Archive for November, 2009

Hujan Tak Kunjung Turun, Petani Tadah Hujan Mulai Resah

PERTANIAN PACITAN - Sejumlah petani di Kabupaten Pacitan mulai resah. Pasalnya,
saat ini, curah hujan tidak menentu. Tak pelak, sebagian petani pun
memilih hati-hati memulai tanam padi. “Biasanya, pertengahan Oktober,
curah hujan mulai banyak. Sekarang kok aneh ya,” ujar Jumingan, salah
seorang warga Donorojo, Pacitan, kemarin.
Padahal, tahun-tahun sebelumnya, memasuki awal November seperti saat
ini, tanam padi sudah memasuki usia 20 sampai 25 hari. Sekarang, belum
turun hujan sama sekali. Kemarin, pernah ada hujan. Tetapi, hanya tiga
hari dan curahnya sangat kecil sekali. “Jika saat turun hujan lalu
petani tanam padi, sekarang pasti rugi. Banyak persemaian yang mati,”
imbuhnya.
Padahal, sejumlah petani, khususnya petani sawah tadah hujan sudah
memulai mengolah tanah pada pertengahan Oktober lalu. Bahkan, tidak
sedikit diantaranya yang menanam benih padi ‘gogo rancah’. Sedang
sebagian lainnya memulai awal November ini. Hanya, mereka sama-sama
mengaku resah lantaran hujan tak kunjung datang.
Menyikapi curah hujan yang tidak menentu saat ini, sebagian besar
petani memilih menunda tanam padi sampai curah hujan berjalan pasti.
Hal itu dilakukan agar kegiatan tanam padi tidak merugi. Sebab, dulu,
juga pernah terjadi musim tidak menentu. Lantaran latah tanam padi,
akibatnya sejumlah petani mengalami kerugian. Ada yang tanam baru
lantaran banyak bibit padi mati kekurangan air.
Sedang untuk areal pertanian yang irigasinya sudah bagus, juga belum
berani memulai membajak sawah. Sebab, kegiatan itu harus didukung
suplai air yang memenuhi. Sebenarnya, pemenuhan air bisa diatasi
dengan menggunakan diesel penyedot air dengan membuatkan sumur di
sawah. Hanya, petani juga berhitung dengan biaya yang dikeluarkan
untuk sewa diesel tersebut.
Sementara, sebagian petani di kawasan barat, sudah memulai tanam benih
padi gaga. Hanya, mereka tidak mengkhawatirkan belum adanya turun
hujan. Sebab, benih padi gaga itu ditanam dengan kedalaman tertentu di
tanah. Artinya, jika tidak dimakan burung atau semut, benih masih bisa
tumbuh seiring dengan datangnya musim penghujan. “Mulai tanam benih
padi, belum ada hujan. Sehingga benih belum bersemai,” terang Hendro.
Itulah sebabnya, sebagian besar petani di wilayah barat kebanyakan
memimilih menanam padi gogo rancah, lantaran relatif lebih tahan
terhadap kekurangan air. Sebagian lagi juga masih memilih tanam
palawijo. Namun begitu, jika benih padi sudah bersemai dan selama dua
minggu tidak hujan, tanaman gogo rancah petani juga terancam mati atau
gagal panen.

