Archive for December, 2009
Jumlah Pengangguran di Kab Pacitan Relatif Rendah
PACITAN – Ternyata, jumlah pengangguran di Pacitan, relatif lebih baik
dibanding daerah-daerah lain di Jawa Timur. Bahkan, berdasarkan Survei
Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan Badan Pusat
Statistik (BPS) setempat, tahun 2008 lalu, Pacitan menempati peringkat
kedua terendah setelah Kabupaten Sampang.
Dalam survey tersebut tercatat angka pengangguran terbuka di kota
kelahiran Presiden SBY itu sebanyak 3,1 persen atau 11.746 jiwa dari
total angkatan kerja sebanyak 378.866 jiwa. Jumlah itu relatif
mengalami kenaikan dibanding hasil survei yang sama pada tahun 2007,
sebanyak 2,72 persen atau sekitar 10 ribu orang. Hasil itu memberi
gambaran bahwa dari 100 orang angkatan kerja yang ada di Pacitan saat
ini, tiga di antaranya menganggur. Kenaikan jumlah pengangguran itu
disebabkan beberapa faktor. Diantaranya, krisis global serta musim
kemarau berkepanjangan satu tahun terakhir ini. Sehingga, banyak
tenaga kerja di sektor pertanian dan perkebunan yang menganggur.
Sementara, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
Pacitan, Marwan, membenarkan rendahnya angka pengangguran di Pacitan.
Hanya, berdasarkan jumlah pencari kartu kuning, jumlahnya sebanyak
15.789 orang. Artinya, pencari kartu kuning bisa dikategorikan sebagai
pengangguran. Kendati begitu, keberadaan mereka tidak sepenuhnya
sebagai pengangguran. “Sebab, masih ada aktivitas mendapatkan
pendapatan. Selain itu, sebagian diantaranya sudah mendapatkan kerja,”
kata Marwan.
Sebenarnya, jumlah persuahaan di Pacitan hanya sedikit dengan status
perusahaan kelas kecil-menengah. Pun demikian, ada beberapa persuahaan
yang masih kekurangan tenaga kerja. Seperti perusahaan pabrik rokok di
Kelurahan Sidoarjo, Pacitan, misalnya, dari kebutuhan total 2000
orang tenaga kerja, baru terealisasi sekitar 1459 orang. “Berarti
masih membutuhkan sekitar 400-an orang tenaga kerja”.
Diakuinya, selama ini, pihaknya terus mengupayakan memperkecil angka
jumlah pengangguran. Diantaranya, dengan menjalin kerja sama dengan
daerah luar. Sebab, Ketersediaan angkatan kerja sangat terbatas.
Salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan Lampung, yang meminta
1000 orang tenaga kerja wanita. Tenaga kerja itu nantinya akan bekerja
sebagai tanaga pecking udang. Selain itu , juga ada kerja sama dengan
Kalimantan, yang membutuhkan 200 KK. Nantinya, keluarga itu akan
menempati asrama dan bekerja di kebun kelapa sawit. “Ada yang sudah
daftar,” terang Marwan.
Kendati begitu, mengenai MoU antara pekerja dan perusahaan
diselesaikan di Pacitan. Khususnya mengenai hak-hak yang diperoleh
tenaga kerja. Sehingga, sebelum berada di tempat kerja, sudah ada
kejelasan mengenai besarnya gaji, tunjangan, maupun tempat asrama
tingga bersama isteri dan anak. “Selama ini, tenaga kerja Pacitan
banyak dicari perusahaan lantaran dikenal tekun, ulet dan kompak”.
Tidak itu saja, pihaknya terus menggelontorkan kegiatan wira usaha
baru. Khususnya, keberadaan home industri kecil. Baik bergerak di
bidang kerjainan kayu, bamboo maupun makanan. Nantinya, usaha baru itu
akan mendapatkan bantuan peralatan dan modal usaha. Hanya, mengenai
teknis pelaksanaan masih menunggu kejelasan dari Propinsi Jatim.
