Archive for November, 2009

Jelang Pemilukada, Dukcapil Tertibkan Administrasi Kependudukan

BERITA PACITAN – Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah
(Pemilukada) Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil (Dukcapil) setempat mulai melakukan penertiban
administrasi kependudukan. Nantinya, hasil penertiban dan pendataan
bisa digunakan sebagai salah satu acuan penetapan jiwa pemilih pada
Pemilukada yang akan dilaksanakan tahun depan. “Mungkin sekitar bulan
April 2010 hasilnya akan kami serahkan ke KPUD,” kata Sekretaris
Dukcapil, Bambang Widodo, Senin (2/11).
Sebagai pelaksana dilapangan, Dukcapil menunjuk masing-masing
Sekretaris Desa dan Kaur Pemerintahan. Hal ini sesuai SK Kepala
Dukcapil Nomor 640/1335.A/408.42/2009 tentang pembentukan tim
pemutakhiran data Daftar Rumah Tangga (DRT). Teknisnya, masing-masing
kepala keluarga diberikan lembaran foto kopi kartu KK. Setelah
dikoreksi, foto kopian tersebut kemudian kembali diserahkan ke
perangkat desa. “Pemutakhiran sudah berjalan satu bulan dan sekaligus
untuk memberantas praktek percaloan,” terang Bambang.
Beberapa kendala teknis muncul dalam pelaksanaan pemutakhiran data.
Seperti ketika menjumpai penduduk musiman maupun warga yang sedang
boro (bekerja di luar daerah). Sesuai kesepakatan dengan KPUD Pacitan,
warga yang bersangkutan tetap harus dicatat jika belum mengajukan
surat pindah. Demikian pula bagi warga pendatang. Mereka tidak akan
mempunyai jiwa pilih jika status penduduk di daerah asal belum
dicabut. “Misalnya, para santri di beberapa pondok pesantren dan
proyek PLTU Sudimoro yang berasalal dari luar kota,” jelas Bambang.
Lebih lanjut Bambang menjelaskan, sesuai data terakhir Pemilu Presiden
lalu, jumlah pemilih di Pacitan berjumlah 448.113 jiwa. Kemungkinan
jumlah ini bisa bertambah. Potensi penambahan jiwa pemilih
diperkirakan berasal dari pemilih pemula. “Warga yang sudah mempunyai
jiwa pilih dimasukkan dalam DP4 (Daftar Penduduk Pemilih Pemilu
Potensial).”
Disinggung pelayanan dokumen kependudukan sistem online, Bambang
mengatakan baru ada 3 kecamatan dari 12 kecamatan yang
melaksanakannya. Yakni Kecamatan Donorojo, Punung dan Kecamatan
Pringkuku. Ketiga kecamatan tersebut semua berada di wilayah Pacitan
barat. Masalah anggaran dan hambatan geografis menyebabkan sistem ini
belum bisa diterapkan disemua wilayah. “Itu saja tower pancar ulangnya
masih nunut di tower milik salah satu provider GSM,” pungkas Bambang.

