Archive for October, 2009
Menara bersama cegah hutan tower
Guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas infrastruktur
telekomunikasi nasional di Kabupaten Pacitan, dilakukan
penandatanganan MoU (nota kesepahaman) antara pemkab dengan PT.
Indonusa Nora Prakarsa, sebagai rekanan penyedia menara bersama.
“menara bersama untuk mencegah munculnya hutan tower,” kata Bupati
Pacitan, H. Sujono, usai menandatangani MoU, di ruang rapat pendopo,
kemarin (13/10).
Dikatakan, selama ini, masih ada beberapa wilayah di Pacitan, yang
belum terlayani jaringan telekomunikasi. Tentunya, pemkab tidak akan
mempersulit investor yang akan berinvestasi di jasa telekomunikasi.
Tetapi, berbagai persyaratan, khususnya perijinan dan kewajiban harus
dipenuhi. Sebab, selain sebagai pemenuhan pelayanan masyarakat, juga
berorientasi menambah PAD.
Terlebih, dari tahun ke tahun, perekonomian di kampong halaman
Presiden SBY menunjukkan peningkatan cukup. Disisi lain, berbagai
proyek nasional juga sidah mulai dibangun. Seperti PLTU Sudimoro,
Jalan Lintas Selatan (JLS), Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan.
Bahkan, saat ini, juga tengah direncanakan pembangunan pelabuhan
Niaga.
Terpisah, Kepala Kantor Pelayanan Perijinan, Isya’ Anshori mengatakan,
menara bersama itu memiliki dasar hokum yang jelas. Yakni, Peraturan
Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 2/Per/M.Kominfo/3/2008,
tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama
Telekomunikasi. Dan saat ini, pihak investor tengah membangun menara
di Dusun Bubakan, Desa Sukoarjo, Kecamatan Sudimoro.
Dijelaskan, PT. Indonusa Nora Prakarsa, buakn yang pertama.
Sebelumnya, pemkab sudah membuat MoU serupa dengan Telkomsel, Exel,
LSK dan Pilar Mandiri Nusantara. Dan semuanya sudah memenuhi
konstruksi yang dimanatkan dalam peraturan menteri. Yakni,
diperuntukkan menara bersama.
Sedang mengenai menara yang sudah ada, diminta secara bertahap
menyesuaikan pemenuhan kontruksi bersama. Pemkab tidak akan melakukan
penebangan tower, seperti beberapa daerah lain. Pertimbangannya,
membangun menara menelan anggaran dana milyaran rupiah. “Pemkab hanya
menghimbau agar melakukan penguatan kontruksi menara yang bisa
dipergunakan beberapa operator,” kata Isya’.
Diakuinya, saat ini, terdapat 70-an menara yang berdiri. Tetapi,
sesuai kajian teknik, idealnya terdapat sekitar 105 menara. Sehingga,
masih memungkinkan untuk pendirian menara-menara baru, sesuai
ketentuan yang ada.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Bappeda dan Penanaman Modal
Pacitan, Edy Yunan Achmadi. Keberadaan investor dibidang
telekomunikasi itu juga berdampak pada PAD. Sebab, pihak investor,
selain membayar IMB dan HO, juga memberikan sumbangan. Dengan
ketentuan, untuk setiap satu tower, satu operator, per tahun
menyumbang Rp 6,5 juta. Jika satu tower ada dua operator menyumbang Rp
12 juta dan tiga operator Rp 18 juta. “Pembayaran itu akan dilakukan
setelah 30 hari sejak MoU ditandatangani,” kata Edy Yunan.
Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) mulai berjalan
Pacitan merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur, yang
sangat potensi untuk usaha ternak sapi. Terbukti, jumlah populasi
ternak sapi dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan signifikan.
“Tahun ini, jumlah populasi berkisar 45 ribu, dengan kenaikan
rata-rata per tahun sebesar 1,5 persen,” kata Kasi Pembibitan Ternak,
Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Pacitan, Cahya, Selasa (13/10).