Selama ini, pihaknya sudah memiliki beberapa kelompok binaan pengrajin
kolong. Seperti di Bubakan, Kecamatan Tulakan, yang produksinya
rata-rata mencapai satu kuintal per hari. Dengan pasar di Kabupaten
Ponorogo dan beberapa daerah lainnya.
Serangan Babi Hutan dan Kera Resahkan Petani
PERTANIAN PACITAN -Para petani di Desa Karangrejo, Kecamatan
Arjosari, Pacitan, resah. Keresahan muncul setelah kawanan babi
hutan dan kera menyerbu lahan pertanian mereka dan memangsa tanaman yang
ada. “Kawanan babi hutan sering muncul di malam hari,” kata Sukiyo, petani
setempat, Minggu (6/12).
Akibat aksi kawanan hewan liar ini, para petani harus bekerja keras
mengamankan tanamannya. Berbagai upaya mereka lakukan. Salah satunya
dengan berjaga pada malam hari di areal persawahan. Namun karena
keterbatasan pandangan, kerap kali babi hutan masih bisa menerobos masuk
dan merusak tanaman. Upaya ini terkadang malah tidak berguna ketika petani
harus berhadapan dengan babi hutan berukuran besar. “Ya kita hanya bisa
berteriak sekuat-kuatnya agar celeng (babi hutan-red) pergi,” ujar Sumali
menimpali.
Selain berjaga, untuk meminimalisir serangan, petani sempat menggunakan
cara lama, yakni dengan racun. Tetapi hal ini tidak berhasil karena jumlah
babi hutan yang mati hanya beberapa ekor saja. Malah, kini upaya tersebut
dipandang sia-sia karena umpan berupa telor dan bekatul yang dicampur
insektisida sama sekali tidak diendus. Saat mencari makan, babi hutan
memangsa butir-butir padi dengan jalan merobohkan tanaman. “Jadi, siang
malam kita harus berada di sawah,” papar Sumali.
Tak hanya babi hutan, kawanan kera dan burung ikut meramaikan pesta di
lahan persawahan. Kera biasanya menyerang pada siang siang hari. Setiap
kali turun, jumlah kawanan bisa mencapai ratusan ekor. Jenis tanaman yang
disasar pun lebih beragam. Mulai palawija, padi hingga kelapa. Hewan
tersebut diketahui bersarang dan tinggal di perbukitan dan hutan di
sekitar persawahan. Sedangkan jenis burung penganggunya adalah pipit.
“Kalau tidak kita jaga, tidak bisa panen dan jumlah kawanan kera paling
sedikit 40 ekor,” jelasnya.
Luas lahan yang diserang diperkirakan mencapai puluhan hektar, meliputi
seluruh wilayah desa. Warga berharap bantuan dari instansi terkait maupun
pihak lain untuk mengatasinya. Misalnya dari Persatuan Menembak Sasaran
dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin). “Kami senang jika ada
pihak-pihak lain yang membantu para petani di sini,” jelas Sukiyo dan
Sumali hampir bersamaan.
