Archive for November, 2009
Elemen Warga Usung Permasalahan ke Dewan
POLITIK PACITAN – Sekitar 30-an orang elemen warga dan LSM mendatangi gedung
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Pacitan, Selasa (17/11). Saat
memasuki gedung Dewan, warga membawa kertas manila bertuliskan
beberapa krtikan terkait persoalan yang dihadapi warga. Mulai
pembahasan APBD 2010, Jalan Lintas Selatan (JLS), wisata Teleng Ria
dan tambang timah di Desa Kluwih, Tulakan.
Hearing yang dimulai sekitar pukul 09.30 wib itu berlangsung alot.
Seperti diungkapkan Ashyar Subandy, Heri Bahtiar, yang mempertanyakan
Kebijakan Umum APBD (KUA) Prioritas dan Plafon Anggaran (PPAS).
Artinya, apakah kesepakatan yang dilakukan Pimpinan DPRD dengan Bupati
sudah prosedural dan sah dari kaca mata hukum.
Awalnya, perbedaan itu menyebabkan perdebatan sengit. Sebab, Ashyar
menilai penetapan KUA PPAS, yang ditetepakan Pimpinan Dewan periode
2004-2009, perlu dipertanyakan. Untuk menguatkan penilaiannya,
menyebut sejumlah aturan-aturan.
Tentu saja, Wakil Ketua DPRD, Gagarin, juga mengurai aturan yang
dijadikan dasar penetapan tersebut. Intinya, tidak ada satu pun pasal
yang mengatur secara jelas bahwa penetapan itu dilakukan melalui pleno
paripurna. Terlebih, semua tahapan sudah dilalui dalam proses
penetapan KUA PPAS.
Hal senada juga dikatakan Ketua DPRD Pacitan, Soetopo, karena sudah
ditandatangani antara Bupati dan Pimpinan DPRD, berarti sudah sah.
Hanya, mengenai kepastiannya masih akan dibahas sesuai masukan-masukan
dari anggota maupun elemen masyarakat. Terlebih, penandatanganan itu
dilakukan Pimpinan Dewan periode tahun lalu.
Suasana hearing menjadi seru setelah Wakil Ketua DPRD, Handoyo juga
ikut mempertanyakan sah tidaknya kesepakatan itu. Begitu juga dengan
anggota Dewan lainnya, Nur Sigit Efendy dan Pujo. Bahkan, ketiganya
setuju jika dilakukan konsultasi bersama-sama untuk memastikan bahwa
penadatanganan kesepakatan memiliki payung hukum yang kuat.
Wakil Ketua DPRD, Mardiyanto, juga mendukung masukan tersebut.
Terlebih, pembahasan APBD 2010 masih belum final. Artinya, masih ada
waktu untuk menindaklanjuti. Sehingga, pembahasan itu harus segera
dilakukan secepatnya. Sedang mengenai hasilnya, dikirim ke sejumlah
elemen masyarakat, termasuk LSM.
Dalam kesempatan itu, perwakilan warga Jetak, Kecamatan Tulakan,
Pacitan, juga mengungkapkan persoalan yang dihadapi warga. Khususnya
permasalahan ganti rugi tanah. Diantaranya, mengenai kesamaan harga
maupun ganti rugi tanaman produktif. Selain itu, elemen warga juga
mengusung kembali persoalan tambang timah di Desa Kluwih maupun
pengelolaan wisata Teleng Ria.
Rekruetmen Panwaslu Direncanakan Maret Depan
POLITIK PACITAN – Menghadapi pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah
(Pemilukada) Kabupaten Pacitan, tahun 2010 nanti, Komisi Pemilihan
Umum (KPU) setempat akan melakukan rekrutmen Panitia Pengawas
(Panwas). Namun, pelaksanaan itu akan dilakukan sekitar bulan Maret
tahun depan. KPU optimis, proses rekruetmen tidak akan berpolemik
seperti daerah lain. “Penjaringan dilakukan dengan mempertimbangkan
efektivitas kinerja Panwas,” kata Ketua KPUD, Damhudi, kemarin
(16/11).
