ada aturan main dalam penyalurannya. Jika terbukti
menyimpang, harus ditindak tegas sesuai perundang-undangan yang
berlaku.
Ribuan Warga Pacitan Belum Melek Huruf
PACITAN- Ribuan warga Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
buta aksara. Warga belum melek huruf itu didominasi oleh mereka yang
berusia diatas 45 tahun. Sedangkan warga buta huruf di bawah usia
tersebut sudah dituntaskan. “Tahun 2009 ini masih ada 3.609 warga yang
buta huruf,” terang Kepala Dinas Pendidikan, Pacitan, Heru Wiwoho, kemarin.
Berbagai upaya dan tahapan telah dilakukan untuk mengikis angka buta
aksara. Selain melalui Kelompok Belajar Masyarakat, Dinas Pendidikan
juga menggandeng elemen-elemen kemasyarakatan lainnya sebagai upaya
mengentaskan buta aksara. Seperti melalui PPK, Muslimat NU, Aisyiah
dan lain sebagainya. “Tahun ini pula ada 910 warga yang mengikuti
kegiatan belajar membaca dan tulis,” jelas Heru.
Dikatakannya, jumlah penyandang buta aksara di Pacitan tergolong
sedikit. Yakni hanya 0,84 persen. Angka ini jauh dibawah angka patokan
buta huruf nasional sebanyak lima persen. Hanya, untuk warga yang
belum melek huruf diatas usia 45 tahun, ada sedikit kendala. Sebab,
kemampuan berpikirnya mulai menurun. “Yang terpenting sekarang adalah
menjaga agar daerah yang sudah terbebas tidak kembali lagi menjadi
daerah buta huruf. Caranya dengan upaya yang terus menerus.”
Untuk menarik minat warga kelompok umur di atas 40 tahun kembali
belajar membaca, menulis, dan menghitung, diperkenalkan pula program
kewirausahaan. Tidak itu saja, pemerintah menerapkan kebijakan
afirmatif pendidikan pemberdayaan perempuan. Seperti, pendidikan
kelompok belajar keaksaraan mandiri yang pada hakikatnya pendidikan
kecakapan hidup sebagai kelanjutan dari program keaksaraan yang sudah
ada.
Ada beberapa hal yang menyebabkan sesorang buta aksara. Misalnya,
akses pelayanan pendidikan dasar dan angka putus sekolah. Khususnya di
kelas 1 sampai 3 di jenjang Sekolah Dasar (SD). Selain itu, beratnya
kondisi geografis Indonesia, munculnya penyandang buta aksara baru,
serta pengaruh faktor sosiologis masyarakat ikut menjadi pemicu.
Panen Melimpah, Harga Ikan Anjlok
BERITA PACITAN- Sudah hampir dua bulan terakhir para nelayan
dan pedagang ikan di Pacitan, Jawa Timur gundah. Melimpahnya hasil
tangkapan di sepanjang perairan selatan pulau Jawa membuat harga jual
ikan komoditas ekspor seperti tuna dan cakalang anjlok. Parahnya
lagi, di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan belum dilengkapi
cold storage (ruang pendingin) untuk menyimpan hasil tangkapan
nelayan. “Dari pada busuk, terpaksa kita jual murah,” kata Srikah,
salah seorang pengusaha hasil laut, kemarin.
Hal berbeda dilakukan Ferizal, pemilik PT. IFA yang menyalurkan hasil
perikanan laut. Sambil menunggu harga ikan membaik, ia memilih
menyimpan tuna dan cakalang miliknya di cold storage di pelabuhan
Cilacap, Jawa Tengah. Jumlah yang disimpan cukup banyak, mencapai 50
ton. Diperkirakan harga akan kembali membaik memasuki bulan Desember
nanti. Saat ini harga ikan tuna di pasaran hanya Rp 4 ribu/kg, dari
sebelumnya Rp 9 ribu/kg. “Kemungkinan Desember nanti baru kita lepas
ke pasar,” terangnya.
Lebih lanjut Ferizal mengatakan, kalau dipaksa dijual saat ini, yang
menderita kerugian cukup banyak adalah nelayan. Sebab, harga pasar
yang sekarang tidak mampu menutupi biaya operasional melaut.