Bahkan, lanjut Cahya, jumlah kelahiran sapi cukup tinggi, yakni
sekitar 11 ribu kelahiran sapi. Hanya, transaksi sapi yang ke luar
dari Pacitan juga meningkat. Tidak itu saja, hampir 75 persen jenis
sapi yang diternak adalah limoasin dan si mental. Sedang sapi putih
atau sapi lokal mulai ditinggalkan peternak. “Harga jual tinggi dan
bobotnya pun lebih berat,” imbuhnya.
Diakuinya, meningkatnya usaha ternak sapi di masyarakat disebabkan
beberapa faktor. Diantaranya, lingkungan yang mendukung, budaya dan
tersedianya pakan ternak. Jika dihitung secara acak, ketersediaan
rumput dan limbah pertanian di Pacitan, mampu mencukupi sekitar 120
ribu ekor satuan ternak. Tetapi, saat ini, baru tercatat 63 ribu ekor
satuan ternak. Artinya, lingkungan dan ketersediaan pakan masih sangat
mencukupi utnuk pengembangan ternak.
Karena itu, program pemeritah segera menggulirkan Kredit Usaha
Pembibitan Sapi (KUPS), dinilai langkah yang tepat. Sebab, program itu
akan memotivasi masyarakat, khususnya menengah ke atas, untuk lebih
mengembangkan usaha ternak sapi.
Farouk Budi, Direktur Jaten Lembu Gemilang (JLG), membenarkan akan
digulirkannya program itu. Bahkan, satu-satunya pengusaha ternak
terbesar di Pacitan ini sudah mengikuti sosialiasi yang diadakan
Departemen Pertanian, bebrapa waktu lalu. “Pemerinah sudah menunjuk
lembaga perbankan untuk menyalurkan kredit sapi dengan bunga rendah (5
persen), jangka kredit 6 tahun dengan masa tenggang dua tahun,” terang
Farouk.
Dijelaskan, tujuan program itu untuk memotivasi masyarakat melakukan
pembibitan sapi, bukan penggemukan. Target, dalam kurun lima tahun ke
depan, secara nasional, akan ternuhi populasi ternak sapi sebanyak 1
juta ekor. Sebab, saat ini, Indonesia tengah mengalami krisis daging
sapi. Terbukti, untuk pemenuhan daging sapi, masih harus impor dari
luar negeri.
Mengenai teknis pelaksanaan program di Pacitan, masih akan dibicarakan
dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan setempat, Kelompok
Peternak Sapi Pacitan (KPSP) dan bank yan ditunjuk. Dan program itu,
bisa diakses oleh pengusaha sapi (memiliki ijin), koperasi dan KPSP.
Hanya, untuk KPSP, nantinya akan bermitra dengan pengusaha sapi.
“Diharapkan, pertengahan Desember nanti, Pacitan sudah mengajukan
program itu ke Pusat,” tandas Farouk.
Sebagai ilustrasi, pelaksanaan di lapangan nanti, pengusaha sapi
(sebagai inti) bermitra dengan KPSP (sebagai plasma). Dimana,
pengusaha akan melakukan pembinaan, mengusahakan pengadaan sapi pada
kelompok dan menjamin pemasarannya. Hanya, pihak pengusaha akan
memilih KPSP yang sudah mendapat rekomendasi dari dinas terkait.
Sementara, Kabid Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan
Pacitan, drh. Fatkhur Rozi, mengungkapkan, sampai saat ini, sudah ada
sekitar 60-an KPSP. Dimana, setiap kelompok terdiri 20 sampai 30
orang. Artinya, setiap kelompok bisa mengambil sapi sebanyak 20 sampai
30 ekor. Jika dikalikan jumlah kelompok, tahun ini aka nada penambahan
sapi sebanyak 1.200 ekor. “Target tahun ini sebanyak 1000 ekor. Syukur
bsia lebih dari itu,” katanya.
Kendati begitu, pihaknya membuka kesempatan pada masyarakat yang ingin
membentuk kelompok baru. Hanya, setiap kelompok harus memenuhi syarat
yang sudah ditentukan. Salah satu syarat utama adalah kesiapan
kelompok, baik SDM maupun kelengkpan jaminan ke lembaga perbankan.
“Program ini cenderung ke usaha profit. Kalau program pengentasan
kemiskan digulirkan pemerintah melalui Departemen Sosial,” papar
Fatkhur.