Sebenarnya, sesuai permintaan KPUD Jawa Timur, proses penjaringan
calon anggota Panwas harus dilaksanakan awal 2010. Namun, karena
pelaksanaan Pemilukada Pacitan baru dihelat akhir tahun depan, maka
penjaringan Panwas pun ikut menyesuaikan.
Di Jawa Timur sendiri ada 18 Kabupaten yang akan menyelenggarakan
pemilihan selama tahun 2010. Dari jumlah tersebut dua daerah
melaksanakan pemilukada di penghujung tahun. Kedua daerah tersebut,
Kabupaten Pacitan dan Blitar. “Jika rekruetmen dilakukan bersamaan
dengan 16 daerah lain pada awal tahun, dikhawatirkan terlalu banyak
waktu yang terbuang sia-sia,” terangnya.
Lebih lanjut Damhudi menjelaskan, tahapan penjaringan dilakukan sesuai
prosedur yang ada. Misalnya, setelah berhasil menjaring 6 nama calon
anggota Panwas, pihaknya akan mengusulkan kepada Bawaslu untuk
dilakukan uji kelayakan dan kepatutan. Selanjutnya, Bawaslu akan
memilih 3 orang yang ditetapkan menjadi anggota Panwas Pemilu Kepala
Daerah.
Kendati rekruitmen calon anggota panwas baru akan dilaksanakan
pertengahan 2010, namun Damhudi optimis hal tersebut tidak memicu
permasalahan. Apalagi masa bhakti anggota panwas saat ini, akan
berakhir sekitar bulan Desember 2009.
Hanya, tidak menutup kemungkinan, panwas bias diperpanjang masa
tugasnya. Mengenai hal itu ada dasar peraturannya. Yakni, peraturan
Bawaslu nomor 15 Tahun 2009. Dalam peraturan itu, disebutkan bahwa
anggota Panwas Pemilu dan Presiden bisa diperpanjang kembali menjadi
pengawas pemilukada, selama masih memenuhi syarat. Selain itu jika
sesuai dengan apa yang diatur dalam UU nomor 22 Tahun 2007, tentang
penyelenggara pemilu. “Hanya, mengenai klausul masih memenuhi syarat
memperpanjang anggota Panwas menjadi Panwas Pemilukada, perlu ada
penjelasan,” terangnya.
Sesuai agenda KPUD Pacitan, tahap pendaftaran akan dilaksanakan antara
Juni hingga Agustus tahun 2010. Pelaksanaan pilkada sendiri akan
dilangsungkan sekitar bulan Desember tahun depan. “Mungkin kegiatan
KPUD secara resmi baru dimulai April, menunggu mandat dari DPRD,”
pungkas Damhudi.
Seribu Metrik Ton Batubara Nyaris Terbakar
RADIO PACITAN – Sekitar 1.000 metrik ton batubara yang diangkut kapal
tongkang di pantai Teleng Ria Pacitan, mulai berasap, kemarin.
Menyikpai kondisi itu, para Anak Buah Kapal (ABK) hanya bisa pasrah.
Selain sulit mengatasinya, asap yang menyebabkan suhu panas bisa
merusak kapal tongkang. “Sejak kemarin, asap batu bara mulai
terlihat,” kata Mahfud, salah seorang nelayan.
Kapal tongkang itu mulai terlihat memasuki perairan Teleng Ria sejak
dua minggu lalu. Persoalannya, cuaca di tengah laut kurang bersahabat.
Akibatnya, kapal tug boat KSA 08 yang berlayar dari Kalimantan ini
terpaksa melego jangkar. merapat di wilayah perairan Pacitan. “Jalur
pelayaran dinilai berbahaya sehingga diputuskan untuk berlindung.
Salah seorang anggota ABK mengungkapkan, kepulan asap terlihat pertama
kali dari bagian belakang muatan. Tetapi, semakin lama, kepulan asap
semakin bertambah. Dikawatirkan, jika tidak segera diatasi bisa
menyebabkan kebakaran. Hanya, upaya itu tidak mudah. Sebab, kalau
disiram pakai air laut, kepulan asap makin bertambah besar. Disisi
lain, tug boat sudah mulai kehabisan air tawar.