padi tadah hujan

Diproyeksikan Sebagai Lumbung Atlet PABBSI

OLAH RAGA PACITAN – Pacitan bakal diproyeksikan sebagai lumbung atlet angkat
besi, binaraga dan angkat berat di Jawa Timur. Pertimbangannya,
sejumlah atlet nasional yang berasal dari Sumatera dan Kalimantan,
merupakan keturunan orang-orang Pacitan. “Sekarang ini sudah ada
embrionya dan dipusatkan di Kecamatan Punung,” kata Sekretaris Umum
Persatuan Angkat Berat Binaraga dan Angkat Berat Seluruh Indonesia
(PABBSI) Jatim, Suswanto, saat berkunjung ke Pacitan, kemarin (7/11).
Diakui, kondisi alam Pacitan yang bergunung, memang sangat menunjang
bagi olahraga berat itu. Artinya, sejak kecil, struktur urat-urat di
dalam tubuh sudah terbentuk menghadapi kondisi medan yang berat.
Kondisi itu, jika ditunjang dengan pelatihan secara benar, pola makan
yang sehat, didukung sarana mencukupi dan pengurus yang solid, akan
mendorong berkembangnya angkat besi di daerah itu.
Kepala Sekolah SMKN I Sidayu, Gresik ini, sudah melakukan pengamatan
secara mendalam di Pacitan, khususnya di Kecamatan Punung. Paling
tidak, saat ini, sudah ada sekitar 19 orang atlet junior dibeberapa
kelas. Beberapa diantaranya pernah tampil diajang Popnas Yogya maupun
berprestasi di tingkat nasional.
Salah satu atlet juniornya, Diki Permana,18, menjadi salah satu atlet
nasional yang dikirim ke Thailand (kejuaraan angkat besi tingkat
Asia), yang berlangsung mulai tanggal 2 sampai 11 November. Pelajar
kelas 3 SMA ini tampil di kelas 50 kilogram. Hanya, belum berhasil
menorehkan prestasi maksimal. Sebab, dari 50 orang perserta, atlet
asal Pacitan itu berada diurutan ke 13. “Dengan berlatih seadanya
sudah mampu berbicara di tingkat Asia. Jika digembleng maksimal, tentu
akan semakin berprestasi”.
Realita itulah yang menjadi pertimbangan PABBSI Jatim, menjadikan
atlet Pacitan sebagai salah satu lumbung, yang akan diproyeksikan
dalam kejuaraan PON 18 di Riau, tahun 2012 nanti. “Atlet sudah ada,
tempat latihan sudah layak, tinggal membentuk kepengurusan yang
solid,” tandas mantan Kasi Olahraga Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik
ini.
Dengan terbentuknya kepengurusan yang solid, tentu akan semakin
memotivasi semangat atlet untuk menjadi yang terbaik. Sebab, selama
ini, para atlet cenderung berlatih apa adanya. Baik sarana latihan
maupun tim pelatihnya. Jika kepengurusan terbentuk, pihaknya juga akan
mencarikan pelatih yang berkualitas. Sehingga, target mencetak atlet
junior berprestasi akan terealiasi.

