981 Orang Guru di Pacitan Ikuti Tes Kompetensi
PENDIDIKAN PACITAN – Guna meningkatkan kualitas guru, Dinas Pendidikan Pacitan,
mengadakan tes kompetensi professional guru mata pelajaran Ujian
Nasional, Sabtu (28/11). Dalam kegiatan itu, diikuti sekitar 981
orang guru mata pelajaran. “Program ini sudah direncanakan satu tahun
lalu,” kata Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Heru Wiwoho, kemarin
(28/11).
Dijelaskan, jumlah peserta sebanyak itu berasal dari tingkatan lembaga
sekolah. Dengan rincian, guru SMP sebanyak 648 orang, SMA 181 orang
dan guru SMK sebanyak 152 orang. Untuk SMP, ada lima mata pelajaran.
Yakni, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA Biologi dan
IPA Fisika. Tingkat SMA terdiri Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA,
Matematika, Biologi, Ekonomi, Fisika, Geografi, Kimia dan Sosiologi.
Sedang untuk SMK hanya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan
Matematika.
Selama ini, Dinas Pendidikan lebih cenderung berkonsentrasi pda
pembangunan fisik. Diantaranya membangun atau pun merehap sejumlah
ruang kelas sekolah. Selain itu, juga melakukan penambahan jumlah guru
berikut dengan penataan mengajar guru. Karena itu, kegiatan berikutnya
adalah meningkatkan kualitas guru. Khususnya, guru mata pelajaran yang
diikutkan dalam ujian nasional.
Upaya itu, merupakan langkah awal dalam meningkatkan kualitas
pendidikan secara umum di Pacitan. Disisi lain, juga sebagai referensi
data untuk melangkah pada program berikutnya, seperti
pelatihan-pelatihan. Paling tidak, hasil tes kompetensi tersebut,
dijadikan rujukan Dinas Pendidikan untuk memberikan analisa terkait
kualitas guru mata pelajaran. “Kegiatan ini bekerja sama dengan
Universitas Surabaya (Unesa)”.
Sementara, Suroso, salah seorang Dosen Unesa, mengungkapkan, tes
kompetensi di Pacitan ini merupakan kali ketiga di Jawa Timur, setelah
Surabaya dan Jombang. Tujuannya adalah melakukan pemetaan guru secara
riil. Artinya, dengan tes tersebut akan diketahui sejauh mana kekuatan
dan kelemahan guru mata pelajaran ujian nasional. “Ada dua hal materi
yang diujikan. Yakni, penguasaan materi dan scenario pembelajaran,”
kata Suroto.
Mengenai bobot soal yang diujikan sangat bervariasi, tergantung
jenjang pendidikan dan jenis mata pelajaran. Kendati waktu pengerjaan
sama selama tiga jam, namun jumlah soal berbeda, berkisar 10 sampai 21
halaman. “Idealnya, selama satu semestrer dilakukan satu kali kegiatan
pengingkatan kualitas,” terangnya.
Kegiatan itu dinilai beragam oleh guru peserta. Namun, semuanya
menilai kegiatan tersebut sangat bagus dalam upaya meningkatkan
kualitas guru. Seperti dungkapkan Nur Kasanah, Guru Matematika SMP
Muhamadiyah 2 Tulakan. “Ada 15 soal dan dua skenario pembelajaran.
Kami siap mengikuti tahapan berikutnya untuk lebih mematangkan program
tersebut,” ujarnya.