Gizi Buruk, Terkait Perilaku Masyarakat
KESEHATAN PACITAN – Selain faktor ekonomi, munculnya beberapa kasus gizi buruk juga disebabkan perilaku masyarakat, khususnya orang tua. Sebab, penanganan anak itu dilakukan sejak dalam kandungan. “Saat hamil, si ibu harus berperilaku sehat. Baik memeriksakan kondisi kandungan secara kontinyu, termasuk pemenuhan kebutuhan gizi,” kata Kabid Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan, Pacitan, Wawan Kasiyanto. Terlebih, sekarang sudah ada poliklinik dan bidan di masing-masing desa. Usia perkawinan relatif lebih baik. Begitu juga dengan pemahaman kesehatan. Hanya, terkadang, sebagian masyarakat lebih mementingkan kebutuhan sekunder, ketimbang masalah kesehatan. Dicontohkan, diantara balita yang menderita gangguan pertumbuhan, kondisi orang tuanya cukup mampu. Rumahnya bagus, punya sepeda motor ada TV dan sebagainya. Sehingga, jika dikaitkan persoalan ekonomi kurang tepat. Realita di lapngan itulah yang akan dijadikan kajian untuk lebih menyadarkan perilaku masyarakat terhadap pentingnya kesehatan balita, mulai di dalam kandungan hingga remaja. “Akibatnya, 70 persen remaja di Pacitan, tinggi badannya di bawah standar,” terang Wawan. Banyak perilaku tidak sehat yang dilakukan orang tua (ibu). Misalnya, seorang ibu tengah mengandung dan menderita sakit kepala. Dengan sembarangan mengkonsumsi obat sakit kepala yang dibeli di warung-warung. Begitu juga pola makannya, yang cukup dengan nasi dan sambal dan sebagainya. Tanpa disadari, perilaku seperti itu berdampak pada bayi yang dikandungnya. Kendati begitu, secara umum, persoalan gizi di Pacitan masih bagus. Bahkan, berdasarkan data di Jatim, Pacitan menempati urutan dibagian atas. Artinya, masih lebih baik dibanding daerah lain di Jatim. Hanya, jumlah bayi mati saat dilahirkan ada kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun 2008 tercatat sekitar 56 bayi mati saat dilahirkan, tahun ini meningkat menjadi 86 kasus. Begitu juga dengan kematian ibu melahirkan, dari 4 kasus (tahun 2008) menjadi 6 kasus di tahun 209 ini. Sementara, pemkab Pacitan terus mengupayakan peningkatan penanganan masalah perbaikan gizi, khususnya anak sampai remaja. Hal itu terlihat dari naiknya anggaran penanganan gizi melalui APBD tahun 2010. Tentunya, program-program itu harus diimbangi dengan kedaan masyarakat terkait pentingnya gizi bagi pertumbuhan anak-anaknya.
3 Balita di Kabupaten Pacitan Terindikasi Kurang Gizi
KESEHATAN PACITAN – Tiga anak balita di Desa Worawari, Kecamatan Kebonagung,
Pacitan, terindikasi kurang gizi. Ketiganya, tidak saja mengalami
gangguan pertumbuhan. Tetapi, juga perlu penanganan tenaga medis.
“Kami sudah survey ke lokasi. Ketiga balita itu butuh bantuan
secepatnya,” kata Kabid Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan, Pacitan,
Wawan Kasiyanto.
Dijelaskan Wawan, Feril, misalnya. Balita berusia dua tahun itu,
mengalami gangguan pertumbuhan. Selain itu, sejak lahir sudah
menderita kelainan pada telapak kaki. Sehingga, perlu terapi dengan
bantuan sepatu khusus. “Tepalak kakinya bengkok, sulit berjalan, berat
badan dan tinggi tubuh tidak normal.”
Balita malang ini disebabkan kondisi ekonomi dan kurangnya perhatian
kesehatan dari orang tua. Sejak usia 7 hari hingga sekarang, tinggal
bersama kakek-neneknya. Disisi lain, kondisi ekonomi kakek-neneknya
cukup miskin. Kakeknya hanya buruh di kebun dan diduga menderita
sakit. Sehingga, keluarga itu butuh bantuan pangan dan pengobatan.
Baik balita maupun si kakek.
Gangguan pertumbuhan juga dialami Sabrina. Balita berusia dua tahun
ini terindikasi kurang gizi. Akibatnya, balita itu tidak tumbuh normal
seperti kebanyakan anak-anak diusianya. Sedang Dina,4, mengalami
masalah kesehatan. Diduga, sejak lahir mengalami gangguan di saluran
THT. Sehingga, balita itu menjadi tuli, bisu dan ada dugaan mengalami
gangguan syaraf. “Ekonomi orang tuanya cukup mampu. Hanya
pengobatannya saja yang kurang,” imbuh Wawan.