angkat besi pacitan

Pariwisata Masih Menjadi Primadona Mendulang PAD

PARIWISATA PACITAN – Kendati megalami pasang surut, sektor pariwisata masih
menjadi primadona bagi Kabupaten Pacitan. Pasalnya, tahun ini,
pariwisata memasok Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup signifikan,
yakni Rp 900 juta lebih. Diperkirakan, hingga akhir tahun, bakal
tembus Rp 1 milyar. “Masih ada momen liburan Natal dan akhir tahun,”
kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga
(Disbudparpora), Pacitan, M. Fathoni, kemarin (7/11).
Secara umum, perolehan pendapatan itu mengalami over target. Dari
target Rp 500 juta, hingga akhir Oktober tahun ini, sudah terealisasi
Rp 636 juta. Jika ditambah perolehan kontrak dari PT. El John sebesar
Rp 300 juta, totalnya mencapai Rp 936 juta. Itulah sebabnya, tahun
ini, Disbudparpora berani memprediksi pendapatan total mencapai Rp 1
milyar.
Diungkap, over target itu hamper terjadi disemua obyek wisata. Pantai
Tamperan (dari target Rp 19 juta terealisasi Rp 34 juta), Pantai Srau
(target 34 juta terealisasi Rp 43 juta), Pantai Klayar (target Rp 9
juta terealisasi Rp 13 juta), Pantai Taman (target 4 juta terealisasi
Rp 6 juta). Hanya Pancer Door (Teleng Ria sebelah timur) yang tidak
memenuhi target. Dari target Rp 3 juta terealisasi Rp 500 ribu.
Persoalannya, di kawasan baru itu masih belum dibangun fasilitas
penunjang.
Kenikan signifikan juga dialami obyek wisata non pantai. Goa Gong,
dari target Rp 242 juta terealisasi Rp 337 juta. Bahkan, Goa Tabuhan,
yang semula hanya dipatok Rp 4 juta, meroket mencapai Rp 51 juta.
Sedang pemandian Air Hangat ditarget Rp 124 juta terealisasi Rp 135
juta.
Pejabat yang dikenal koboi karena penampilannya ini, mengungkapkan,
realita itu menunjukkan industri pariwisata mulai pulih. Memang, dulu,
sektor ini sempat mencapai masa keemasan. Namun, pasca rangkaian
pemboman teroris dan bencana tsunami Aceh, mengalami penurunan tajam.
“Industri pariwisata dan sektor pendukung lainnya kembali bergairah,”
imbuhnya.
Diakui, selain iklim yang semakin membaik, pencapaian itu juga tidak
terlepas usaha satkernya gencar melakukan promosi maupun mencari
terobosan-terobosan. Bahkan, dalam melakukan promosi, juga sudah mulai
memanfatkan jasa even organizer. Baik local maupun luar Kota.
Mulai tahun ini, pihaknya juga mencari terobosan melalui kerja sama
tiga daerah Pacitan-Wonogiri-Wonosari (Pawonsari). Kerja sama yang
dibangun bersama sejumlah biro perjalanan wisata asal Yogyakarta dan
Solo itu, dengan menggulirkan program paket wisata. “Kemarin, paket
wisata itu sudah dimulai selama tiga hari”.
Hari pertama, rombongan wisata yang berjumlah sekitar 60-an orang itu,
dimanfaatkan menikamti potensi wisata dan suguhan makanan khas di
Wonosari (Gunung Kidul). Diantaranya, menikmati keindahan gunung api
purba, lembah kars mulo, maupun pantai sandak, yang kemudian
diteruskan menginap di Wonogiri.
Selain mendapatkan menu hiburan khas daerah, rombongan wisatawan juga
diajak mengunjungi obyek wisata kwasan kars, goa putri kencana, waduk
gajah mungkur, pantai nampu dan sembukan, yang diteruskan perjalanan
ke Pacitan. Di kampong halaman Presiden SBY ini, rombongan diajak
menginap di desa wisata, Desa Piton (Kecamatan Punung). Di desa itu,
wisatwan menginap di rumah-rumah penduduk, dengan hiburan malam
penampilan langen beksa.
Rangkain kunjungan wisata dimulai song terus, gua tabuhan, museum pra
sejarah dan dilanjutkan menikmati makan siang di pantai Teleng Ria.
Selanjutnya, rombongan diajak melihat rumah kecil Presiden SBY,
pemandian banyu anget dan berakhir di monument Pansar Jend. Sudirman.