Dijelaskan, kebakaran diperkirakan terjadi lantaran batu bara terlalu
lama berada di tempat terbuka. Terlebih, kapal tug boat KSA 08 itu
merapat di wilayah perairan Pacitan sudah sepekan lebih. Kejadian
seperti itu, memang jarang terjadi. Andaikan, kapal tug boat penarik
tongkang berlindung di pantai lantaran kondisi cuaca di tengah laut
berbahaya, waktunya tak lebih dari sepekan.
Apalagi, suhu udara belakangan ini cukup panas. Tentunya, andaikan
muncul titik api, akan berakibat fatal. Artinya, sebagian besar muatan
sulit diselamatkan.
Hingga Selasa (17/11), kemarin, kepulan asap masih terlihat dari atas
tongkang bernama ATK 3701 tersebut. Rencananya, kapal akan kembali
berlayar tanggal 26 November nanti. Sementara ini, para ABK hanya
berkoordinasi dengan pihak perusahaan pelayaran di Kalimantan mupun
memberikan laporan ke pihak PLTU Cilacap. “Kita terus melakukan
koordinasi dengan perusahaan dan pihak PLTU Cilacap,” ungkap salah
seorang anggota ABK yang wanti-wanti tidak disebut namanya.
Belum diketahui pasti, apakah kapal akan melanjutkan perjalanan atau
masih menunggu lagi kondisi membaik. Sebab, selalin mempertimbangkan
cuaca laut, juga masih menunggu petunjuk dari perusahaan. Begitu juga
dengan dampak yang muncul. Artinya, tertahannya pasokan batu bara itu
akan mempengaruhi pasokan bahan bakar dan kinerja PLTU Cilacap.
Padahal, saat ini terjadi krisis listrik di berbagai wilayah di
Indonesia akibat tidak beroperasinya beberapa pembangkit tenaga
listrik karena rusak atau dalam pemeliharaan.
Seleksi Panwas Maret Tahun Depan
Radio Pacitan-Momen Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pacitan akan dihelat tahun
2010 mendatang. Meski demikian, KPU setempat memastikan penjaringan
Panitia Pengawas Pemilihan Kepala Daerah (Pamwaspilkada) baru akan
dilakukan bulan Maret 2010. Ini berbeda dengan permintaan KPU Jawa Timur
yang menjadwalkan penjaringan dilakukan serentak awal 2010.
Di Jawa Timur sendiri ada 18 Kabupaten yang akan menyelenggarakan
pemilihan selama tahun 2010. Dari jumlah tersebut dua daerah
melaksanakan pemilukada di penghujung tahun. Kedua daerah tersebut
adalah Kabupaten Pacitan dan Blitar.
Menurut Ketua KPU Pacitan Damhudi, keputusan tersebut sengaja diambil
untuk menjaga efektivitas kinerja Panwas. Sesuai jadwal, pentahapan
pemilu kepala daerah baru akan dimulai bulan Agustus. Jika rekruitmen
dilakukan bersamaan dengan 16 daerah lain pada awal tahun,
dikhawatirkan terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Damhudi menjelaskan, setelah berhasil menjaring 6 nama calon anggota
panwas, pihaknya akan mengusulkan kepada Bawaslu untuk dilakukan uji
kelayakan dan kepatutan. Dari jumlah itu/ nantinya akan dipilih 3
orang yang ditetapkan menjadi anggota Panwas Pemilu Kepala Daerah.
Kendati begitu, rekruitmen calon anggota panwas baru akan dilaksanakan
pertengahan 2010, namun Damhudi optimis hal tersebut tidak memicu
permasalahan. Apalagi, masa bhakti anggota panwas saat ini akan
berakhir bulan Desember 2009.
Tiga kecamatan di Kabupaten Pacitan dinyatakan ODF
KESEHATAN PACITAN-Paling lambat akhir tahun ini, tiga wilayah di Kabupaten
Pacitan, berstatus Open Devication Free (ODF). Ketiganya adalah
Kecamatan Pringkuku, Punung dan Donorojo. “Sampai saat ini ditiga
wilayah tersebut masih terdapat sekitar 5 persen masyarakat yang belum
terverifikasi ODF,” kata Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Pacitan Hendra Purwaka, kemarin.