Digambarkannya, sekali melaut, nelayan dengan perahu sekoci
membutuhkan biaya antara Rp 4 juta sampai Rp 5 juta. Jumlah lebih
banyak diperlukan oleh kapal-kapal jenis slerek yang sekali melaut
menghabiskan biaya Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. “Jika hanya dapat 1
ton, nelayan masih rugi,” terangnya.
Melimpahnya jumlah tangkapan dan anjloknya harga ikan diakui oleh
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Indartato. Dari data yang ada,
jumlah tangkapan ikan tuna naik dua kali lipat. Dari 4 sampai 5 ton
perhari menjadi 8 sampai 9 ton perhari. Hal serupa juga terjadi di
berbagai pelabuhan, khususnya di perairan Samudera Indonesia. Sesuai
hukum ekonomi, jumlah barang berlimpah menyebabkan harga turun.
“Banyaknya jumlah tangkapan membuat pihak pabrik tidak mampu
menampungnya,” paparnya.
Nelayan dan pedagangpun kebingungungan. Apalagi sarana cold storage
juga belum dibangun di PPP Tamperan. Sebenarnya, Dinas Kelautan dan
Perikanan sudah pernah mengusulkan pembuatan ruang penyimpanan
berpendingin tersebut. Tetapi hingga sekarang belum terealisasi.
“Kita sudah membuat usulan ke propinsi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala PPP Tamperan, Nonot Wijayanto mengatakan,
ketersediaan cold storage cukup mendesak, utamanya saat musim ikan.
Dari usulan diketahui, fasilitas pendinginan akan mampu menampung
sekitar 100 ton ikan. Sedangkan menyangkut biaya akan diajukan ke
propinsi atau pusat. “Anggaran untuk membuat itu (cold storage-red)
diperkirakan mencapai Rp 2 milyar,” ungkapnya.
Ritual Bawa Sajam, Diamankan Polisi
KRIMINAL PACITAN – Nasib apes dialami Jurianto,55, dan dua orang temannya,
Toni,32 dan Sugito,60. Ketiganya warga Desa Bagem, Kec./Kab. Magetan.
Betapa tidak, sepulang melakukan ritual di Pantai Srau, Kecamatan
Pringku, Pacitan, diamankan polisi, Selasa (20/10). Pasalnya, polisi
menemukan senjata tajam (sajam), di jok belakang mobil dan dua alat
suntik. “Saat ini, semuanya masih diperiksa,” kata Kapolres Pacitan,
AKBP Wahyono, kemarin (20/10).
Diamankan rombongan Jurianto cs, hanyalah kebetulan saja. Sebab,
beberapa hari terakhir ini, polisi gencar melakukan operasi rutin.
Termasuk kegiatan opeasi di daerah perbatasan. Dalam operasi itu,
polisi tidak saja mengecek kelengkapan surat-surat kendaraan bermotor.
Tetapi, juga merazia isi kendaraan yang dicurigai.
Dijelaskan, saat melakukan operasi di daerah perbatasan Kecamatan
Pringkuku-Kota, melintas mobil kijang warna biru, nopol W 3494 FY.
Lantaran curiga, polisi menghentikan kendaraan yang bergerak menuju
Kota Pacitan. Ternyata, setelah dilakukan pemeriksaan di dalam
kendaraan, polisi menemukan sajam berupa sebilah pedang, yang
panjangnya sekitar 30 sentimeter, selebar tiga ibu jari tangan orang
dewasa. Apalagi, polisi juga menemukan alat suntik. “Yang satu seperti
sudah terpakai dan satunya masih bersih”.
Hasil pemeriksaan sementara, Jurianto cs, mengaku baru saja melakukan
ritual di Pantai Srau. Ritual itu dengan cara memotong kera yang sudah
dipersiapkan. Itulah sebabnya, ia membawa pedang. Hal itu dilakukan
sesuai petunjuk gaib yang diterimanya.
Sedang keberadaan alat suntik dipergunakan mengambil darah kera yang
baru saja disembelih. “Darah kera itu dicampur dengan minyak khusus,”
terang kapolres.