Untuk menangani kasus tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan
dinas terkait. Terlebih, balita dan keluarganya belum tercatat sebagai
anggota Jamkesmas. Mengenai hal itu pihaknya akan berkoordinasi dengan
instansi lainnya mempercepat kepengurusannya. Sehingga, secara
administrasi memudahkan penanganan kasus itu.
Diakuinya, awalnya, ada 6 balita yang diindikasi mengalami kurang
gizi. Namun, setelah dilakukan survey langsung ke masing-masing
lokasi, 3 balita lainnya dinyatakan sehat. Gangguan pertumbuhan yang
dialami disebabkan faktor keturunan. “Orang tuanya memang pendek.
Tentu saja, anaknya juga pendek, tetapi sehat”.
Selektif Pilih Investor Wisata
PARIWISATA PACITAN - Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga
(Disbudparpora) Kabupaten Pacitan, akan selektif pada investor di
bidang pariwisata. Kebijakan ini diambil agar keberadaan investor
tidak berbenturan dengan kearifan lokal. “Apa yang kita lakukan
semata-mata untuk melestarikan kearifan lokal yang sudah ada agar
tidak tergusur,” kata Kepala Disbudparpora, M Fathoni, Sabtu (5/12).
Dikatakannya, masuknya investor atau pengelola dunia pariwisata
sebenarnya sangat dibutuhkan oleh Pacitan. Sebab, ada keuntungan lain
yang bisa diperoleh daerah selain dari sisi Pendapatan Asli Daerah
(PAD), yakni promosi. Namun demikian, tidak semua pihak ketiga akan
mendapatkan ijin menanamkan investasi atau mengelola obyek-obyek
wisata. “Ketika kita bisnis wisata, akan ada pihak-pihak yang ikut
menikmati. Misalnya, masyarakat disekitar lokasi wisata,” ujarnya.
Dari segi promosi, kata Fathoni, daerah secara tidak langsung akan
dikenal melalui upaya persuasif pihak investor karena mereka telah
mempunyai banyak jaringan. Mulai dari lokasi wisata, akomodasi hingga
transportasi. Misalnya, seperti yang dilakukan pengelola Pantai
Teleng Ria, PT. El-John. Sebagai pengembang dan pengelola wisata
bertaraf nasional, ia tidak hanya mempromosikan pantai tetapi juga
mengenalkan obyek wisata lain yang ada di Pacitan. “Kan sederhananya
begini, masak seharian hanya melihat pantai. Makanya disiapkan pula
lokasi-lokasi wisata lain untuk rangkaian tour,” jelasnya.
Sementara itu, dari segi pemberdayaan ekonomi masyarakat, lokasi
wisata mendatangkan keuntungan tersendiri. Dari sebuah tempat wisata,
masyarakat bisa mengambil keuntungan melalui tingkat kunjungan,
khususnya sektor jasa. Seperti penyediaan fasilitas penginapan, home
stay, guide sampai pada penyediaan barang-barang kebutuhan
sehari-hari.
Fathoni mengakui, keberadaan pihak swasta cukup memberi andil pada
peningkatan PAD. Seperti pada tahun ini, pendapatan naik cukup
signifikan, yakni Rp 900 juta lebih. Diperkirakan, hingga akhir tahun,
bakal tembus Rp 1 milyar. Secara umum, perolehan pendapatan itu
mengalami over target. Dari target Rp 500 juta, hingga akhir Oktober
tahun ini, sudah terealisasi Rp 636 juta. Jika ditambah perolehan
kontrak dari PT. El John sebesar Rp 300 juta, totalnya mencapai Rp 936
juta atau berkisar Rp 1 milyar.
Waspadai Modus Calon Independen, Melalui ‘Pengumpul’ KTP
PACITAN-Menghadapi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) 2010,
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Pacitan, mulai melakukan pemetaan
masalah. Salah satunya dengan mencermati modus penggalangan dukungan
oleh calon independen melalui ‘pengumpul’ KTP. “Hal ini sesuai
pengalaman daerah-daerah lain yang sudah menggelar Pemilukada,” terang
Ketua KPUD, Damhudi, Sabtu (5/12).
