Archive for the ‘Kesehatan’ Category
Puluhan Warga Pacitan Barat, Terserang Chikungunya
KESEHETAN PACITAN – Awal musim penghujan ini, penyakit yang ditularkan oleh
nyamuk, mulai menyerang sebagian masyarakat Pacitan bagian barat.
Sebelumnya, puluhan warga Kecamatan Punung, terserang Chikungunya.
Kini, penyakit yang menyerang persendian tulang itu, dikabarkan mulai
mewabah ke Kecamatan Donorojo.
Sejumlah warga Donorojo mengatakan, ada sekitar 20-an warga
terjangkiti Chikungunya. Serangan penyakit itu ditandai munculnya
gejala demam sangat tinggi dan sakit pada persendian tulang. Beberapa
desa di Kecamatan Donorojo yang terindikasi terserang penyakit itu
diantaranya Desa Sukodono, Desa Gedompol, Desa Belah dan Desa Kalak.
Hanya berapa banyak jumlah warga yang positif terjangkit chikungunya
belum bisa dipastikan. Sebab, untuk memastikannya harus melalui
pemeriksaan laborat. Terlebih, sumber di Dinas Kesehatan (Dinkes)
Pacitan mengatakan, informasi adanya warga Donorojo terserang
chikungunya belum ada laporan. “Kalau di Kecamatan Punung (berbatasan
dengan Kecamatan Donorojo), ada sekitar 40-an warga menderita
chikungunnya. Kalau di Donorojo, belum ada laporan,” kata petugas
Dinkes setempat, kemarin.
Untuk mengantisipasi mewabahnya penyakit tesebut, sejumlah warga di
Kecamatan Donorojo sudah melakukan gerakan PSN (pemberantasan sarang
nyamuk). Menurutnya, PSN dipandang sebagai tindakan paling tepat dan
ampuh untuk melumpuhkan nyamuk penyebar virus chikungunya. Selain
itu, juga dilakukan abatisasi dan penyelidikan epidemiologi (EPE).
Diduga, mewabahnya kasus chikungunya di Kecamatan Donorojo itu,
berawal ketika daerah perbatasan (kabupaten tetangga, Wonogiri, red)
melakukan pengasapan (fogging). Akibatnya, nyamuk-nyamuk penyebar
virus mematikan itu bermigrasi ke Pacitan. Secara geografis, Kecamatan
Donorojo memang terletak di garis perbatasan dengan Kabupaten
Wonogiri. “Sehingga wajar, ketika kabupaten tetangga melakukan
fogging, kita yang kena dampak. Terlebih, di kecamatan terdekat
(Punung, red), puluhan warga juga terserang chikungunnya,” imbuh salah
seorang warga Donorojo.
Selain chikungunnya, warga juga melakukan antisipasi terhadap penyakit
lainnya yang juga ditularkan oleh nyamuk. Yakni, Demam Berdarah Dengue
(DBD). Terlebih, tahun-tahun sebelumnya, penyebaran penyakit
mematikan ini, mulai merambah hampir disemua kecamatan. Biasanya,
serangan penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk Aides Aghepty itu
terjadi pada kurun waktu Januari sampai Maret.