Sungai Lorog Meluap, lahan pertanian tergenang
Puluhan hektar tanaman perkebunan dan pertanian milik warga
di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, tergenang air.
Diduga, genangan air yang meluap ke areal pertanian itu terjadi
lantaran muara sungai tertutup pasir pantai. Mendapati kondisi itu,
warga mengaku tidak bisa berbuat banyak. ” Jika terus dibiarkan
terendam air, tanaman kami bisa mati. Tetapi, bagaimana lagi,” kata
Rajiman, warga setempat, Senin (12/10)
Secara rinci, luas area perkebunan yang terendam belum diketahui
secara pasti. Tetapi, diperkirakan cukup lauas, ada beberapa hektar.
Di area itu, terdapat berbagai tanaman produktif pertanian milik
warga. Seperti, cabai, terung, jagung dan lain sebagainya.
Kendati begitu, warga sendiri mengaku pasrah. Sebab, untuk mengatasi
luapan air tersebut diperlukan alat-alat berat untuk menyingkirkan
timbunan pasir di muara sungai. “Timbunan berasal dari sedimentasi
selama kemarau kemarin,” papar Rajiman.
Dijelaskan, terendamnya tanaman milik warga akibat hujan deras yang
mengguyur wilayah itu dua hari terakhir. Awalnya, air hanya merendam
separuh dari tinggi tanaman. Namun, karena hujan terus turun, kini
genangan air bertambah dan mulai menenggelamkan tanaman. Diperkirakan
air masih akan terus menggenangi lahan pertanian karena mendung tebal
masih terlihat di langit Pacitan. “Genangan berasal dari luapan Kali
Lorok bercampur air laut” ungkapnya.
Jika genangan tak juga surut, diperkirakan warga akan mengalami
kerugian yang cukup besar. Betapa tidak, untuk ongkos tanam, mereka
harus mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu rupiah. Tidak itu saja,
warga yang tinggal di dekat lokasi genangan mengkhawatirkan dampak
lain, yakni munculnya sarang-sarang nyamuk baru. Bahkan mereka
khawatir genangan juga akan meluap dan menggenangi pemukiman.
“Praktis kami tidak bisa melakukan aktivitas di ladang. Apalagi air
laut juga kurang baik bagi lahan pertanian,” papar Rajiman.
Hal senada juga diungkapkan warga lainnya. Sebenarnya, kejadian itu
pernah terjadi. Yakni, ketika sungai meluap, air laut pasang.
Akibatnya, air dari sungai tidak bisa terbuang ke laut. Sebaliknya,
air bergerak menggenangi daratan. Kejadian itu membuat pasir pantai
menutup muara sungai. Persoalannya, saat ini, area sekitar pantai lagi
ditanami palawija.
Secara teknis, kondisi itu bisa diatasi dengan mengeruk tumpukan pasir
laut di muara sungai. Hanya, untuk melakukannya tidaklah mudah.
Apalagi jika hanya menggunakan peralatan seadanya. Karena itu, warga
berharap pemkab membantu warga mengatasi kejadian itu.
SE Bupati untuk gempa padang
Kepedulian dan uluran tangan untuk meringankan beban korban
gempa bumi di Sumatera Barat terus mengalir. Kali ini Pemkab Pacitan,
menghimpun dana dari para pegawai negeri sipil melalui Surat Edaran
(SE) Bupati. “Mulai hari ini Surat Edaran sudah di disebar ke semua
instansi,” kata Sekretaris Daerah, Mulyono, Senin (12/10).
Terbitnya SE ini merupakan bentuk empati dan simpati dari jajaran
pemkan bagi korban. Teknisnya, sumbangan dari para PNS adalah
sukarela. Artinya, berdiri sendiri dan tidak melalui sistem potong
gaji. Diharapkan dalam minggu ini semua sumbangan sudah terkumpul. Di
Pacitan sendiri paling tidak ada sekitar 7 ribu orang PNS. “Hasil
pengumpulan sumbangan akan disalurkan melalui propinsi, pusat terus ke
daerah yang dilanda gempa,” terang Sekda.