KPUD Rekomendasi Penggunaan Pantarlih

Tangani Pendaftaran Pemilih Pemilu Depan
PACITAN – Penggunaan data kependudukan sebagai dasar penentuan daftar
pemilih dalam pelaksanaan pemilu lalu, dinilai tidak efektif.
Alasanya, data yang dihimpun dari Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil, tidak dibuat khusus untuk pemilih. Akibatnya, Komisi Pemilihan
Umum daerah (KPUD) butuh waktu cukup lama memutakhirkan data menjadi
daftar pemilih tetap (DPT). “Kami merekomendasikan penggunaan Panitia
Pendaftaran Pemilih (Pantarlih) dalam pemilu mendatang,” kata Ketua
KPUD Pacitan, Damhudi, usai evaluasi pemilu 2009, kemarin (1/11).
Persoalan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam evaluasi
tahapan Pemilu 2009 kemarin. Selain KPUD, kegiatan juga melibatkan
panitia pemilu, perwakilan partai politik, Panitia Pengawas Pemilu
(Panwaslu), dinas terkait dan mahasiswa. Hasil evaluasi kemudian
merekomendasikan agar dilakukan pendataan pemilih (Pantarlih) untuk
pelaksanaan pemilu kedepan. Sistim lama itu dirasa lebih efektif,
karena dapat mengetahui secara langsung setiap penambahan jiwa pilih.
Mantan aktivis LSM ini mengatakan, tak hanya daftar pemilih, masalah
logistik, pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara juga menjadi
bahasan penting para peserta evaluasi. Jenis formulir misalnya,
dirasakan terlalu beragam. Sehingga membuat bingung panitia, terutama
di tingkat PPS.
Sedang khusus surat suara para peserta minta untuk lebih
disederhanakan. Begitu juga dengan proses rekapitulasi sebaiknya
kembali dilakukan dimasing-masing TPS. Pertimbanganya agar tidak
terlalu lama di PPK. Sehingga lebih efektif dan efisien. “Seperti
ukuran kertas cukup yang sedang, agar tidak menyulitkan dan mudah
dibuka dibilik suara,” terangnya.
Lebih lanjut Damhudi menjelaskan, kendati evaluasi Pemilu 2009 lebih
menitik beratkan pada persoalan daftar pemilih dan pemungutan suara,
namun masih ada evaluasi lain yang juga masuk bahan rumusan. Seperti,
proses penyelesaian pelanggaran pemilu yang dinilai belum maksimal.
Sebagai lembaga pemantau pemilu, kewenangan Panwas sangat terbatas.
“Hasil evaluasi ini selanjutnya akan dituangkan dalam bentuk
rekomendasi dan dikirim ke KPU pusat melalui Propinsi. Rencananya
hasil rumusan tersebut akan dikirim KPU kamis depan,” pungkasnya.

Mitan Masih Diburu Masyarakat

PACITAN – Beberapa hari terakhir ini, perburuan dan antrean minyak
tanah (mitan), mulai menjadi pemandangan tersendiri. Terlebih, pihak
distributor menjual mitan dengan cara bergilir dari desa satu ke desa
lainnya. Seperti antrean mitan di Desa Sumberharjo, Kec./Kab. Pacitan,
kemarin (1/11).
Antrean yang dimulai sekitar pukul 09.00 wib, di lapangan desa
setempat itu, diserbu ratusan warga. Awalnya, pembelian mitan tidak
dibatasi. Artinya, setiap warga bisa membeli mitan dalam jumlah besar,
menggunakan jerigen isi 25 liter. Tetapi, banyak warga yang antre
(dari desa Sumberharjo dan Desa Bangunsari), pembelian pun dibatasi 5
liter per orang. “Harganya murah, Rp 3000 per liternya,” kata Siti
Murrwati, salah seorang warga Sumberharjo.
Diakuinya, dirinya sudah mendapatkan bantuan kompor gas berikut tabung
3 kilogram (konversi minyak ke gas). Tetapi, keberadaan mitan masih
dirasa sangat membutuhkan. Bukan saja untuk keperluan memasak. Tetapi,
juga penerangan lampu jika sewaktu-waktu aliran listrik PLN padam.
“Gimana ya, Mas. Kalau ga pakai minyak tanah ga puas,” imbuhnya.
Hal senada juga diungkapkan Mulyono, warga setempat. Kendati mulai
mempergunakan kompor gas, tetapi masih tetap memakai kompor minyak
tanah. Sebab, jika kompor minyak tidak dipakai akan rusak. Disisi
lain, sekarang mulai langka mendapatkan mitan. Dibeberapa pangkalan
yang ada sering kosong. Kalau ada minyak, harganya sudah mahal,
sekitar Rp 7 ribu per liter. “Mumpung ada minyak tanah murah,” terang
Mulyono.
Ada juga beberapa warga yang mengaku, setiap hari keliling Kota untuk
mendapatkan mitan. Namun, upaya itu juga sering tidak membuahkan
hasil. Kendati begitu, warga tersebut mengaku tidak lelah berusah
amendapatkan mitan. “Begitu melihat ada antrean, saya langsung ikut
antre,” katanya.
Sementara, salah seorang petugas distributor mengatakan, pihaknya
berencana mengadakan antrean mitan secara bergilir sebanyak 95
putaran. Agar merata, antrean dilakukan dibebrapa desa atau lokasi
berbeda. Begitu juga dengan pembelian juga dibatasi. Sehingga, jatah
5000 liter bisa mencukupi warga yang sudah antre.
Lebih lanjut diungkapkan, selama ini, pihaknya sudah menggelar antrean
di tiga lokasi. Yakni, Arjowinangun, Baleharjo dan Sumberharjo. Hanya,
agar tidak dimanfaatkan tengkulak, jadwal penjualan tidak diumumkan.
Sebab, terkait program ini akan langsung didistribusikan ke
masyarakat, tidak melalui pangkalan mitan. “selama masih ada jatah
dari pertamina, kami akan mendistribusikan langsung ke masyarakat,”
katanya.