Gizi Buruk, Terkait Perilaku Masyarakat
KESEHATAN PACITAN – Selain faktor ekonomi, munculnya beberapa kasus gizi buruk juga disebabkan perilaku masyarakat, khususnya orang tua. Sebab, penanganan anak itu dilakukan sejak dalam kandungan. “Saat hamil, si ibu harus berperilaku sehat. Baik memeriksakan kondisi kandungan secara kontinyu, termasuk pemenuhan kebutuhan gizi,” kata Kabid Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan, Pacitan, Wawan Kasiyanto. Terlebih, sekarang sudah ada poliklinik dan bidan di masing-masing desa. Usia perkawinan relatif lebih baik. Begitu juga dengan pemahaman kesehatan. Hanya, terkadang, sebagian masyarakat lebih mementingkan kebutuhan sekunder, ketimbang masalah kesehatan. Dicontohkan, diantara balita yang menderita gangguan pertumbuhan, kondisi orang tuanya cukup mampu. Rumahnya bagus, punya sepeda motor ada TV dan sebagainya. Sehingga, jika dikaitkan persoalan ekonomi kurang tepat. Realita di lapngan itulah yang akan dijadikan kajian untuk lebih menyadarkan perilaku masyarakat terhadap pentingnya kesehatan balita, mulai di dalam kandungan hingga remaja. “Akibatnya, 70 persen remaja di Pacitan, tinggi badannya di bawah standar,” terang Wawan. Banyak perilaku tidak sehat yang dilakukan orang tua (ibu). Misalnya, seorang ibu tengah mengandung dan menderita sakit kepala. Dengan sembarangan mengkonsumsi obat sakit kepala yang dibeli di warung-warung. Begitu juga pola makannya, yang cukup dengan nasi dan sambal dan sebagainya. Tanpa disadari, perilaku seperti itu berdampak pada bayi yang dikandungnya. Kendati begitu, secara umum, persoalan gizi di Pacitan masih bagus. Bahkan, berdasarkan data di Jatim, Pacitan menempati urutan dibagian atas. Artinya, masih lebih baik dibanding daerah lain di Jatim. Hanya, jumlah bayi mati saat dilahirkan ada kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun 2008 tercatat sekitar 56 bayi mati saat dilahirkan, tahun ini meningkat menjadi 86 kasus. Begitu juga dengan kematian ibu melahirkan, dari 4 kasus (tahun 2008) menjadi 6 kasus di tahun 209 ini. Sementara, pemkab Pacitan terus mengupayakan peningkatan penanganan masalah perbaikan gizi, khususnya anak sampai remaja. Hal itu terlihat dari naiknya anggaran penanganan gizi melalui APBD tahun 2010. Tentunya, program-program itu harus diimbangi dengan kedaan masyarakat terkait pentingnya gizi bagi pertumbuhan anak-anaknya.
3 Balita di Kabupaten Pacitan Terindikasi Kurang Gizi
KESEHATAN PACITAN – Tiga anak balita di Desa Worawari, Kecamatan Kebonagung,
Pacitan, terindikasi kurang gizi. Ketiganya, tidak saja mengalami
gangguan pertumbuhan. Tetapi, juga perlu penanganan tenaga medis.
“Kami sudah survey ke lokasi. Ketiga balita itu butuh bantuan
secepatnya,” kata Kabid Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan, Pacitan,
Wawan Kasiyanto.
Dijelaskan Wawan, Feril, misalnya. Balita berusia dua tahun itu,
mengalami gangguan pertumbuhan. Selain itu, sejak lahir sudah
menderita kelainan pada telapak kaki. Sehingga, perlu terapi dengan
bantuan sepatu khusus. “Tepalak kakinya bengkok, sulit berjalan, berat
badan dan tinggi tubuh tidak normal.”
Balita malang ini disebabkan kondisi ekonomi dan kurangnya perhatian
kesehatan dari orang tua. Sejak usia 7 hari hingga sekarang, tinggal
bersama kakek-neneknya. Disisi lain, kondisi ekonomi kakek-neneknya
cukup miskin. Kakeknya hanya buruh di kebun dan diduga menderita
sakit. Sehingga, keluarga itu butuh bantuan pangan dan pengobatan.
Baik balita maupun si kakek.
Gangguan pertumbuhan juga dialami Sabrina. Balita berusia dua tahun
ini terindikasi kurang gizi. Akibatnya, balita itu tidak tumbuh normal
seperti kebanyakan anak-anak diusianya. Sedang Dina,4, mengalami
masalah kesehatan. Diduga, sejak lahir mengalami gangguan di saluran
THT. Sehingga, balita itu menjadi tuli, bisu dan ada dugaan mengalami
gangguan syaraf. “Ekonomi orang tuanya cukup mampu. Hanya
pengobatannya saja yang kurang,” imbuh Wawan.