Menurutnya, khusus kecamatan pringkuku, semua wilayahnya sudah
dinyatakan ODF. Sedangkan kecamatan Donorojo masih menyisakan satu
desa begitu juga dengan kecamatan Punung sebanyak dua desa. Pihaknya
optimis ketiga kecamatan yang dijadikan pilot project itu akan
terbebas dari buang air besar sembarang tempat akhir tahun ini.
Berbagai upaya pemicuan terus dilakukan, terutama pada kelompok
masyarakat yang belum tersentuh ODF.
Diakui Hendra, memang butuh waktu lama untuk merubah pola pikir
masyarakat. Dari proses pemicuan awal , verifikasi hingga monitoring
membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun. Baru pada tahun kedua
hasilnya mulai bisa dirasakan. Kedepan, program serupa juga akan
dikembangkan dikecamatan lain. Bahkan saat ini beberapa puskesmas
wilayah, mulai melakukan penjajagan program sanitasi total berbasis
masyarakat itu. “Ditargetkan dalam dua tahun mendatang seluruh wilayah
dikabupaten Pacitan dinyatakan ODF,” ujarnya.
Kecamatan Pringkuku, Punung dan Donorojo mulai menjadi proyek
percontohan sanitasi total dan pemasaran sanitasi (STOPs) pada tahun
2007.Selama dua tahun perjalanan berbagai tantangan dan persoalan
mulai bermunculan. Terlebih wilayah Pacitan bagian barat merupakan
daerah sulit air bersih dan rawan kekeringan. Dibutuhkan kesabaran dan
ketelatenan par kader untuk merubah kebiasaan masyarakat, dari BAB
sembarangan menuju BAB yang saniter.
Kaki Gajah, Penyebab Cacat Nomor Dua Setelah Kusta
KESEHATAN PACITAN-Meski tidak tergolong penyakit yang mematikan, namun
Elephantiasis/Filariasis (penyakit kaki gajah) patut diwaspadai.
Sebab, pada stadium puncak, penderita tidak lagi bisa beraktifitas
karena munculnya pembengkakan di beberapa bagian tubuh yang terserang.
Seperti kaki, tangan dan bahkan beberapa organ vital luar lainnya.
“Pada stadium 7, praktis penderita tidak bisa beraktifitas, dan
dicatat menjadi penyebab kecacatan ke 2 setelah kusta,” kata Staf
Subdit Filariasis Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan (Depkes), Helena di Pacitan,
kemarin.
Dari hasil pengamatan sementara, di wilayah Pacitan ditemukan 6 orang
penderita kaki gajah yang berasal dari dua kecamatan, yakni Kecamatan
Kebonagung dan Kecamatan Donorojo. Di Kecamatan Kebonagung, ada 3
orang penderita. Satu orang ditemukan di Desa Sidomulyo dan 2 orang
lainnya di Desa Kalipelus. Namun satu orang penderita diketahui telah
meninggal. Sedangkan di Kecamatan Donorojo, penderita di temukan di
Desa Belah (2 orang) dan Desa Widoro (1 orang). “Tetapi meninggalnya
bukan karena penyakit kaki gajah, tapi karena penyakit lainnya,” tukas
Helena.
Sesuai rencana tim survei akan melaksanakan kegiatannya selama 3 hari
terhitung sejak Kamis (12/11) kemarin. Sebanyak 1.000 warga akan
dijadikan sampel. Hingga hari ini, tim baru menyelesaikan separuh dari
jumlah total populasi sampel. Dari hasil survei tersebut nantinya akan
diketahui daerah tersebut menjadi endemis penyakit kaki gajah atau
tidak. Penderita kaki gajah sendiri di Pacitan diketahui pertama kali
ada pada tahun 1991 dan telah dilakukan pengobatan secara selektif.
“Daerah jadi endemis filariasis jika jumlah penderita yang ditemukan 1
% dari total populasi sampel,” terang Helena.
