Archive for the ‘Ekonomi’ Category
Rendah, Kontribusi Industri Tembakau Terhadap PAD
EKONOMI PACITAN- Kontribusi sektor industri tembakau terhadap Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Pacitan, Jawa Timur tergolong rendah. Dari
total PAD tahun 2009 sebesar Rp 26 milyar, donasi dari bisnis asap ini
hanya 0,06 persennya saja. “Meski hasilnya masih minim tapi sudah
mampu memberikan kontribusi pada PAD,” kata Kabag Administrasi
Perekonomian Pemkab Pacitan, Sutrisno, Selasa (2/11).
Pemasukan terbesar berasal dari dana kompensasi cukai rokok, dimana
pada tahun 2008 lalu Pacitan menerima Rp 4 milyar lebih. Dana itu
diwujudkan dalam program ke masyarakat melalui satuan kerja perangkat
daerah (SKPD). Jumlah kontribusi itu tidak termasuk hasil tembakau
dari petani. Sebab, hasil budidaya bahan baku rokok tersebut masuk
dalam perhitungan pendapatan masyarakat. “Yang kami hitung adalah
peningkatan industri tembakau terhadap PAD,” ujar Sutrisno.
Dikatakannya, jumlah industri rokok di Pacitan hanya sembilan
perusahaan. Itupun tidak beroperasi semuanya. Ada sekitar 2 atau 3
perusahaan yang tidak beroperasi karena kondisi internal perusahaan.
Kedepan, ia optimis industri tembakau akan berkembang tetapi semua
tergantung pada manajemen dan pola pengembangan usaha yang dijalankan
perusahaan.
Berdasarkan data Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan nilai
investasi 9 perusahaan tersebut total mencapai Rp 3,5 milyar. Jumlah
terbanyak dicatat PT. Putera Pacitan Indonesia Sejahtera dengan nilai
investasi sekitar Rp 3 milyar atau 87 persen. Disusul kemudian PT.
Sari Agung dengan Rp 162 juta atau 4,7 persen.
Sementara itu, luasan lahan tanaman tembakau sebagai bahan dasar rokok
dari tahun ke tahun juga meningkat. Pada tahun 2007, luas lahan hanya
3 hektar. Jumlah ini naik menjadi 13 hektar pada 2008 dan 190 hektar
di tahun 2009. Sedangkan proyeksi untuk tahun depan adalah 250 hektar.
Hanya, temuan di lapangan, pelaksanaan program tanam tembakau di
Pacitan, belum semuanya menuai hasil maskimal. Sebab, masih ada
beberapa kelompok tani yang belum memiliki ketrampilan merajang daun
tembaku hasil panenennya, sesuai standar yang ditentukan pihak
pengepul atau pabrik. Sehingga, berdampak pada hasil penjualan produk
daun tembakau itu. Tentunya, jika petani terampilan merajang atau
melakukan perawatan daun tembakau pasca panen, tentu usaha itu akan
menghasilkan pendapatan lumayan bagi petani, sekaligus menyumbang PAD.