Kendati begitu, polisi tidak begitu saja mempercayai alas an yang
disampaikan Jurianto cs. Karena itu, polisi terus melakukan
pemeriksaan intensif. Terlebih, membawa sajam (senjata) itu melanggar
UU darurat No.12/51. Tentu saja, jika nanti terbukti, pembawa sajam
bisa dijerat dengan pasal tersebut. Ancaman hukuman maksimalnya pun
cukup berat, yakni 10 tahun penjara.
Lebih lanjut, Wahyono mengungkapkan, secara umum, situasi di Pacitan,
baik menjelang pelantikan sampai kemarin, sukup kondusif. Sebab,
pihaknya sudah melakukan antisipasi pengamanan dibeberapa titik yang
dinilai rawan, termasuk daerah perbatasan.
PT. Gemilang Limpah Internusa (GLI) diduga mencemari lingkungan
RADIO PACITAN – Sebagian warga Desa Cokrokembang, Kecamatan Ngadirojo,Pacitan, khususnya yang bermukim dekat sungai resah. Pasalnya, air
sungai berubah warna kekuningan. Bahkan, saat banjir pertama minggu
lalu, banyak ditemukan ikan yang mati. Diduga, perubahan air sungai
itu disebabkan aktivitas penambangan timah yang dilakukan PT. Gemilang
Limpah Internusa (GLI), di Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan, Pacitan.
Tentu saja, sebagian warga Desa Cokrokembang resah. Terlebih, selama
ini, masih banyak warga yang memanfaatkan air sungai itu untuk
mencuci, mandi atau pun berwudlu. Tidak itu saja, terkadang juga
dimanfaatkan warga untuk kebutuhan ternak sapi. “Warga kawatir jika
air sungai itu berdampak pada kesehatan,” kata Wakil Ketua DPRD
Pacitan, Handoyo Aji.
Karena itu, Handoyo meminta pihak terkait untuk menindaklanjuti
keluhan warga tersebut. Sebab, jika tidak dan nantinya terbukti
merugikan masyarakat, bisa menjadi permasalahan besar. Terlebih, dulu,
pernah muncul permasalahan antara warga dan pihak penambang terkait
kesepakatan-kesepakatan.
Kepala Kantor Lingkungan Hidup, Bambang Supriyoko, membenarkan adanya
perubahan warna pada air sungai saat banjir minggu lalu. Air sungai
tersebut berwarna kekuningan. Bahkan, pihaknya, yang bekerjasama
dengan Dinas Pertambangan dan Energi setempat, melakukan survey. “Kami
menelusuri sungai sampai beberapa kali,” kata Bambang, Selasa (20/10).
Diakuinya, air sungai itu mengalami perubahan dari biasanya. Terbukti,
ada salah satu cabang sungai yang warna airnya masih jernih. Kondisi
itu berbeda dengan air sungai yang dibagian atas terdapat aktivitas
penambangan PT. GLI. “Ketika melakukan survey, tidak ditemukan ikan
mati. Tetapi, kalau melihat airnya seperti itu, bisa juga membuat ikan
mati,” imbuhnya.
Sebenarnya, kegiatan penambangan sisi lainnya, tidak ada permasalahan.
Sebab, sudah dibuatkan bak-bak penampungan dan pengolahan limbah.
Sehingga, limbah yang terbuang relatif jernih. Karena itu, pihaknya
meminta penambang untuk segera membuat bak-bak pada setiap aktivitas
penambangan.
Diakuinya, medan di lokasi penambangan memang berat. Artinya, lereng
gunung yang ditambang tidak mudah dibuat bangunan bak-bak. Pun
demikian, hal itu harus tetap dilakukan pihak penambang. Sehingga,
bisa mengeliminir dampak negatif yang muncul dari kegiatan
penambangan. Hal itu tidak saja sesuai aturan main dalam setiap
penambangan. Namun, juga mencegah terjadinya masalah sosial di
masyarakat. “Pemkab sudah memberikan peringatan pada penambang. Pihak
penambang sendiri menyatakan akan segera membangun bak-bak
penampungan,” jelas Bambang.