4 formasi kurang diminati dalam CPNS Kab. Pacitan 2009

CPNS PACITAN – Sedikitnya, empat bidang yang dibuka dalam formasi pengadaan
CPNS Kabupaten Pacitan, pada tahun anggaran 2009 ini, kurang diminati
pelamar. Keempat bidang itu adalah sanitarian, analis hukum, pengawas
benih tanaman dan analis kesehatan lingkungan. Terbukti, hingga Kamis
(5/11), kemarin, sekitar pukul 07:00 WIB, keempat formasi itu belum
satupun yang dipilih pelamar.
Data hasil pemeriksaan berkas lamaran CPNS sementara yang dilakukan
panitia/tim seleksi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten
Pacitan, keempat posisi tersebut masih nol pelamar. Artinya, belum ada
satu pun pelamar yang mengambil keempat bidang tersebut.
Hal itu berbeda dengan formasi untuk guru pendidikan jasmani dan
rohani (penjaskes). Dalam bidang ini, sudah tercatat pelamar sebanyak
155 pendafta. Begitu juga dengan formasi tenaga kesehatan untuk posisi
perawat, tercatat jumlah pendaftar mencapai 657 orang pelamar.Namun,
Sekretaris BKD Pacitan, Abdullah, menolak jika keempat bidang formasi
yang masih kosong itu kurang diminati pelamar. Alasannya, masa
pendaftaran masih sekitar empat hari lagi atau pendaftaran dibuka
hingga tanggal 9 November (cap pos Pacitan).
“Nanti jika masa pendaftaran berakhir baru akan ketahuan apakah ada
formasi yang kurang diminati atau tidak. Tapi memang empat posisi yang
kosong itu mungkin disebabkan pelamar yang memiliki kualifikasi
seperti dipersyaratkan tidak banyak,” kata Abdullah.
Sementara, hingga Kamis (5/11) kemarin, sekitar pukul 07:00 WIB, total
jumlah lamaran yang telah masuk ke panitia (kantor BKD Pacitan)
tercatat telah mencapai 3.148 orang pendaftar. Dari jumlah tersebut,
lamaran yang memenuhi syarat baru 1.960 berkas. Selebihnya ada yang
belum terkoreksi dan ada pula yang telah terkoreksi tapi tidak
memenuhi persyaratan. “Lamaran yang ‘TMS’ (tidak memenuhi syarat)
cukup banyak. Tapi kami belum bisa menyampaikan jumlah pastinya karena
lamaran yang dinyatakan ‘TMS’ di tingkat tim seleksi masih akan
diperiksa ulang oleh inspektorat,” kata Abdullah.
Perlu diketahui, sesuai keputusan BKN, total formasi CPNS Kabupaten
Pacitan yang dibuka tahun anggaran 2009 ini adalah 418. Dengan
rincian, kebutuhan untuk tenaga guru sebanyak 40 orang, tenaga
kesehatan 263 orang, dan tenaga teknis lainnya sebanyak 115 orang.
Dari sejumlah formasi yang dibuka itu, posisi yang paling banyak
diminati pelamar secara berurutan adalah tenaga perawat (657 pelamar),
bidan (262 pelamar), guru penjaskes (155 pelamar), IT/komputer (137
pelamar), keuangan (124 pelamar), dan apoteker (111 pelamar).

BKD pacitan, BKDPACITAN, formasi cpns administrator kesehatan pacitan, kekurangan pendaftar cpns guru ekonomi