Sementara itu, terkait langkah menghadapi bencana alam, Ketua
Satkorlak Penanggulangan Bencana (PB) Pacitan, H G Sudibyo mengatakan
sudah siap. Sebagai langkah antisipasi dan mengeleminir bencana alam,
pihaknya mulai menyiagakan personil. Seperti jajaran Kesatuan Bangsa,
Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas), Taruna Tanggap
Bencana (Tagana) hingga peralatan search and rescue. “Bencana yang
sering terjadi mulai banjir, tanah longsor dan kebakaran,” terangnya.
Selain siaga gempa, persiapan yang dilakukan Satkorlak PB sebagai
respon memasuki musim penghujan. Apalagi sejak kemarin wilayah Pacitan
di guyur hujan lebat hingga berjam-jam. Akibatnya beberapa sungai
meluap, seperti di wilayah Desa Sukoharjo, Kecamatan Kota Pacitan.
Meski tidak sampai menggenangi pemukiman, banjir tetap membuat warga
was-was. Sebab, hujan masih turun dan awan tebal terlihat di hampir
semua wilayah. “Jika terjadi gempa kita sudah siapkan 13 titik
evakuasi,” papar Sudibyo.
Sebagai daerah yang didominasi pegunungan, kabupaten diujung tenggara
Jawa Timur ini langganan mengalami kedua bencana alam itu. Sebagai
contoh, diakhir tahun 2007 lalu banjir bandang merendam puluhan desa
dan lahan pertanian. Tidak itu saja, serangkaian peristiwa tanah
longsor juga merusak pemukiman dan memutus arus transportasi antara
Pacitan-Ponorogo.
PMII gelar Istighosah dan Doa Bersama
Ratusan umat Islam di Kabupaten Pacitan, menggelar doa
bersama dan istighosah di alon-alon, Sabtu (10/10), malam, kemarin.
Doa bersama yang dipimpin KH. Toyib Hasan dan KH. Umar Said itu, juga
dimanfaatkan menghimpun dana kemanusiaan untuk para korban gempa bumi
di Padang, Sumatera Barat.
Umat muslim yang mengikuti doa bersama dan istighosah itu, tidak saja
sebatas masyarakat Kota. Tetapi, beberapa kelompok masyarakat maupun
pondok pesantren dari luar kecamatan juga memadati alon-alon.
Diantaranya, dari Pondok Pesantren Tremas (Arjosari) dan Pondok
Pesantren Nur Rohman (Donorojo).
Memang, kegiatan yang digelar oleh Pergeakan Mahasiswa Islam Indonesia
(PMII) Cabang Pacitan ini, mendapat sambutan antusias dari umut
muslim. Diawal acara, kelompok Sim Tut Duror dari Ponpes Tremas,
mengalunkan puji-pujian dengan iringan musik hadrah. Sejumlah kiai
sepuh, tampak khusyuk melafalkan ayat-ayat suci Al Qur’an bersama
ratusan jemaah. Tak pelak, sebagian jemaah, khususnya wanita, ada yang
menitikkan air mata, lantaran ikut merasakan kepedihan yang dialami
para korban gempa. “Secara khusus, doa bersama dan istighosah ini
ditujukan untuk para korban gempa, juga keselamatan bangsa Indoneisa,”
kata Ketua Internal PMII Cabang Pacitan, Nur Arifin Hamid, kemarin
(10/10).
Tidak itu saja, beberapa hari terakhir ini, masyarakat Pacitan juga
resah. Sebab, beredar isu akan terjadi gempa besar, yang bisa
menimbulkan tsunami. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang berjaga
atau tidur di luar rumah saat malam hari. Tentunya, dengan doa bersama
dan istighosah tersebut, perasaan was-was akan berkurang. Sebaliknya,
umut muslim semakin mendekatkan diri pada Sang Illahi.
Hal senada juga diungkapkan Sadid, salah seorang pengurus PMII cabang
Pacitan. Organisasinya sudah beberapa kali menggelar acara serupa
untuk korban bencana. Dan selama ini, masyarakat, khususnya umat
muslim selalu memberikan dukungan. Bahkan, sebelum acara dimulai,
organisasinya sudah menghimpun dana sekitar Rp 4 juta. Tetapi, hasil
sumbangan dana dari jemaah doa bersama belum dihitung. “Nantinya,
semua dana akan dikirim ke pengurus besar PMII di Jakarta, untuk
kemudian diteruskan ke lokasi gempa setelah berkoordinasi dengan PMII
setempat,” terang Sadid.