Sedang untuk mengatasi persoalan air, pemkab langsung memberikan
bantuan air bersih bagi warga Desa Cokrokembang. Dan pemenuhan air
bersih, termasuk salah satu tuntutan warga. “Mulai hari ini (kemarin,
red), pemkab sudah mengirim air bersih bagi warga”.
Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Pacitan,
Lan Naria Hutagalung, pihaknya sudah mengambil sample batu untuk
diteliti. Bahkan, beberapa hari lagi, kegiatan survey dan pengambilan
sample batu akan kembali dilakukan. Semua itu untuk memastikan apakah
jenis batuan tambang tersebut mengandung kandungan tertentu yang
membahayakan. “Sample batu akan dibawwa ke laboratorium di
Yogyakarta,” kata Lan Naria saat dihubungi via telepon lantaran ada
kegiatan di Jakarta, kemarin (20/10).
UPP Pacitan, Juara Dua Nasional
PACITAN – Kendati baru tiga tahun terbentuk, Unit Pelayanan
Pengembangan (UPP) budidaya perikanan air tawar Pacitan, meraih juara
dua tingkat nasional. Paling tidak, dari jumlah total 136 kelompok
pembudidaya ikan (Pokdakan), 42 kelompok diantaranya tergabung dalam
UPP. Keberhasilan kelembagaan UPP itu mampu memenuhi 48,8 ton setiap
tahunnnya. “Kendati banyak kendala dalam budidaya ikan, peran aktif
UPP melakukan pembinaan dinilai bagus,” kata Kepala Dinas Kelautan dan
Perikanan Pacitan, Indartato, kemarin (19/10).
Dijelaskan, budidaya ikan masih sangat menjanjikan. Hal itu dilihat
dari estimasi kebutuhan masyarakat terhadap ikan mencapai kisaran 488
ton setiap tahunnya. Artinya, dari sejumlah Pokdakan yang ada, baru
bisa memenuhi 10 persen. “Sebagian besar masih dipasok dari luar
Kota,” imbuhnya.
Kepala dinas yang getol menggulirkan program untuk meningkatan
pendapatan petani (nelayan) melalui kelompok ini, mengungkapkan adanya
beberapa kendala dalam budidaya ikan. Persoalan air, masih sering
menghambat kelompok Pokdakan. Tidak itu saja, ketersediaan dan
mahalnya harga pakan, juga persoalan yang tidak sederhana. Terlebih,
hamper sekitar 70 persen biaya produksi budidaya ikan, untuk pemenuhan
pakan.
Sedang mengenai teknik pembesaran hingga panen, tidak ada persoalan.
Sebab, UPP terus melakukan pembinaan dan membentuk kelompok pemasaran
(pengepul). Sehingga, ketika kelompok menuai panen, langsung
dipasarkan, khususnya memenuhi kebutuhan lokal.
Hanya, budidaya ikan tawar ini memiliki resiko tinggi. Artinya, jika
gagal panen, tentu akan menderita kerugian. Sehingga, pihaknya,
melalui UPP terus melakukan pembinaan rutin. Baik mulai mencarikan
benih berkualitas, teknik pembesaran yang benar, pemasaran sampai
menjebatani akses permodalan kelompok ke lembaga perbankan.
Pria asal Ngadirojo yang pernah menjabat kepala Bappeda ini,
menceritakan sukses meraih penghargaan dari Menteri Kelautan dan
Perikanan, Freddy Numberi, merupakan upaya kerja keras staf dan
kelompok. Betapa tidak, tiga tahun lalu, saat UPP dibentuk, hanya
memiliki 5 Pokdakan. Setelah gencar bersosialisasi ke masyarakat di 12
kecamatan, dari tahun ke tahun mengalami penambahan jumlah kelompok
cukup signifikan.
Persoalannya, banyaknya kendala yang dihadapi kelompok, tidak semuanya
berjalan mulus. Paling tidak, dari jumlah total 136 kelompok, hanya 42
kelompok saja yang tergabung dalam UPP. Sedang kelompok lainnya pasif
atau angin-anginan saja.