Untuk menangani kasus tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan
dinas terkait. Terlebih, balita dan keluarganya belum tercatat sebagai
anggota Jamkesmas. Mengenai hal itu pihaknya akan berkoordinasi dengan
instansi lainnya mempercepat kepengurusannya. Sehingga, secara
administrasi memudahkan penanganan kasus itu.
Diakuinya, awalnya, ada 6 balita yang diindikasi mengalami kurang
gizi. Namun, setelah dilakukan survey langsung ke masing-masing
lokasi, 3 balita lainnya dinyatakan sehat. Gangguan pertumbuhan yang
dialami disebabkan faktor keturunan. “Orang tuanya memang pendek.
Tentu saja, anaknya juga pendek, tetapi sehat”.
Tiga kecamatan di Kabupaten Pacitan dinyatakan ODF
KESEHATAN PACITAN-Paling lambat akhir tahun ini, tiga wilayah di Kabupaten
Pacitan, berstatus Open Devication Free (ODF). Ketiganya adalah
Kecamatan Pringkuku, Punung dan Donorojo. “Sampai saat ini ditiga
wilayah tersebut masih terdapat sekitar 5 persen masyarakat yang belum
terverifikasi ODF,” kata Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Pacitan Hendra Purwaka, kemarin.
Menurutnya, khusus kecamatan pringkuku, semua wilayahnya sudah
dinyatakan ODF. Sedangkan kecamatan Donorojo masih menyisakan satu
desa begitu juga dengan kecamatan Punung sebanyak dua desa. Pihaknya
optimis ketiga kecamatan yang dijadikan pilot project itu akan
terbebas dari buang air besar sembarang tempat akhir tahun ini.
Berbagai upaya pemicuan terus dilakukan, terutama pada kelompok
masyarakat yang belum tersentuh ODF.
Diakui Hendra, memang butuh waktu lama untuk merubah pola pikir
masyarakat. Dari proses pemicuan awal , verifikasi hingga monitoring
membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun. Baru pada tahun kedua
hasilnya mulai bisa dirasakan. Kedepan, program serupa juga akan
dikembangkan dikecamatan lain. Bahkan saat ini beberapa puskesmas
wilayah, mulai melakukan penjajagan program sanitasi total berbasis
masyarakat itu. “Ditargetkan dalam dua tahun mendatang seluruh wilayah
dikabupaten Pacitan dinyatakan ODF,” ujarnya.
Kecamatan Pringkuku, Punung dan Donorojo mulai menjadi proyek
percontohan sanitasi total dan pemasaran sanitasi (STOPs) pada tahun
2007.Selama dua tahun perjalanan berbagai tantangan dan persoalan
mulai bermunculan. Terlebih wilayah Pacitan bagian barat merupakan
daerah sulit air bersih dan rawan kekeringan. Dibutuhkan kesabaran dan
ketelatenan par kader untuk merubah kebiasaan masyarakat, dari BAB
sembarangan menuju BAB yang saniter.
Kaki Gajah, Penyebab Cacat Nomor Dua Setelah Kusta
KESEHATAN PACITAN-Meski tidak tergolong penyakit yang mematikan, namun
Elephantiasis/Filariasis (penyakit kaki gajah) patut diwaspadai.
Sebab, pada stadium puncak, penderita tidak lagi bisa beraktifitas
karena munculnya pembengkakan di beberapa bagian tubuh yang terserang.
Seperti kaki, tangan dan bahkan beberapa organ vital luar lainnya.
“Pada stadium 7, praktis penderita tidak bisa beraktifitas, dan
dicatat menjadi penyebab kecacatan ke 2 setelah kusta,” kata Staf
Subdit Filariasis Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan (Depkes), Helena di Pacitan,
kemarin.