Sementara, dalam sambutannya, kepala Depag Pacitan, M. sakur, yang
diwakili Kasi Haji dan Umroh, Moh. Nurul Huda, mengajak masyarakat
untuk selalu peduli pada saudara-saudaranya yang menjadi korban gempa
di Padang, Sumatera Barat. Rasa peduli itu tidak selalu dibarengi
kegiatan seperti ini. Tetapi, bisa dilakukan secara spontan dan
pribadi melalui lembaga kemanusiaaan yang ada.
Lebih lanjut, Nurul Huda mengajak jemaah untuk tulus-ikhlas
memanjatkan doa bersama. Diharapkan para korban yang meninggal dunia
dapat diterima amalnya disisi Allah SWT. Dan keluarga yang
ditinggalkan diberi ketabahan. Tidak itu saja, para korban luka-luka
berat dan ringan juga bisa segera disembuhkan dari sakitnya. Sehingga,
kehidupannya kembali normal dan selalu mendapat perlindungan Tuhan.
“Hal yang lebih penting lagi adalah doa untuk keselamatan bagi seluruh
bangsa Indonesia agar dihindarkan dari segala mara bahaya dan
bencana,” katanya.
Diakhir acara, panitia mengungkapkan kekecewaannya lantaran
ketidakhadiran beberapa undangan, khususnya pejabat teras dari Pemkab
Pacitan. Bahkan hingga acara usai tak ada satupun perwakilan yang
ditunjuk datang. Padahal undangan dan pemberitahuan sudah mereka
layangkan sebelumnya. “Alasannya sibuk dan lain sebagainya. Padahal
semua prosedur sudah kita lalui,” jelas salah satu panitia dengan nada
kecewa.
Manajeman lalulintas perlu mendapat perhatian serius
Sampai saat ini, kasus kecelakaan lalu lintas (lakalantas)
masih cukup tinggi. Itulah sebabnya, manajemen lalu lintas, khususnya
darat, perlu dilakukan penataan lagi. Paling tidak untuk mengurangi
tingkat kecelakaan lalu lintas, khususnya pada momen-momen seperti
menjelang lebaran. “Tingkat kepadatan arus lalu lintas melonjak
drastis dibanding hari-hari biasa. Kedepan manejemen lalu lintas perlu
ditingkatkan untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas,” kata
Dirjen Perhubungan Darat Depertemen Perhubungan, Suroyo Alimoeso, saat
berkunjung ke Pacitan, Sabtu malam kemarin (10/10).
Penataan manejemen, lanjut Suroyo, mutlak diperlukan. Sebab, untuk
memberikan kenyamanan sekaligus keamanan pengguna jalan. Terlebih,
fakta di lapangan, angka kecelakaan di jalan raya masih cukup tinggi,
termasuk untuk tahun 2009 ini. Meski
jumlah korban jiwa menurun, tetapi persoalan kecelakaan lalu lintas masih
harus menjadi perhatian besar pada persiapan penyelenggaraan arus
mudik dan balik Lebaran di masa mendatang.
Sebagai ilustrasi, selama arus mudik dan balik lebaran saja, mulai
H-6 hingga H+3 sudah terjadi 1.444 kasus kecelakaan lalu lintas.
Ironinya, sebagian besar kasus kecelakaan saat mudik dan balik
melibatkan pengendara sepeda motor. Pasalnya, dalam beberapa tahun
ini, penambahan jumlah sepeda motor bertambah signifikan. Bahkan,
mudik menggunakan sepeda motor mulai menjadi trend. Padahal, menempuh
jarak yang sangat jauh. Disatu sisi, penambahan jumlah kendaraan tidak
diimbangi penambahan infrastruktur jalan berikut perangkat
pendukungnya. Disisi lain, kesadaran pengguna jalan raya masih cukup
rendah.