Beberapa daerah itu diantaranya Kabupaten Klungkung (Bali) dan Tegal
(Jawa Tengah). Menurutnya, secara hukum, pengumpulan dukungan melalui
pengumpul KTP seperti koperasi simpan pinjam, lembaga leasing maupun
perkreditan lainnya sebenarnya tidak melanggar. Hanya, jika pada saat
verifikasi ternyata ditemukan dukungan palsu, akan merugikan calon
sendiri. “Artinya, ketika dilakukan verifikasi dan nama yang semula
diakui mendukung ternyata tidak, tentu akan mengurangi jumlah
dukungan. Akibatnya, berkas akan dikembalikan karena tidak sesuai,”
tukas Damhudi.
Sesuai aturan, berkas yang tidak sesuai harus disempurnakan oleh
calon. Proses penyempurnaan berkas sendiri diberikan tenggat waktu 14
hari sejak pemberitahuan dari KPUD. Apabila calon tidak bisa memenuhi
syarat minimum dukungan sesuai waktu yang diberikan, otomatis mereka
akan dieliminasi sebagai peserta Pemilukada. Untuk Kabupaten Pacitan
calon independen yang akan maju sebagai kontestan harus mendapatkan
dukungan 4 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 24 ribu orang.
Nantinya, untuk keperluan verifikasi, KPUD telah menyiapkan tenaga
verifikator sebanyak 513 orang. Perinciannya, tiap-tiap desa akan
diverifikasi 3 orang yang diambil dari anggota Panitia Pemungutan
Suara (PPS). Mereka akan bekerja selama 14 hari. Setelah selesai, data
kemudian akan disetorkan ke Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di
masing-masing kecamatan. “KPU hanya menerima data jadi,” ungkap
Damhudi
Lebih lanjut Damhudi mengatakan, pengumpulan dukungan instan itu juga
potensial memicu munculnya pendukung ganda. Misalnya, satu KTP
digunakan dua calon, sebab mereka menggunakan satu lembaga yang sama,
koperasi A. “Seperti terjadi di wilayah Madiun, ketika mendaftar ke
KPUD setempat, calon mengaku mengantongi 11 ribu dukungan. Tetapi
ketika penghitungan suara, yang bersangkutan hanya dapat 5 ribu
suara,” tukas Damhudi.
Pacitan Butuh Varian Baru Tanaman Hutan
PACITAN – Wilayah hutan yang tersebar di lima wilayah kecamatan di
Kabupaten Pacitan, memerlukan varian baru tanaman. Khususnya
wilayah-wilayah tangkapan air yang di sekitar Daerah Aliran Sungai
(DAS) Grindulu. “Pemerintah saat ini tengah mengupayakan penambahan
varian tanaman baru,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan,
Suyatno, Kamis (3/11).
Kelima daerah itu adalah Kecamaan Arjosari, Bandar, Nawangan dan
Kecamatan Tulakan. Selama ini, daerah-daerah tersebut dikenal
mempunyai lahan kritis paling banyak, dengan dominasi jenis tanaman
pinus.
Padahal, regenerasi pinus dikenal kurang baik. Artinya, tanaman tidak
akan tumbuh kembali setelah ditebang. Hal itu, berbeda dengan jenis
tanaman hutan lainnya, seperti di wilayah Pacitan barat. Diantaranya,
Kecamatan Punung, Pringkuku dan Kecamatan Donorojo. Di wilayah itu,
hutan-hutannya didominasi dengan tanaman jati. “Pohon jati atau
lainnya masih bisa tumbuh setelah ditebang. Kalau pinus, bisa tumbuh
lagi kecuali ditanami bibit baru,” jelasnya.