Untuk membantu keberadaan kelompok dalam pemenuhan kebutuhan pakan
ikan, pihaknya juga sudah merencanakan mendirikan usaha pembuatan
pakan ikan. Terlebih, bahan baku pakan ikan juga cukup banyak di
Pacitan. Tentunya, jika sukses membuat pakan ikan sendiri dengan harga
realtif murah dibanding harga pakan pabrikan, akan sangat membantu
kelompok. Disisi lain, pakan buatan sendiri nanti, kualitasnya tidak
kalah dengan pabrikan.
Pemilu Kada Pacitan Diprediski Dua Putaran
Berita pacitan – Pemiluhan Umum Kepala Daerah (Pemilu Kada) Pacitan, tahun
depan, diprediksi sampai dua putaran. Sehingga, coblosan putaran
pertama bakal dilaksanakan Oktober 2010. “Selain didasarkan pada
aturan, juga pengalaman pemilu kada lalu,” kata Ketua Komisi Pemilihan
Umum Daerah (KPUD) Pacitan, Damhudi, Senin (19/10).
Dijelaskan, dalam UU No. 32/2004, terdapat salah satu klausul yang
menandaskan, coblosan dilakukan sekurang-kurangnya dua bulan sebelum
pelantikan terpilih. Sehingga, dua bulan sebelum pelantikan (Februari
2011) adalah Desember 2010. Tentunya, Desember diprediksi sebgai
coblosan putaran kedua. Sedang putaran pertama, dilakukan pada
Oktober. “Pemilu Kada lalu satu putaran selesai. Jika sampai dua
putaran, tentu akan menjadi persoalan,” imbuhnya.
Mantan LSM yang sudah dua periode menjabat anggota KPUD ini
mengungkapkan, rangkaian tahapan Pemilu Kada selama 8 bulan. Dengan
rincian, 5 bulan dialkukan pada tahun 2009 dan tiga bulan berikutnya
sampai Maret 2011. Sehingga, tahapan secara resmi dimulai pada Agustus
tahun depan.
Beberapa tahapan yang akan dikerjakan mulai Agustus nanti diantaranya,
pemutakhiran data pemilih. Dimana, dalam kegiatan itu, pihaknya akan
mengacu data Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilpres untuk dijadikan DPS
Pemilu Kada. Selain itu juga mengacu data terbaru dari Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil. Setalah itu, akan dilakukan tahapan
berikutnya, mulai pencalonan, pengadaan barang/jasa, pemungutan sampai
perhitungan suara.
Selain merujuk aturan, pertimbangan lain juga didasarkan
hitung-hitungan peta partai politik maupun munculnya calon independen.
Paling tidak, ada tiga partai besar yang memenuhi syarat mengusung
calon. Yakni, Partai Demokrat, Partai Golkar, PDI Perjuangan, gabungan
partai dan calon independen.
Mengenai calon independen, juga dinilai sebagai hal baru dalam Pemilu
Kada nanti. Tak pelak, munculnya calon tersebut menjadi pembahasan
mendalam. Misalnya, bagaimana teknik melakukan verifikasi, pendaftaran
dan alokasi kebutuhan anggarannya. Sebab, sesuai aturan, syarat calon
independen harus didukung minimal 4 persen dari jumlah penduduk.
Artinya, jika jumlah penduduk di Pacitan sebanyak 600 ribu jiwa, 4
persennya berkisar 24 ribu. “Sebanyak 24 ribu akan diverifikasi satu
per satu,” tandas Damhudi.
Tentunya, jika nanti terdapat dua calon independen, akan membutuhkan
waktu dan anggaran yang cukup besar. Sebab, memverifikasi sebanyak 48
ribu jiwa, dengan alamat tersebar merata di 12 kecamatan di Pacitan.
Belum lagi kendala lain yang bakal dihadapi petugas di lapangan.
Realita itulah yang membuat estimasi anggara juga dilakukan perubahan.
Sebelumnya, ungtuk kegiatan Pemilu kada tahun 2010 diusulkan Rp 4,7
milyar. Sedang pemkab mematok anggaran Rp 4 milyar. Tetapi, anggaran
kegiatan tahun 2011 belum dihitung. Tentunya, anggaran Pemilu Kada
akan bertambah. Hanya, berapa total anggaran yang diperlukan masih
dihitung.