Pasangan Selingkuh Digerebeg Warga

KRIMINALITAS PACITAN- Sebusuk-busuknya bangkai pasti tercium juga. Begitulah
peribahasa yang pas bagi pasangan selingkuh YY,43, dan KN,40. Betapa
tidak, selama ini, kedua pasangan itu selalu melancarkan strategi
gerilya. Tetapi, keduanya tak pernah menyadari jika beberapa pasang
mata warga terus mengawasi aksi bejadnya. Kilmaksnya, saat asyik
berkencan ria, warga beramai-ramai datang menggerebegnya. Tidak itu
saja, warga pun menggiring keeduanya ke rumah ketua RT setempat.
Tentu saja, penggerebegan perselingkuhan di sore hari, Rabu (4/11),
kemarin, membuat geger warga Kelurahan Pucangsewu, Kec./Kab. Pacitan.
Bahkan, persoalan itu pun semakin panjang. Bukan lantaran keduanya
sudah sama-sama punya keluarga. Tetapi, YY adalah salah seorang
Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemkab Pacitan. Akibatnya, warga
pun menghubungi petugas Satpol PP setempat.
Sejumlah warga setempat menuturkan, kisah asmara itu, sebenarnya sudah
berjalan cukup lama. Tetapi, warga hanya sebatas mengawasi saja. Warga
berharap, kedua segera mengakhiri hubungan terlarang itu. Tetapi,
semakin lama, keduanya malah semakin menjadi. Klimaksnya, saat YY
menungui rumah ibunya yang kosong lantaran ditinggal mengunjungi
kerabatnya di Kecamatan Arjosari. Kesempatan itu pun tidak
disia-siakan YY. Terbukti, tak lama kemudian KN datang lalu masuk ke
dalam rumah ibu pasangan selingkuhnya.
Memang, selama ini, YY boleh dibilang kesepian. Sebab, suaminya yang
pengrajin kayu kerap bepergian. Rupanya, hal itu membuat jatah
biologisnya kurang terpenuhi. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Salah
seorang tetangga desa, KN, menaruh simpati pada YY. Tak pelak, setiap
ada kesempatan, keduanya pun sering menjalin hubungan.
Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Pacitan, Supomo,
membenarkan kejadian itu. Sebagai aparat penegak disiplin dijajaran
birokrasi, pihaknya sangat menyayangkan kejadian itu. Apalagi, sebagai
ibu rumah tangga sekaligus PNS, seyogyanya menjadi contoh dalam
kehidupan di masyarakat. “Keduanya akan diberi pembinaan. Setelah itu
ada sanksi bagi oknum PNS,”kata Supomo.
Hanya, mengenai sanksi yang bakal diberikan akan disesuaikan dengan
sejauh mana tingkat pelanggaran yang telah dilakukan. Hal itu sudah
diatur dalam PP 30 tahun 1980, tentang Disiplin PNS.
Dijelaskan, sanksi ada tiga tahapan. Mulai sanksi ringan, sedang dan
berat. Untuk sanksi ringan, pelaku hanya akan mendapat teguran baik
lisan maupun tertulis. Untuk sanksi sedang, pelaku mendapat pernyataan
tidak puas dari pimpinan. Sedang sanksi berat, pelaku akan ditunda
kenaikan pangkatnya, pembebasan jabatan, pemberhentian dengan hormat
maupun pemberhentian dengan tidak hormat.
Pejabat yang juga aktif sebagai dosen disebuah perguruan tinggi swasta
di Pacitan ini mengungkapkan, sebenarnya masih banyak oknum PNS yang
melakukan hal serupa. Bahkan menurutnya, pihaknya telah memiliki TO
(target Operasi) para pelaku. Hanya tinggal mencari bukti akuratnya
saja.
Karena itu, pihaknya menghimbau pada seluruh kalangan PNS, agar tidak
melakukan hal seperti itu. Karena, selain mencoreng korp PNS, juga
bisa berdampak buruk pada kepercayaan masyarakat terhadap Pegawai
Negeri Sipil.

Selingkuh ibu rumah tangga yang kesepian

Distribusi Gas Belum Merata, Warga Masih Buru Minyak Tanah

EKONOMI PACITAN – Rupanya, masih banyaknya warga berburu minyak tanah (mitan),
disebabkan masih adanya beberapa wilayah yang warganya mengaku
kesulitan mendapatkan gas elpji 3 kilogram. Padahal, wilayah itu sudah
merupakan terkonversi Tak pelak, jika masih bertahan menggunakan
mitan. Tidak sedikit diantaranya yang menggunakan kayu bakar.
“Distribusi gas masih belum lancar di daerah kami,” kata Sanimin,46,
warga Desa Kemuning, Kecamatan Tegalombo, Pacitan, kemarin (6/11).
Diakuinya, selama ini, Sanimin dan beberapa warga didesanya mengaku
kebingungan. Sebab distribusi gas belum sepenuhnya lancar ke desanya.
Jika pun ada jumlahnya relatif sedikit. Sementara, jika akan beralih
ke minyak tanah, juga sudah sulit didapat. Harganya pun mahal,
berkisar Rp 7 ribu per liter. Itulah sebabnya, warga pun mulai beralih
menggunakan cara konvensional. Yakni, menggunakan kayu bakar untuk
memasak sehari-hari. “Gimana lagi, Mas. Cari gas susah, mitan apalagi.
Terpaksa kayu bakar saja. Apalagi, kayu bakar banyak dan nggak sulit
mencarinya,” terangnya.
Belum siapnya warga menggunakan gas diakui Kepala Dinas Koperasi
Perindustrian dan Perdagangan (Kopindag), Heri Purwanto. Indikasi
ketidaksiapan warga bisa dilihat dari banyaknya permintaan minyak
tanah dipasaran meski sudah masuk wilayah konversi. Sesuai hukum
ekonomi, hargapun beranjak naik dari Harga Eceran Tertinggi (HET)
antara Rp 2.500-Rp3.500/liter menjadi Rp 9.000-Rp 10.000/liter.
Lebih lanjut Heri menjelaskan, subsidi dan pengiriman dari Depo Madiun
sudah dihentikan sejak 19 Oktober kemarin. Untuk memenuhi kebutuhan
warga, Kopindag kemudian meminta bantuan tambahan distribusi minyak
tanah ke Depo Kediri. Saat ini, wilayah yang masuk kategori kritis
stok minyak tanah adalah wilayah Kecamatan Kota Pacitan. “Karena
subsidi sudah dikurangi bahkan di stop, kita minta bantuan ke Depo
Kediri,” kata Kepala Kopindag, Heri Purwanto, kemarin (6/11).
Heri menambahkan, nantinya jumlah yang diminta sama dengan jumlah
distribusi minyak tanah bersubsidi sebelumnya, yakni 15 ribu liter
perhari. Bahkan saat-saat tertentu mencapai 30 ribu liter/hari. Dalam
waktu dekat diharapkan permintaan ini bisa terealisasi. “Dua hari lagi
kita minta kejelasan ke sana (Depo Kediri-red),” terangnya.