Lebih lanjut, Suyatno mengungkapkan, variasi tanaman pada satu daerah
sangat penting. Tidak hanya bagi pemerintah semata. Tetapi juga untuk
warga sendiri. Terlebih, sebagian besar hutan di Pacitan adalah hutan
rakyat. Disisi lain, variasi tanaman menambah kerapatan vegetasi pohon
dan mengurangi jumlah lahan kritis.
Bahkan, nilai produksi varian tanaman yang ditawarkan pemerintah juga
akan memberi keuntungan bagi masyarakat selaku pemilik ladang atau
kebun hutan rakyat. Beberapa varian baru itu diantaranya, pohon jabon,
matoa, klengkeng, damar dan lain sebagainya. “Penganekaragaman tanaman
bertujuan agar tanaman tidak monoton dan tidak akan habis sekali
tebang”.
Untuk merealisasikan program itu, pemkab berupaya mendapat kucuran
dana dari pemerintah Pusat. Yakni, melalui Departemen Kehutanan RI
serta Departemen Pertanian. Pemkab sendiri juga telah berkomitmen
untuk mengalokasikan sebagian dana APBD 2010 untuk dana pendampingan
pelaksanaan program penghijauan dengan nilai berkisar Rp 600 juta.
Giliran Pekerja Tambang Grudug ke Dewan
Giliran Pekerja Tambang Grudug ke Dewan
PACITAN – Sekitar sertusan pekerja tambang timah PT. Gemilang Limpah
Internusa (GLI) di Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan, Pacitan, mendatangi
gedung DPRD setempat, Kamis (3/12). Sebagian warga mengusung pamlet
bertuliskan ‘gara-gara jalan ditutup keluarga kelaparan’, ‘tolong
berikan kami pekerjaan’, dan masih banyak lagi tulisan bernada protes.
Para pekerja tambang itu datang ke gedung wakil rakyat dengan naik
kendaraan bus maupun angkutan umum pedesaan, sekitar pukul 09.00 wib.
Dengan tertib, mereka memasuki halaman Dewan yang sudah dijaga ketat
petugas kepolisian setempat. Setelah perwakilan pekerja melakukan
negoisasi, akhirnya 30 orang pekerja diperbolehkan masuk gedung.
Sedang puluhan lainnya duduk-duduk di halaman DPRD dengan tertib.
Kegiatan hearing membahas persoalan warga dan penambangan itu
berlangsung sedang-sedang saja. Selain pimpinan Dewan, Komisi dan
satker terkait, hearing juga dihadiri Muspika Kecamatan Tulakan, Kades
Kluwih, Jumeno dan Direktur PT. GLI, Delvis K. Irianto.
Perlu diketahui, sejak kegiatan penambangan dimulai sekitar dua tahun
lalu, kerap muncul persoalan dengan warga. Mulai belum adanya titik
temu terkait lahan tambang, jalan menuju tambang, hingga dugaan
pencemaran sungai Cokrokembang oleh limbah tambang. Klimaksnya,
sekitar satu bulan lalu, warga melakukan penutupan jalan. Akibatnya,
aktivitas penambangan pun terhenti. “Hampir satu bulan ini kami tidak
bekerja lagi,” kata Katni,42, salah seorang pekerja operator diesel
yang ikut hearing ke Dewan, kemarin (3/12).
Diungkapkan, sebagai operator diesel, Katni digaji Rp 800 ribu per
bulan oleh PT. GLI. Paling tidak, gaji itu dirasa cukup untuk
menghidupi isteri dan 3 orang anaknya. Tetapi, dengan berhentinya
aktivitas tambang, pendapatan rutin setiap bulan itu pun terancam.
“Tolong, persoalan itu segera diselesaikan secepatnya. Sehingga kami
bisa bekerja lagi,” terang Katni yang diamini puluhan pekerja lainnya.
Dijelaskan, sekitar 100-an warga setempat ikut bekerja di lokasi
penambangan. Karena itu, jika persoalan terus berlanjut dan berdampak
mereka tidak bisa bekerja lagi, warga pun meminta Dewan mencarikan
solusinya. Sebab, pekerja sendiri tidak berani membuka jalan yang
ditutup warga. Dengan argumen, tidak ingin terjadi gesekan antar warga
sendiri.