Karena itu, pihaknya terus mengupayakan perbaikan aturan main di jalan
raya. Salah satunya dengan terbitnya UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
nomor 22/2009. Dalam undang-undang itu, manajemen dan rekayasa lalu
lintas adalah serangkaian usaha dan kegiatan yang
meliputi perencanaan, pengadaan, pemasangan, pengaturan dan
pemeliharaan fasilitas perlengkapan jalan.
Tujuannnya, untuk mewujudkan, mendukung dan memelihara keamanan,
keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Pada arus mudik
dan balik lalu memang terjadi
kemacetan tetapi hanya pada ruas-ruas tertentu. “Itu terjadi karena
masih ada kelemahan informasi traffic di beberapa ruas,” ungkap
Soeroyo.
Sementara itu, terkait angkutan massal, Soeroyo mengatakan masih
mencukupi. Sebab, load factor (tingkat isian) angkutan baru mencapai
sekitar 90-an persen. Demikian juga dengan kereta api yang belum perlu
penambahan armada baru. “Tahun ini penumpang angkutan udara mudik naik
20 persen,” pungkasnya.
Gedung Galeri Alumnus SMAN I Pacitan segera diresmikan
Pembangunan gedung galeri alumnus SMAN 1 Pacitan, sudah
selesai dibangun. Bangunan yang dirancang menjadi monumen perjalanan
sekolah itu, kini tinggal menunggu diresmikan. Rencananya, galeri itu
diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelum akhir
tahun 2009 ini. “Bangunan fisik sudah selesai, tinggal menata isi
galeri,” kata Suroyo Alimoeso, salah satu alumnus SMAN I Pacitan,
Sabtu malam, kemarin (10/10).
Nantinya, gedung galeri akan dibuat semacam diorama. Hanya, untuk
urusan yang satu ini diperlukan tenaga konsultan layout ruangan agar
diorama lebih hidup. Tujuannya untuk memberi gambaran sekaligus
semangat bagi para murid-murid untuk belajar lebih giat.
Apalagi, lanjut Suroyo, sarana dan prasarana pendidikan dimasa
sekarang jauh lebih
mumpuni dibanding ketika ia bersekolah dulu. Diceritakan, dulu, untuk
belajar, siswa harus membawa bangku sendiri dari rumah. Bahkan, gedung
sekolah juga masih menumpang di balai kelurahan. “Jaman dulu
murid-murid ikut membuat batu bata dan mencari pasir untuk pembangunan
gedung sekolah,” kenang Suroyo, yang kini menjabat Dirjen Perhubungan
Darat.
Kedepan, galeri akan diisi dengan perjalanan sejarah sekolah, mulai
berdiri hingga seterusnya. Selain sejarah sekolah, materi pendidikan
juga akan mewarnai galeri. Diharapkan, hal ini bisa menjadi wahana
interaksi antara siswa-siswi SMAN 1 dengan sekolah lain. Bahkan jika
mungkin dengan para pelajar sederajat dari manca negara. Paling tidak,
sosialisasi antar pelajar bisa memupuk kembali rasa nasionalisme guna
membangun bangsa dari segi pendidikan.
Hal senada juga diungkapkan Subroto, salah satu alumnus SMAN I.
Diharapkan, seluruh lulusan, baik yang bermukim di Pacitan maupun
daerah lain untuk berpartisipasi mengisi galeri dengan karya-karyanya.
Sebab, karya-karya mereka sedikit banyak mampu menyumbang warna dan
member garis sejarah keberadaan sekolah itu. “Semua teman-teman
alumnus dari seluruh angkatan diharapkan memberikan sumbangsih
karyanya dalam betuk
apapun,” pintanya.
Mengenai dana pembangunan gedung, biayanya ditanggung bersama para
alumni maupun para donotur. Mulai awal hingga rampung, menghabiskan
anggaran total sekitar Rp
1 miliar.
Sebagai referensi, SMAN 1 Pacitan yang kini sudah genap berusia 46
tahun, sudah banyak menelorkan lulusan terbaik. Salah satunya adalah
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang
kini menjadi Presiden Republik Indonesia. Selain itu ada nama Suroyo
Alimoeso (Dirjen Perhubungan Darat), Sutarto (Dirjen Pertanian Tanaman
Pangan) dan masih banyak alumnus yang kini menjadi orang hebat. Baik
dijajaran birokrasi maupun pengusaha.