Di Propinsi Jawa Timur sendiri, dari survey di 30 kabupaten/kota,
ditemukan sekitar 300 kasus Filariasis. Jumlah temuan terbanyak ada di
Kabupaten Lamongan, yakni 40 kasus lebih. Disusul berturut-turut
Malang dengan 30 kasus dan kemudian Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan
data pemetaan Subdit Filariasis dan Schistosomiasis Depkes antara
tahun 2002 sampai tahun 2005, daerah endemis sebagian besar berada di
Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan dari hasil survei cepat
tahun 2000, sebanyak 6.233 orang menjadi penderita kronis Filariasis.
Helena mengatakan, bagi orang awam, gejala awal penyakit kaki gajah
memang terlihat seperti gejala pada penyakit demam biasa. Penderita
akan merasakan demam, panas dan kelenjaran di lipat paha. Media
penyebarannya melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva
stadium 3. Pada saat menggigit manusia, maka larva akan tinggal di
kulit sekitar lubang bekas gigitan. Ketika nyamuk menarik probosisnya
(belalai untuk menghisap darah), larva akan masuk melalui bekas lubang
gigitan. “Perkembangannya terjadi dalam waktu yang cukup lama
(bertahun-tahun),” paparnya.
Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial
yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Sementara,
hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus
Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres yang dapat berperan
sebagai vector penular penyakit kaki gajah. Selain faktor tersebut,
lingkungan juga berperan menjadi media penyebaran penyakit tersebut.
Misalnya wilayah persawahan, rawa-rawa, genangan air dan lain
sebagainya, sebagai tempat berkembang biak nyamuk.
Lebih lanjut Helena menjelaskan, penyakit yang disebut “terlupakan”
ini juga berdampak secara ekonomis. Penderita yang telah berada pada
stadium puncak (stadium 7) praktis tidak akan bisa beraktifitas dan
hanya menjadi beban keluarga. Dicontohkannya, jika penderita adalah
seorang petani, ketika kondisinya semakin parah, maka ia tidak akan
mampu bekerja dan mencari nafkah bagi keluarganya. “ Penyakit ini juga
termasuk yang “memiskinkan” bagi masyarakat,” jelasnya.
Pelamar CPNS Pacitan menurun
CPNS PACITAN – Hingga Sabtu (14/11) kemarin, Badan Kepegawaian Daerah (BKD)
mengirimkan surat panggilan tes bagi peserta Calon Pegawai Negeri
Sipil (CPNS) yang memenuhi syarat melalui kantor pos. “Panggilan
langsung kami distribusikan. Jumlahnya, sekitar 900-an. Kalau jumlah
total pelamar CPNS yang mendapat panggilan, kami tidak tahu,” kata
Kepala Kantor Pos Pacitan, Totok Sumanto, Kemarin.
Dijelaskan, jumlah keseluruhan pelamar yang masuk BKD sebanyak 6.382
lamaran. Jumlah tersebut, sebanyak 3.425 melalui kantor pos Kota.
Sedang 1.958 berasal dari luar Kabupaten Pacitan. Sedang jumlah
lamaran yang melalui kantor pos di kecamatan, sangat bervariasi.
Dengan rincian, Kecamatan Ngadirojo sebanyak 219 lamaran, Punung 595
lamaran, Arjosari 115 lamaran dan Kecamatan Tulakan sebanyak 70
lamaran.
Diakui, jumlah pelamar dalam rekruetmen CPNS tahun 2009 ini, menurun
dibanding tahun lalu. Bahkan, tahun lalu, jumlah pelamar yang melalui
Kantor Pos Kota saja jumlahnya mencapai 7 ribuan. Jumlah itu belum
terhitung lamaran dari kecamatan-kecamatan maupun dari kabupaten lain.
Menurunnya jumlah pelamar, lanjut Totok disebabkan beberapa hal.
Tetapi, penyebab paling dominant adalah formasi CPNS. Sebab, tahun
lalu, formasi guru, jumlahnya sangat banyak. Sedang tahun ini hanya 40
kursi. Disisi lain, juga ada formasi teknis yang tidak banyak
peminatnya. “Coba kalau ada formasi tingkat SMA seperti Kabupaten
Trenggalek, jumlah pelamar pasti membludak”.