Sementara, hearing yang difasilitasi DPRD Pacitan, berjalan kondusif.
Secara bergantian perwakilan pekerja, Kades Kluwih (Jumeno), Camat
Tulakan (Supardiyanto) dan Direktur PT. GLI (Delvis K. Irianto)
menyampaikan argumen dan kronologis kejadian. “Kami menampung aspirasi
semua pihak, untuk kemudian membantu penyelesaian terbaik dan
secepatnya,” kata Ketua DPRD Pacitan, Soetopo.
Setelah semua pihak menyampaikan pendapatnya, akhirnya disepakati,
akan dilakukan pertemuan antara PT. GLI dengan warga pemilik lahan di
lokasi penambangan. Pertemuan itu dilaksanakan oleh Kades Kluwih
dibantu Muspika Kecamatan Tulakan. Sedang Dewan memonitor kegiatan
itu. Sebab, kunci persoalan itu adalah warga pemilik lahan bertemu
dengan PT. GLI. Tidak itu saja, pertemuan harus menghasilkan keputusan
yang jelas dan tegas.
Usai hearing, Direktur PT. GLI, Delvis K. Irianto menyatakan, selama
kegiatan penambangan berhenti, pihaknya menderita kurugian financial
yang tidak sedikit. Terlebih, selama hampir satu bulan berhenti,
pihaknya masih terus menggaji puluhan karyawan pabrik.
Tidak itu saja, tuntutan warga tentang Instalasi Pembuangan Air Limbah
(IPAL) sudah mulai dikerjakan. Begitu juga dengan kompensasi ke Desa
Kluwih sebesar Rp 3,5 juta dan ke Dusun Pinggir Rp 5 juta per bulan,
selalu dipenuhi. Bahkan, pihaknya juga berencana mengembangkan
penambangan di wilayah lain di Pacitan. “Tetapi, kalau kondisinya
sulit dan tidak bisa diselesaikan, pemilik uang akan menarik investasi
di Pacitan,” ancam Delvis.
Nelayan Pacitan Ingin Pembangunan Cold Storage Dipercepat
PACITAN -Para nelayan di Kabupten Pacitan, berharap wacana pembangunan
cold storage segera direalisasikan. Keinginan ini muncul setelah
mereka bertemu staf ahli anggota DPR RI, Ramadhan Pohan, Irvan Riza di
Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. “Keberadaan cold storage
penting untuk menstabilkan harga ikan,” kata Hasbullah, nelayan
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Temparen, kemarin.
Dikatakannya, akibat belum tersedianya ruang pendingin itu, nelayan
secara tidak langsung dirugikan karena mereka tidak bisa mengontrol
harga. Namun hal ini akan lain jika cold storage tersedia. Nelayan
bisa bebas mengatur volume keluar masuk produk perikanan sehingga
harga tidak fluktuatif. “Selama ini nelayan hanya bergantung pada
kondisi pasar. Jika panen melimpah harga akan anjlok,” terang
Hasbullah.
Namun demikian, imbuh Hasbullah, pembangunannya harus memperhatikan
tata letak dan perencanaan yang matang. Misalnya, aksesbilitas hingga
Analisis Dampak Lingkungannya. Ia menyarankan, sebaiknya lokasi
bangunan dekat dengan pantai dan jauh dari pemukiman. Alasannya, cold
storage akan memproduksi limbah dan mengeluarkan suara bising selama
beroperasi. “Artinya akan ada polusi suara dari kegiatan di cold
storage. Dengan demikian, tidak ada pihak-pihak yang nantinya merasa
dirugikan,”ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Hartono, nelayan setempat. Menurutnya,
sebenarnya para nelayan sangat mendukung keberadaan proyek itu.
Tetapi, dalam prosesnya, hendaknya tetap memperhatikan lingkungan.