Antisipasi Rawan Pangan, Usulkan Penyangga Pangan

LINGKUNGAN PACITAN – Antara bulan Januari-Februari 2010, diperkirakan terjadi
rawan pangan. Persoalannya, musim kemarau tahun ini relatif panjang.
Akibatnya, musim tanam padi pun molor. Artinya, jika tanam padi
dimulai Desember, petani baru panen sekitar Maret 2010. “Kami sudah
memulai sosialisasi ke masyarakat terkait ketersedian pangan
masyarakat,” kata Kepala Kantor Ketahanan Pangan Pacitan, Pamuji,
kemarin (4/11).
Diungkapkan, pemahaman yang disampaikan ke masyarakat terkait
penghematan bahan pangan, seperti padi maupun ubi kayu. Artinya, saat
ini, ada baiknya, masyarakat mengurangi volume penjualan bahan pangan
itu ke luar Kota. Sebaliknya, bahan pangan itu diolah, sehingga bias
dismpan dalam waktu lama. Misalnya, ubi kayu diolah menjadi gaplek
atau gabah diproses menjadi beras. Semua itu bisa dipergunakan sebagai
cadangan, jika sewaktu-waktu terjadi krisis pangan.
Tidak itu saja, pihaknya tengah menggodog usulan terbentuk badan
penyangga pangan daerah. Badan itu membeli hasil pangan dari
masyarakat (petani) dengan harga ideal. Prakteknya, bisa menggunakan
dana APBD atau sumber dana lain. Setelah melalui proses pengolahan,
bahan pangan bias disimpan dan dipergunakan jika terjadi krisis
pangan.
Namun, jika nanti tidak terjadi krisis pangan, bisa dijual ke luar
Kota. Tentunya, dalam pelaksanaannya, perlu koordinasi lintas sektor
terkait. Baik mengenai program, pelaksana maupun perhitungan harga
secara detail. Disatu sisi, harga pembelian tidak memberatkan petani,
disisi lain terdapat lumbung pangan yang memadai. “Ini beda dengan
stok di Dolog. Kalau di Dolog kan harus terbayar”.
Sebenarnya, anggaran bisa saja diambilkan dari cadangan bencana alam
APBD. Tetapi, berapa besarnya anggaran, masih perlu usulan dan
pembahasan. Terlebih, penggunaan dana itu juga harus mendapat
persetujuan dari DPRD. Sebab, krisis pangan juga termasuk kategori
bencana. Namun, jika kondisi mendesak, juga bias mengusulkan bantuan
dari gubernur. Terlebih, ada alokasi dari gubernur yang besarnya
sekitar Rp 100 juta per kabupaten. Hanya, dana itu bisa dicairkan jika
memang sudah terjadi bencana rawan pangan. “Kabupaten Purworejo
(Jateng), sudah menggunakan badan penyangga untuk mengantisipasi
bencana rawan pangan,” terangnya.
Lebih lanjut, Pamuji mengungkapkan, secara umum, masalah bahan pangan
masih tercukupi. Hanya, antisipasi juga perlu dilakukan. Hal itu
seiring upaya teknis dinas terkait meningkatkan sistem irigasi lahan
pertanian, bantuan bibit unggul, ketersediaan pupuk dan sebagainya.
Sehingga, jika sewaktu-waktu terjadi krisis, persoalan itu bisa
diatasi dengan baik.