Diduga Cabuli Pasien, Diamankan

KRIMINALITAS PACITAN – Ternyata, SM,41, bukan saja ahli pengobatan alternatif.
Tetapi, tangannya juga luwes menggerayangi alat vital pasien
wanitanya. Akibat ulahnya yang tidak senonoh, dukun yang membuka
praktek di Kelurahan Pucangsewu, Kec./Kab. Pacitan, diamankan polisi.
Perbuatan bejad dukun cabul itu terungkap saat mengobati Kdy,22, warga
Desa Gembuk, Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Ketika itu, korban
mendatangi tempat praktek sang dukun. Dengan harapan, penyakit
pendarahan yang dideritanya bisa sembuh.
Dugaan cabul yang dilakukan si dukun mulai terlihat saat kali pertama
korban berobat. Ketika itu, korban menceritakan penyakit yang
dideritanya. Usai mendengarkan keluhan si pasien, sang dukun berusaha
melakukan pengobatan. Hanya, ketika bibirnya komat-kamit merapal
matera sakti, tangannya pun ikut beraksi dengan menggerayangi alat
vital korban.
Tentu saja, korban terkejut bukan kepalang. Tetapi, besarnya keinginan
untuk sembuh, korban pun diam saja. Rupanya, sikap diam si pasien
membuat tersangka semakin bergairah. Terbukti, selang beberapa hari
kemudian, sang dukun malah mendatangi rumah pasiennya menggubakan
mobil. “Kedua kali, di dalam mobil, tersangka menggerayangi alat vital
korban,” kata Kapolres Pacitan, AKBP Wahyono, saat dikonfirmasi
melalui Kasatreskrim AKP Sukimin, Minggu (1/11).
Lantaran belum juga ada tanda-tanda kesembuhan, korban masih berusaha
melakukan pengobaan kali ketiga. Tetapi, modus pengobatan ini
benar-benar ekstrim. Betapa tidak, tersangka meletakkan obat pada alat
vitalnya. Bisa ditebak, gerakkan berikutnya merupakan adegan layak
sensor. Namun, beruntungnya, sebelum adegan itu dilakukan, polisi
keburu dating dan langsung menggelandang tersangka ke Mapolres
Pacitan. “Korban mengaku keberatan dengan cara pengobatan yang
dilakukan tersangka,” papar Sukimin.
Saat ini, polisi masih mengembangkan kasus tersebut. Tentunya, jika
terbukti, tersangka bias dijerat dengan pasal 289 KUHP. Karena itu,
masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya begitu saja terhadap
teknis pengobatan alternatif. Artinya, jika pengobatan itu berbau
senonoh dan merugikan, harus ditolak atau dilaporkan.
Tidak itu saja, dengan terungkapnya dugaan pencabulan dalam praktek
pengobatan alternatif, polisi meminta masyarakat untuk berhati-hati.
Sebaiknya, pengobatan dilakukan dengan cara medis. Baik di puskesmas,
rumah sakit atau dokter praktek swasta.

dokter cabuli pasien, dukun cabul diamankan, www korban dukun cabul com