Dicontohkannya, warga di sekitar PPP Tamperan mulai merasakan debit
air bersih menurun. Ini seiring bermunculannya bangunan, baik
pemukiman maupun warung-warung disekitar lokasi pantai. “Jangan sampai
kegiatan proyek mematikan sumber air yang ada,” paparnya.
Sementara itu, Staf Ahli anggota DPR RI, Ramadhan Pohan, Irvan Riza
mengatakan, kedatangannya ke Pacitan dalam rangka melakukan survey
rencana pembangunan cold storage. Ada banyak hal yang digali olehnya,
baik dari segi data teknis, pasar hingga segi finansial. Diharapkan,
dari data di lapangan akan didapat master plan rencana proyek cold
storage tersebut. “Kita butuh data lapangan agar keberadaannya bisa
dirasakan dan menguntungkan bagi semua pihak,” jelasnya.
Dua Pelajar Selandia Baru Ke SMAN I Pacitan
PACITAN – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) I Pacitan, menerima dua
orang pelajar dari Selandia Baru. Keduanya adalah Rachel Cain dan
Shaikh Firdaus. Rencananya, keduanya akan berada di Pacitan selama 6
minggu. “Keduanya sudah tiga hari berada di SMAN I Pacitan,” kata
Giyono, salah satu Guru Bahasa Inggris SMAN I Pacitan, kemarin.
Dijelaskan, SMAN I merupakan sekolah Rintisan Sekolah Berstandar
Internasional (RSBI). Tentunya, untuk menjadi Sekolah Berstandar
Internasional (SBI), ada salah satu kriteria yang harus dipenuhi.
Yakni, menjalin kerjasama dengan luar negeri, seperti mendatangkan
pelajar dari Selandia baru. “Kegiatan ini setidaknya dilakukan satu
tahun sekali, berkaitan dengan kurikulum dan kesiswaan,” imbuhnya.
Rachel Cain, baru saja menyelesaikan pendidikannya di perguruan
tinggi. Sedang Shaikh Firdaus, anggota AIESEC. Sebuah organisasi
pertukaran pemuda dan pelajar sedunia yang telah tersebar di 107
negara. Untuk Indonesia sendiri, perwakilan AIESEC berada di Surabaya,
Malang, Jakarta, Semarang, Bandung, dan beberapa kota besar lainnya.
“Keberadaan keduanya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas
pembelajaran bahasa Inggris.”
Terlebih, saat ini, di SMAN I ada program English Day setiap hari
Sabtu. Dimana, semuanya, mulai siswa sampai guru, wajib berkomunikasi
menggunakan bahasa Inggris. Bahkan, setiap Selasa sore, para guru
diberi les bahasa Inggris. Sehingga, kegiatan itu semakin memotivasi
dan membiasakan komunikasi dengan bahasa Inggris.
Sementara, kendati baru pertama kali dikirim ke pacitan, Rachel,
mengaku senang. Diakui, pendidikan di negaranya dan Indonesia ada
perbedaan. Di Selandia Baru, system pendidikannya lebih ke ilmu murni,
lebih khusus. Dan murid-muridnya boleh memilih subjek ilmu yang akan
diajarkan. Sedang di Indonesia, murid tidak bisa memilih sendiri
subjek ilmu yang diinginkannya. Selain itu, fasilitas penunjang di
Selandia Baru jauh lebih modern. “Kalau manajemen di kelas, hampir
sama dengan SMAN I Pacitan,” kata Rachel.
Lebih lanjut, cewek tinggi besar ini mengaku tidak menemui kendala
berarti selama 3 hari di Pacitan. Sebab, masyarakatnya, baik di
sekolah maupun sekitar tempat tinggalnya, orangnya baik dan ramah.
Tidak itu saja, yang membuatnya kagum adalah pemandangan alamnya yang
sangat indah. Baik pantai maupun gunung-gunung yang alami. “Awalnya,
saya sempat shock dengan cuaca yang sangat panas. Sekarang sudah bisa
beradaptasi,” pungkas Rachel.