Dari hasil pengamatan sementara, di wilayah Pacitan ditemukan 6 orang
penderita kaki gajah yang berasal dari dua kecamatan, yakni Kecamatan
Kebonagung dan Kecamatan Donorojo. Di Kecamatan Kebonagung, ada 3
orang penderita. Satu orang ditemukan di Desa Sidomulyo dan 2 orang
lainnya di Desa Kalipelus. Namun satu orang penderita diketahui telah
meninggal. Sedangkan di Kecamatan Donorojo, penderita di temukan di
Desa Belah (2 orang) dan Desa Widoro (1 orang). “Tetapi meninggalnya
bukan karena penyakit kaki gajah, tapi karena penyakit lainnya,” tukas
Helena.
Sesuai rencana tim survei akan melaksanakan kegiatannya selama 3 hari
terhitung sejak Kamis (12/11) kemarin. Sebanyak 1.000 warga akan
dijadikan sampel. Hingga hari ini, tim baru menyelesaikan separuh dari
jumlah total populasi sampel. Dari hasil survei tersebut nantinya akan
diketahui daerah tersebut menjadi endemis penyakit kaki gajah atau
tidak. Penderita kaki gajah sendiri di Pacitan diketahui pertama kali
ada pada tahun 1991 dan telah dilakukan pengobatan secara selektif.
“Daerah jadi endemis filariasis jika jumlah penderita yang ditemukan 1
% dari total populasi sampel,” terang Helena.
Di Propinsi Jawa Timur sendiri, dari survey di 30 kabupaten/kota,
ditemukan sekitar 300 kasus Filariasis. Jumlah temuan terbanyak ada di
Kabupaten Lamongan, yakni 40 kasus lebih. Disusul berturut-turut
Malang dengan 30 kasus dan kemudian Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan
data pemetaan Subdit Filariasis dan Schistosomiasis Depkes antara
tahun 2002 sampai tahun 2005, daerah endemis sebagian besar berada di
Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan dari hasil survei cepat
tahun 2000, sebanyak 6.233 orang menjadi penderita kronis Filariasis.
Helena mengatakan, bagi orang awam, gejala awal penyakit kaki gajah
memang terlihat seperti gejala pada penyakit demam biasa. Penderita
akan merasakan demam, panas dan kelenjaran di lipat paha. Media
penyebarannya melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva
stadium 3. Pada saat menggigit manusia, maka larva akan tinggal di
kulit sekitar lubang bekas gigitan. Ketika nyamuk menarik probosisnya
(belalai untuk menghisap darah), larva akan masuk melalui bekas lubang
gigitan. “Perkembangannya terjadi dalam waktu yang cukup lama
(bertahun-tahun),” paparnya.
Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial
yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Sementara,
hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus
Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres yang dapat berperan
sebagai vector penular penyakit kaki gajah. Selain faktor tersebut,
lingkungan juga berperan menjadi media penyebaran penyakit tersebut.
Misalnya wilayah persawahan, rawa-rawa, genangan air dan lain
sebagainya, sebagai tempat berkembang biak nyamuk.
Lebih lanjut Helena menjelaskan, penyakit yang disebut “terlupakan”
ini juga berdampak secara ekonomis. Penderita yang telah berada pada
stadium puncak (stadium 7) praktis tidak akan bisa beraktifitas dan
hanya menjadi beban keluarga. Dicontohkannya, jika penderita adalah
seorang petani, ketika kondisinya semakin parah, maka ia tidak akan
mampu bekerja dan mencari nafkah bagi keluarganya. “ Penyakit ini juga
termasuk yang “memiskinkan” bagi masyarakat,” jelasnya.
Makin marak pelajar hamil diluar nikah
Tangkal Kehamilan, Gelar Penyuluhan Reproduksi
KESEHATAN PACITAN-Maraknya kehamilan di luar nikah yang dialami pelajar
setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), membuat banyak kalangan
miris. Tentu saja, hal itu tidak saja merugikan pelajar seniri.