Mengenai pelaksanaan selama pendaftaran hingga panggilan tes, pihaknya
tidak menemui kesulitan. Selain sudah dipersiapkan jauh hari, petugas
juga berpengalaman mengatasi pendaftaran CPNS. Terlebih, waktu
pendaftaran cukup longgar, yakni sekitar dua minggu. Dan biaya pos
sebesar Rp 7.500 sudah ditentukan dari Pusat.
Dihubungi secara terpisah, Kasubid Pengadaan dan Pemberhentian BKD
Pacitan, Misranto, mengatakan, proses seleksi panggilan peserta tes
CPNS masih belum final. Hingga kemarin, petugas masih terus melakukan
koreksi terhadap lamaran yang masuk melalui pos. “Mudah-mudahan, besok
Minggu (15/11), semua koreksi sudah selesai,” kata Misranto.
Hujan Mulai Turun, Petani Lega
PERTANIAN PACITAN – Sejumlah petani di Kecamatan Donorojo, Pacitan, mulai
beranfas lega. Pasalnya, mulai Selasa (10/11) malam, kemarin,
wilayahnya diguyur hujan selama beberapa jam. Kendati curah hujan
masih rendah, diharapkan bisa menyelamatkan benih padi gogo rancah
yang sudah terlanjur ditanam sekitar satu bulan lalu.
Paling tidak, di kecamatan barat Pacitan itu, ada empat desa yang
sejak satu bulan lalu tanam padi gogo. Diantaranya, Desa Widoro,
Sendang, Kalak dan Desa Klepu. Tentu saja, lantaran kekurangan
kebutuhan air, tanaman padi setinggi sekitar 25-an sentimeter itu pun,
daunnya mulai menguning. Bahkan, sebagian diantarannya mati.
“Mudah-mudahan kembali turun hujan,” ungkap Jumingan, salah seorang
petani setempat.
Diakuinya, kendati sudah turun hujan, namun masih belum membuat tanah
di area persawahan basah. Sehingga, belum melakukan penyulaman bibit.
Sebab, jika pasokan air kurang, dikawatirkan juga akan mati.
Memang, kondisi alam di desa-desa tersebut sangat gersang. Artinya,
petani sangat kesulitan mendapatkan sumber air. Padahal, jika ada
sumber air, petani bisa menyedotnya menggunakan mesin diesel. Sedang
pembelian air dari PDAM untuk pengairan jelas tidak memungkinkan.
Karena itu, para petani memperkirakan, produksi panenan kali ini akan
menurun. Kendati begitu, tidak terlalu menjadi soal. Terlebih. Hasil
panenan tersebut kebanyakan dikonsumsi sendiri. Paling tidak, bisa
mencukupi hingga musim panen berikutnya. Sebab, terkadang, warga
mencampur dengan gaplek (ketela yang dikeringkan dan dibuat nasi
tiwul). “Kalau masalah pangan tidak sampai kekurangan, Mas,” terang
Jumingan.
Camat Donorojo, Hariyanto, membenarkan sebagian padi yang ditanam
petani mengalami kesulitan air. Persoalannya, saat hujan pertama dulu,
petani langsung menanam padi gogo rancah. Sayangnya, setelah itu tidak
lagi turun hujan hingga satu bulan. Tentu saja, hal itu berdampak pada
pertumbuhan tanaman padi.
Kondisi seperti itu sudah terjadi sejak jaman dulu kala. Artinya,
setiap musim kemarau, wilayahnya pasti mengalami kesulitan air,
khususnya untuk konsumsi lahan pertanian. Pun demikian, warga sudah
melakukan berbagai antisipasi terkait persedian bahan pangan.
Sehingga, belum pernah terjadi adanya kekurangan pangan yang dialami
warga. Hanya, dari sisi ekonomi, petani mengalami kerugian.