Sanksi Pemutusan Bagi Kontraktor Listrik Nakal

BERITA PACITAN – Listrik merupakan salah satu infrastruktur yang sangat
dibutuhkan masyarakat. Baik untuk keperluan rumah tangga maupun usaha
dan industri. Hanya, semakin berkurangnya investasi di sektor itu,
menyebabkan beberapa daerah masih belum terlayani secara maksimal.
Menyikapi kondisi itu, pemerintah terus menggenjot pembangunan
pembangkit listrik yang tersebar dibeberapa daerah termasuk PLTU di
Sudimoro, Pacitan. Diperkirakan, 2010 nanti, kebutuhan listrik PLN
akan menjangkau kebutuhan masyarakat. “Di Jawa Timur masih ada sekitar
30 persen sampai 40 persen yang belum menikmati fasilitas listrik
tersebut,” kata Ketua DPD AKLI Jatim, Suwandi, saat menghadiri
kegiatan Muscab AKLI Pacitan, Rabu (4/11).
Dijelaskan, masih adanya masyarakat yang belum bisa menikmati aliran
listrik PLN disebabkan beberapa faktor. Diantaranya, kondisi geografis
sebuah daerah maupun kendala pemasangan jaringan. Terlebih, investasi
di sektor semakin berkurang. Itulah sebabnya, tidak jarang pelanggan
membiayai sendiri pemasangan jaringan secara sukarela, dengan model
hibah.
Hal itu serign dilakukan beberapa perusahaan besar yang bergerak di
bidang real estate, mall maupun pabrik. Dengan begitu, bisa sinergi
dengan program PLN. Sebab, jika menunggu investasi dari PLN
(pemasangan jaringan), waktunya lama. Terlebih, pemasangan jaringan,
biayanya lebih besar dari biaya penyambungan.
Sebagai ilustrasi, jika biaya penyambungan sebesar Rp 200 juta,
anggaran pemasangan jaringan lebih besar dari itu. Apalagi, jika jarak
dari gardu induk listrik jauh. Tentu biaya pemasangan jaringan semakin
besar. Bahkan, ada sebuah perusahaan di Surabaya yang membiayai
pemasangan jaringan dengan anggaran mencapai Rp 5 milyar. “Kalau
pemasangan jaringan listrik desa, bisa dibantu dari APBN atau APBD
setempat,” terang Suwandi.
Diakuinya, penyambungan listrik di pedesaan, terkadang terjadi
permasalahan. Misalnya, sambungan sudah terpasang, namun listrik tidak
juga menyala. Ada juga, pemasangan titik sudah dilakukan, jaringan
belum ada. Begitu juga dengan biaya sambungan yang relatif mahal dan
dirasa memberatkan masyarakat.
Menyikapi hal itu, Suwandi menilai persoalannya tergantung pada
masyarakat sendiri dan perilaku kontraktor. Sebab, ada juga kontraktor
nakal, yang merugikan calon pelanggan. Karena itu, aosisianya
menerapkan tingkatan sanksi bagi anggotanya yang terbukti nakal. Mulai
peringatan, tegoran sampai pemutusan. “Selama ini, ada sebagian yang
mendapat peringatan dan skorsing 6 bulan”.
Mengenai biaya penyambungan, pihaknya sudah menentukan tarif Harga
Eceran Tertinggi (HET). Setiap penyambungan, biaya per titik lampu
sebesar Rp 150 ribu. Artinya, jika dalam satu rumah terdapat 6 titik
pemasangan, biayanya Rp 900 ribu. Namun, ada juga anggaran Sertifikat
Layak Operasi dan sebagainya. Sehingga, dalam praktek di lapangan,
biaya total penyambungan listrik menjadi membengkak. Terlebih, jika
melalui calo. “Kami sudah menghimbau kontraktor listrik melalui
asosiasi AKLI di daerah-daerah maupun menyebar leaflet di masyarakat,”
paparnya.
Sementara, Ketua DPC AKLI Pacitan, Rahedi Purnomo, mengamini penyataan
Ketua DPD AKLI Jatim. Dijelaskan, di Pacitan tedapat 12 anggota AKLI.
Dan semuanya selalu memberikan pelayanan terbaik, sesuai aturan main
yang ditetapkan. Misalnya, masing-masing rekanan memiliki petugas
pemasaran di lapangan maupun tenaga teknis. “Agar tidak terjadi
masalah, calon pelanggan sebaiknya menghubungi kontraktor atau anggota
asosiasi yang resmi,” kata Rahedi.