Tetapi, juga keluarga dan lingkungan, baik tempat tinggal maupun
lembaga sekolah. Penyuluhan reproduksi yang dilakukan PMR SMPN 1
Pacitan, Sabtu (24/10) malam, di aula, kemarin, merupakan salah satu
upaya mencegah perilaku seks pranikah. “Kegiatan itu merupakan
rangkaian ujian pengambilan syal PMR dan reorganisasi pengurus,” kata
Murni, salah seorang Pembina PMR SMPN 1 Pacitan, kemarin (24/10).
Dijelaskan, kegiatan itu memang sudah beberapa kali dilakukan.
Tujuannya, memberikan informasi sejak dini pada para siswi seputar
reproduksi. Sehingga, pelajar mendapatkan pemahaman yang benar tentang
reproduksi. Tujuannya, mencegah para pelajar melakukan pernikahan di
usia muda serta memahami bahaya seks pranikah.
Hal senada diungkapkan dr. Hendra Purwaka, pembicara penyuluhan
reproduksi. Reproduksi, sangat penting dipahami remaja. Khususnya,
tentang perilaku seks diusia dini. Sehingga, dengan penjelasan
gambling yang disertai pemutaran film, semakin memperjelas remaja.
“Melahirkan itu sakit dan ada tanggung jawab. Tentunya, semua harus
dipersiapkan dengan matang,” kata Hendra.
Diakui, sebenarnya, dokter yang aktif diorganisasi PMI ini, akan
memberikan penyuluhan tentang bahaya narkoba. Tetaapi,, lantaran tema
itu sudah terlalu sering disampaikan. Disisi lain, tidak semua pelajar
menjadi pecandu atau pemakai narkoba. Berbeda dengan reproduksi, mulai
dari seks, hingga proses kehamilan, tentunya semua wanita ditakdirkan
mengalami.
Hendra mengaku gundah melihat kondisi sekrang ini. Apalagi, jika
terdapat remaja putri seolah tidak ada rasa khawatir tantang masa
depannya. Salah satu contoh kasusnya adalah adanya remaja yang hamil
sebeljum nikah. Bukan saja berat resiko dan dosanya. Tetapi,
menunjukkan tidak adanya rasa hormat oleh lawan jenisnya
Karena itu, Hendra berharap semua pihak, mulai orang tua, lingkungan
sekolah dan lingkungan tempat tinggal, harus mampu menciptakan suasana
kondusi. Paling tidak, orang tua atau lembaga pendidikan harus
menjelaskan arti seks secara benar. Misalnya, dengan memberikan
informasi tentang seks. Misalnya, penjelasan fungsi alat-alat kelamin
yang bisa menyebabkan kehamilan dan sebagainya.
Memang, dalam kegiatan penyuluhan yang diikuti oleh sekitar 230 orang,
menarik antusias pelajar. Tak pelak, dalam sesi pemutaran video yang
menampilkan proses panjang sebuah kehamilan, membuat ratusan peserta
menjadi riuh. Bahkan, ketika menjelaskan alat reproduksi, bebeapa anak
perempuan banyak yang menutup mata. “Asyik, Mas. Baru kali ini lihat
gambar gituan dengan jelas dan gamblang,” kata beberapa anak
bersamaan.
Jumlah Penggunaan Obat Gangguan Kejiwaan Meningkat
KESEHATAN PACITAN - Akhir-akhir ini, pengeluaran obat yang diperuntukkan bagi
penderita gangguan kejiwaan disejumlah kecamatan, di Kabupaten
Pacitan. Hal itu terlihat dari daftar pengeluaran obat yang
menunjukkan adanya peningkatan sekitar 5 – 10 persen.