Seharusnya, hasil panenan banyak menjadi berkurang. Begitu juga ada
yang harus tanam ulang lantaran banyak padi yang mati atau tidak
sehat. “Kalau mengenai benih ada bantuan dari pemerinah yang
disalurkan melalui kelompok-kelompok tani yang ada,” pungkasnya.
Bangun Jembatan, Buka Isolasi Desa Perbatasan
BERITA PACITAN-Ternyata, kerja sama pembangunan di wilayah perbatasan
berdampak signifikan terhadap kesejahteraan warga setempat. Paling
tidak, terobosan itu menjadi salah satu solusi mengurangi angka
kemiskinan dan pengangguran. Seperti kerja sama yang dilakukan antara
Pemkab Pacitan dan Wonogiri, yang diwujudkan dalam pembangunan
jembatan di Dusun Ngamban, Desa Donorojo, Kecamatan Donorojo, Pacitan.
“Tujuan pembangunan jembatan bersama itu untuk membuka isolasi daerah
perbatasan,” kata Kabag Kerja Sama Perbatasan Setda Pacitan, Warito,
usai meninjau pembangunan jembatan, kemarin.
Kerja sama itu sudah lama dilakukan. Hasilnya, kedua pemkab sepakat
membangun jembatan yang menghubungkan Desa Donorojo (Pacitan) dan
Dusun Pundung Elor- Kidul, Desa Jeblokan, Kecamatan Karang Tengah,
Wonogiri. Diharapkan, jembatan ‘pendem’ sepanjang 30 meter itu, mampu
membuka isolasi Desa Jeblokan.
Dijelaskan, selama ini, Desa Jeblokan boleh dibilang terisolir. Sebab,
untuk mencapai kota kecamatan, harus menempuh jarak 22 kilomter.
Sedang menuju kota Kabupaten Wonogiri sejauh 50-an kilometer. Padahal,
selama ini, kehidupan masyarakatnya, baik ekonomi, pendidikan dan
kesehatan, lebih condong ke Donorojo yang jaraknya relative dekat.
Hanya, upaya itu tidaklah mudah. Sebab, kedua desa yang terletak di
dua kabupaten itu, terpisahkan oleh sungai. Sehingga, jika musim
kemarau bias dipergunakan warga melintas Desa Donorojo. Sebaliknya,
jika musim penghujan, warga kesulitan lantaran sungai banjir.
“Solosinya adalah dibangun jembatan. Alhamdulillah, sekarang sudah
selesai pembangunannya,” imbuh Warito.
Pembangunan jembatan yang menghabiskan anggaran Rp 150 juta itu
ditanggung Pemkab Pacitan dan Wonogiri. Bahkan, pembangunannya juga
dikerjakan separo-separo. Artinya, 15 meter dikerjakan Wonogiri dan 15
meter lainnya dikerjakan Pacitan.
Keberadaan pembangunan jembatan pun disambut antusias warga. Sebagai
wujud kepedulian, warga Dusun Ngamban memberikan tanahnya tanpa ganti
rugi untuk pelebaran jalan. Sehingga, jalan pun menjadi lebar dan
semakin melancarkan lalu lintas di jalan desa itu. “Jika ditotal, luas
lahan milik warga yang diberikan secara suka rela seluas 18 ribu
meter persegi atau sekitar 2 hektar. “Rencananya, Sabtu (14/11) lusa,
jembatan akan diresmikan”.
Lebih lanjut, Warito mengungkapkan, kerja sama serupa juga dilakukan
dengan Ponorogo dan Trenggalek (Patron). Dimana, kerja sama itu lebih
menitik beratkan sektor pekerjaan umum, kesehatan dan pendidikan.
Selain itu, kerja sama yang lebih luas juga dijalin dengan
Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Magetan, Ngawi dan Ponorogo (Karisma
Pawidirogo). “Kerja sama ini luas sekali. Termasuk produk unggulan,
pariwisata dan sektor ekonomi lainnya,” papar Warito.
Ada beberapa alasan terjalinnya kerja sama tersebut. Salah satunya
adalah didasari kesamaan kondisi geografis. Sebab, ketujuh kabupaten
yang menandatangi kesepakatan kerja sama berada di jalur selatan Pulau
Jawa, terkesan termarginalkan di banding kawasan utara (Pantura).