kontraktor listrik, menjadi kontraktor listrik, penyebab dilakukan pemutusan listrik

Lowongan dan Formasi CPNS Kab Pacitan Tahun 2009

Download Pengumuman Lowongan dan Formasi CPNS Kabupaten Pacitan tahun 2009 disini

Rendah, Kontribusi Industri Tembakau Terhadap PAD

EKONOMI PACITAN- Kontribusi sektor industri tembakau terhadap Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Pacitan, Jawa Timur tergolong rendah. Dari
total PAD tahun 2009 sebesar Rp 26 milyar, donasi dari bisnis asap ini
hanya 0,06 persennya saja. “Meski hasilnya masih minim tapi sudah
mampu memberikan kontribusi pada PAD,” kata Kabag Administrasi
Perekonomian Pemkab Pacitan, Sutrisno, Selasa (2/11).
Pemasukan terbesar berasal dari dana kompensasi cukai rokok, dimana
pada tahun 2008 lalu Pacitan menerima Rp 4 milyar lebih. Dana itu
diwujudkan dalam program ke masyarakat melalui satuan kerja perangkat
daerah (SKPD). Jumlah kontribusi itu tidak termasuk hasil tembakau
dari petani. Sebab, hasil budidaya bahan baku rokok tersebut masuk
dalam perhitungan pendapatan masyarakat. “Yang kami hitung adalah
peningkatan industri tembakau terhadap PAD,” ujar Sutrisno.
Dikatakannya, jumlah industri rokok di Pacitan hanya sembilan
perusahaan. Itupun tidak beroperasi semuanya. Ada sekitar 2 atau 3
perusahaan yang tidak beroperasi karena kondisi internal perusahaan.
Kedepan, ia optimis industri tembakau akan berkembang tetapi semua
tergantung pada manajemen dan pola pengembangan usaha yang dijalankan
perusahaan.
Berdasarkan data Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan nilai
investasi 9 perusahaan tersebut total mencapai Rp 3,5 milyar. Jumlah
terbanyak dicatat PT. Putera Pacitan Indonesia Sejahtera dengan nilai
investasi sekitar Rp 3 milyar atau 87 persen. Disusul kemudian PT.
Sari Agung dengan Rp 162 juta atau 4,7 persen.
Sementara itu, luasan lahan tanaman tembakau sebagai bahan dasar rokok
dari tahun ke tahun juga meningkat. Pada tahun 2007, luas lahan hanya
3 hektar. Jumlah ini naik menjadi 13 hektar pada 2008 dan 190 hektar
di tahun 2009. Sedangkan proyeksi untuk tahun depan adalah 250 hektar.
Hanya, temuan di lapangan, pelaksanaan program tanam tembakau di
Pacitan, belum semuanya menuai hasil maskimal. Sebab, masih ada
beberapa kelompok tani yang belum memiliki ketrampilan merajang daun
tembaku hasil panenennya, sesuai standar yang ditentukan pihak
pengepul atau pabrik. Sehingga, berdampak pada hasil penjualan produk
daun tembakau itu. Tentunya, jika petani terampilan merajang atau
melakukan perawatan daun tembakau pasca panen, tentu usaha itu akan
menghasilkan pendapatan lumayan bagi petani, sekaligus menyumbang PAD.

hasil dan industri pacitan, lingkungan industri tembakau