Formasi Lowongan CPNSD Kabupaten Pacitan 2009, Guru 40 Orang
PACITAN – Peserta rekruetmen Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD)
dari sarjana pendidikan harus bersaing ketat. Pasalnya, formasi tahun
ini, hanya membutuhkan 40 orang tenaga guru. “Pertimbangannya adalah
sudah berjalannya sistem penataan guru dan pembagian jam mengajar,”
kata Kabid Tenaga Pendidikan Dinas Pendidikan Pacitan, Widy Sumardji,
kemarin (10/10). Read the rest of this entry »
FKKD berharap Bupati baru bisa memanfaatkan tahun emas
PACITAN – Kendati masih tahun depan, wacana pilkada Bupati Pacitan,
sudah menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Terlebih sudah ada
beberapa kandidat yang disebut-sebuat bakal macung pilkada. Namun ada
kecenderungan, masyarakat tidak terlalu mementingkan kriteria maupun
komposisi pasangan bakal calon. “Pokoknya, siapapun bupati terpilih
nanti, harus benar-benar bisa membawa kemajuan riil bagi Pacitan,”
kata H. Djazuli. Ketua Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD), Kabupaten
Pacitan, Sabtu (10/10). Read the rest of this entry »
Isu gempa masih menghantui warga Pacitan
Hingga kemarin, sebagian warga masih mengaku was-was terkait
isu bakal terjadi gempa besar. Warga yang bermukim di pelosok
pedesaan, seperti di kawasan pegunungan kawatir terjadi longsoran.
Sedang yang di kawasan pantai mengkhawatirkan terjadinya tsunami.
Sebab, isu yang tersebar, gempa itu disebut-sebut berkekuatan 8 skala
richter lebih. “Sejak kemarin (8/10), warga sudah mendengar kabar akan
ada gempa. Hanya tidak jelas sumbernya,” kata Priyatno, warga Desa
Bungur, Kecamatan Tulakan, kemarin (10/10).
Dijelaskan, isu gempa itu justru didengarnya dari beberapa anak-anak
yang masih duduk di bangku sekoolah dasar (SD), yang kebetulan lewat.
Anak-anak itu tampak serius bakal terjadi bencana gempa. Bahkan, kapan
terjadinya juga jelas, yakni sekitar pukul 20.00 malam.
Kendati tidak jelas sipa sumber isu itu, namun sebagian beberapa
warga memperrcayainya. Tak pelak, mereka memilih berada di luar
ruangan. Seperti di teras maupun halaman rumah sejak sore hari.
“Biasanya jam-jam segitu warga melihat acara TV. Tetapi karena tak
terbukti, sekitar jam 21.00 mereka kembali masuk rumah,” papar
Hernawan.
Hal yang sama juga dikatakan Agus Wibowo, warga Dusun Cerbon, Desa
Cokrokembang, Kecamatan Ngadirojo. Mendengar ada kabar akan terjadi
gempa besar dan tsunami warga pun mulai bereaksi. Meski tidak sampai
tidur diluar rumah tetapi warga mengaku tidak tenang. “Begitu
mendengar kabar, warga kemudian keluar rumah,” jelasnya.
Isu gempa di Pacitan sendiri pertama kali diketahui muncul pada hari
Selasa (6/10) lalu. Sehari kemudian, Rabu (7/10) siang beradar pesan
singkat melalui handphone bahwa antara jam 13.00-14.00 akan terjadi
gempa bumi dan terakhir diketahui berhembus di wilayah Kecamatan
Tulakan.
Beredarnya isu secara terus menerus memantik berbagai spekulasi
dikalangan warga. Bahkan mereka mulai mengaitkannya dengan salah satu
agenda nasional yakni pelantikan Presiden dan Wakil Presiden tanggal
20 Oktober mendatang. Ditambah lagi muncul permberitaan rencana boikot
yang dilakukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada pelantikan nanti.
“Munculnya isu terus menerus terkesan ingin membuat kondisi masyarakat
tidak tenang,” ujar Mashudi, warga Kecamatan Tulakan. Read the rest of this entry »