Apalagi, selama ini, daerah perbatasan dikenal menjadi kantong-kantong
kemiskinan. Sebab, daerah yang berada di pinggiran sering terlupakan
dari program pembangunan. Khususnya, berbagai infrastruktur yang sudah
dibangun, masih jauh dari mencukupi.
Tekan Angka Lakalantas, Gelar Sepeda Onta
LALU LINTAS PACITAN – Banyak cara dilakukan menekan angka kecelakaan lalu-lintas
(lakalantas) di jalan raya. Baik melalui penyebaran pamlet, penyuluhan
langsung, sosialisasi maupun melalui sebuah kegiatan. Seperti yang
dilakukan jajaran Satlantas Polres Pacitan, Minggu (8/11), pagi,
kemarin.
Agar sosialisasi tertib berlalulintas di jalan raya kena sasaran,
Satlantas Polres Pacitan, menggelar sepeda onta. Tak pelak, acara yang
juga dirangkai dengan peringatan hari Pahlawan, 10 November itu,
mendapat sambutan antusias ratusan orang penghoby sepeda kuna.
Apalagi, hadiah kegiatannya juga unik. Selain terdapat 60-an
doorprise, juga ada hadiah utama 3 unit sepada onta. “Hampir semua
penghoby sepada onta dibeberapa kecamatan di Pacitan, mengikuti
kegiatan itu,” kata Kasatlantas Polres Pacitan, AKP Sudarhanto, Minggu
(8/11).
Sepeda santai ‘onta’ itu mengambil start alon-alon Kota, melewati Jl.
A. Yani, Cuwik, masuk kawasan wisata Teleng Ria. Setelah sesaat
menikmati keindahan pantai, sepeda onta dilanjuktan menuju Barean,
Sidoarjo dan finish di alon-alon. “Dulu, saat berjuang, para pahlawan
juga banyak menggunakan sepada onta untuk mobilisasi,” terang
Sudarhanto.
Dijelaskan, acara itu bukan sekedar sepeda santai dengan melibatkan
paguyuban sepeda onta yang ada. Tetapi, merupakan salah satu terobosan
dalam upaya mengajak masyarakat, khususnya pengendara sepeda ontel
untuk tertib di jalan raya. “Kalau sosialisasi bagi anak-anak sekolah
sering dilakukan saat kegiatan upacara bendera,” imbuhnya.
Sosialisasi tertib di jalan raya bagi pengendara sepeda ontel
didasarkan pada angka laka lantas yang masih cukup tinggi. Paling
tidak, dari jumlah 161 kasus laka (Januari sampai Okober 2009), tiga
puluh persen diantaranya melibatkan pengendara sepeda ontel.
Memang, penyebab laka lantas sangat komplkes. Namun,salah satunya
adalah kurang tertibnya berlalulintas di jalan raya. Misalnya, saat
mengendarai harus merada di jalur kiri. Jika hendak belok, harus
berhenti atau menoleh ke belakang, untuk memastikan suasana aman.
Persoalannya, jumlah kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor, dari
bulan ke bulan cukup banyak. Berdasarkan data di Satlantas, penambahan
kendaraan sepeda motor sekitar 800 unit setiap bulannya. Disisi lain,
penambahan kendaraan bermotor yang signifikan, tidak diikuti dengan
infrastruktur yang ada. Sehingga, jalur lalu lintas pun menjadi
relatif ramai.
Memang, dibanding dengan daerah lain, kasus laka di Kabupaten Pacitan
masih relatif rendah. Bahkan, dari tahun ke tahun jumlahnya terus
mengalami penurunan. Sebagai referensi, tahun 2008 lalu, terjadi 200
laka lantas. Sedang tahun ini (hingga awal November 2009), tercatat
161 kasus laka lantas. Dengan rincian, meninggal dunia (MD) 22 jiwa,
luka berat (LB) 32 jiwa dan sisanya luka ringan (LR). “dari jumlah
laka lantas, sepertiganya melibatkan kendaraan bermotor dengan sepeda
ontel,” pungkas Kasatlantas.