Sumber di Dinas Kesehatan Pacitan, menyebutkan ada beberapa puskesmas
besar yang menunjukkan peningkatan. Diantaranya, di Puskesmas
Arjosari, dan juga Puskesmas Pringkuku. Beberapa puskesmas lainnya
juga menunjukkan adanya peningkatan. Hanya jumlahnya masih belum
didata secara rinci prosentasenya.
Menariknya lagi, jumlah itupun hanya berasal dari penderita atau
keluarga penderita yang proaktif berobat ke Puskesmas. Artinya, masih
banyak jumlah penderita gangguan kejiawaan lain yang kurang proaktif
atau sengaja dibiarkan oleh keluarganya karena kondisinya sudah parah.
Di Puskesmas Pringkuku, misalnya, dalam sebulan, rata-rata menerima
satu hingga tiga laporan adanya penderita baru gangguan kejiwaan.
Sehingga, dalam kurun waktu satu tahun, terdapat sekitar 25 orang
penderita yang menjalani rawan perawatan. Meski ada diantara pasien
yang dinyatakan sembuh, namun beberapa penderita diantaranya harus
dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Solo (Jawa Tengah) maupun
Yogyakarta karena kondisinya sudah parah.
Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas
Kesehatan Pacitan, dr Hendra Purwaka, membenarkan adanya trend
meningkat penderita gangguan jiwa. Hanya, mengenai data pasti, baik
jumlah penderita, latar belakang pasien dan sebagainya masih dilakukan
pencatatan. “Memang ada peningkatan konsumsi obat bagi gangguan
kejiwaan, seperti di Puskesmas Kecamatan Arjosari,” katanya, Minggu
(25/10).
Dikatakan Hendra, ada berbagai macam penyebab gangguan kejiwaan.
Selain psikologis, gangguan terjadi juga karena faktor genetik.
Dinamisasi kehidupan sosial diperkirakan menjadi salah satu faktor
pencetus tidak stabilnya kondisi kejiwaan seseorang. Misalnya, tekanan
karena sulitnya memperoleh pekerjaan dan pergeseran trend gaya hidup.
“Namun bisa juga gangguan kejiwaan merupakan penyakit bawaan atau
keturunan,” papar Hendra.
Tidak itu saja, masalah ekonomi juga kerap kali berujung pada
menumpuknya beban psikologis. Pola hidup konsumtif sebagai akibat dari
semakin majemuknya interaksi sosial maupun terpaan media ikut
mendorong pertumbuhan gangguan kejiwaan. Meski tidak berlaku mutlak,
hal-hal yang bersifat eksternal ini bisa mempengaruhi pemikiran
individu untuk berharap lebih. Padahal, kenyataan yang ada tidak
mendukung. “Adakalanya, masalah keluarga, seperti perceraian membuat
salah satu pihak tertekan hingga batas kemampuannya,” jelas Hendra.
Lebih lanjut, dokter yang juga aktif di organisasi PMI ini, mengajak
masyarakat untuk belajar bersabar, memahami proses dan berpikir
realitas. Sebab, sangat mungkin, jumlah penderita gangguan jiwa dari
tahun ke tahun akan terus mengalami peningkatan. Seiring dengan
semakin beratnya beban hidup yang dialami masyarakat. Misalnya,
naiknya harga-harga kebutuhan, yang ditambah dengan
permasalahan-permasalahan keluarga dan lingkungan, bisa juga memicu
munculnya penyakit gangguan kejiwaan.
Karena itu, ada baiknya masyarakat yang merasa mengalami beban berat,
memeriksakan sejauh mana tingkat kegilaannya. Atau paling tidak
melakukan konsultasi dengan psikolog atao psikiater. Sehingga, bisa
diketahui sejak dini, jika mengalami gangguan jiwa. “Semua penyakit,
termasuk gangguan kejiwaan, ada tahapan dan tingkatannya. Mulai
stadium dini hingga parah,” pungkas Hendra.