Archive for the ‘Pendidikan’ Category
Pelajar Pacitan nyaris bentrok
Pacitan – Persoalannya sepele, tapi karena saling ejek puluhan siswa dari dua sekolah di Pacitan nyaris terlibat tawuran.
Informasi yang dihimpun kejadian bermula saat beberapa siswa SMK Bina Karya melintas di depan SMK Negeri 3, Jalan Letjen Suprapto .Entah apa sebabnya, beberapa siswa yang mengendarai sepeda motor itu mengember gas motornya.
Rupanya, tindakan itu membuat beberapa siswa SMK 3 yang berada di depan pintu masuk tersinggung. Para siswa dari dua sekolah kejuruan itu terlibat adu mulut. Ujungnya, siswa SMK Bina Karya mengancam akan mendatangi SMK 3 dengan membawa massa lebih banyak.
“Informasinya ada siswa SMK Bina Karya yang akan mendatangi SMK 3. Maka dari itu kita langsung melakukan pengamanan. Tapi sampai sekarang situasinya masih terkendali,” kata Kapolsekta Pacitan AKP Sardjono , Kamis (24/6/2010). Read the rest of this entry »
smk 3 pacitan, smk3 pacitan, cewek pacitan, www polrespacitan com blogurl:http://gemilang-fm biz/, bina karya pacitan, Pelajar cewe SMKDua Pelajar Selandia Baru Ke SMAN I Pacitan
PACITAN – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) I Pacitan, menerima dua
orang pelajar dari Selandia Baru. Keduanya adalah Rachel Cain dan
Shaikh Firdaus. Rencananya, keduanya akan berada di Pacitan selama 6
minggu. “Keduanya sudah tiga hari berada di SMAN I Pacitan,” kata
Giyono, salah satu Guru Bahasa Inggris SMAN I Pacitan, kemarin.
Dijelaskan, SMAN I merupakan sekolah Rintisan Sekolah Berstandar
Internasional (RSBI). Tentunya, untuk menjadi Sekolah Berstandar
Internasional (SBI), ada salah satu kriteria yang harus dipenuhi.
Yakni, menjalin kerjasama dengan luar negeri, seperti mendatangkan
pelajar dari Selandia baru. “Kegiatan ini setidaknya dilakukan satu
tahun sekali, berkaitan dengan kurikulum dan kesiswaan,” imbuhnya.
Rachel Cain, baru saja menyelesaikan pendidikannya di perguruan
tinggi. Sedang Shaikh Firdaus, anggota AIESEC. Sebuah organisasi
pertukaran pemuda dan pelajar sedunia yang telah tersebar di 107
negara. Untuk Indonesia sendiri, perwakilan AIESEC berada di Surabaya,
Malang, Jakarta, Semarang, Bandung, dan beberapa kota besar lainnya.
“Keberadaan keduanya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas
pembelajaran bahasa Inggris.”
Terlebih, saat ini, di SMAN I ada program English Day setiap hari
Sabtu. Dimana, semuanya, mulai siswa sampai guru, wajib berkomunikasi
menggunakan bahasa Inggris. Bahkan, setiap Selasa sore, para guru
diberi les bahasa Inggris. Sehingga, kegiatan itu semakin memotivasi
dan membiasakan komunikasi dengan bahasa Inggris.
Sementara, kendati baru pertama kali dikirim ke pacitan, Rachel,
mengaku senang. Diakui, pendidikan di negaranya dan Indonesia ada
perbedaan. Di Selandia Baru, system pendidikannya lebih ke ilmu murni,
lebih khusus. Dan murid-muridnya boleh memilih subjek ilmu yang akan
diajarkan. Sedang di Indonesia, murid tidak bisa memilih sendiri
subjek ilmu yang diinginkannya. Selain itu, fasilitas penunjang di
Selandia Baru jauh lebih modern. “Kalau manajemen di kelas, hampir
sama dengan SMAN I Pacitan,” kata Rachel.
Lebih lanjut, cewek tinggi besar ini mengaku tidak menemui kendala
berarti selama 3 hari di Pacitan. Sebab, masyarakatnya, baik di
sekolah maupun sekitar tempat tinggalnya, orangnya baik dan ramah.
Tidak itu saja, yang membuatnya kagum adalah pemandangan alamnya yang
sangat indah. Baik pantai maupun gunung-gunung yang alami. “Awalnya,
saya sempat shock dengan cuaca yang sangat panas. Sekarang sudah bisa
beradaptasi,” pungkas Rachel.
981 Orang Guru di Pacitan Ikuti Tes Kompetensi
PENDIDIKAN PACITAN – Guna meningkatkan kualitas guru, Dinas Pendidikan Pacitan,
mengadakan tes kompetensi professional guru mata pelajaran Ujian
Nasional, Sabtu (28/11). Dalam kegiatan itu, diikuti sekitar 981
orang guru mata pelajaran. “Program ini sudah direncanakan satu tahun
lalu,” kata Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Heru Wiwoho, kemarin
(28/11).
Dijelaskan, jumlah peserta sebanyak itu berasal dari tingkatan lembaga
sekolah. Dengan rincian, guru SMP sebanyak 648 orang, SMA 181 orang
dan guru SMK sebanyak 152 orang. Untuk SMP, ada lima mata pelajaran.
Yakni, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA Biologi dan
IPA Fisika. Tingkat SMA terdiri Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA,
Matematika, Biologi, Ekonomi, Fisika, Geografi, Kimia dan Sosiologi.
Sedang untuk SMK hanya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan
Matematika.
Selama ini, Dinas Pendidikan lebih cenderung berkonsentrasi pda
pembangunan fisik. Diantaranya membangun atau pun merehap sejumlah
ruang kelas sekolah. Selain itu, juga melakukan penambahan jumlah guru
berikut dengan penataan mengajar guru. Karena itu, kegiatan berikutnya
adalah meningkatkan kualitas guru. Khususnya, guru mata pelajaran yang
diikutkan dalam ujian nasional.
Upaya itu, merupakan langkah awal dalam meningkatkan kualitas
pendidikan secara umum di Pacitan. Disisi lain, juga sebagai referensi
data untuk melangkah pada program berikutnya, seperti
pelatihan-pelatihan. Paling tidak, hasil tes kompetensi tersebut,
dijadikan rujukan Dinas Pendidikan untuk memberikan analisa terkait
kualitas guru mata pelajaran. “Kegiatan ini bekerja sama dengan
Universitas Surabaya (Unesa)”.
Sementara, Suroso, salah seorang Dosen Unesa, mengungkapkan, tes
kompetensi di Pacitan ini merupakan kali ketiga di Jawa Timur, setelah
Surabaya dan Jombang. Tujuannya adalah melakukan pemetaan guru secara
riil. Artinya, dengan tes tersebut akan diketahui sejauh mana kekuatan
dan kelemahan guru mata pelajaran ujian nasional. “Ada dua hal materi
yang diujikan. Yakni, penguasaan materi dan scenario pembelajaran,”
kata Suroto.
Mengenai bobot soal yang diujikan sangat bervariasi, tergantung
jenjang pendidikan dan jenis mata pelajaran. Kendati waktu pengerjaan
sama selama tiga jam, namun jumlah soal berbeda, berkisar 10 sampai 21
halaman. “Idealnya, selama satu semestrer dilakukan satu kali kegiatan
pengingkatan kualitas,” terangnya.
Kegiatan itu dinilai beragam oleh guru peserta. Namun, semuanya
menilai kegiatan tersebut sangat bagus dalam upaya meningkatkan
kualitas guru. Seperti dungkapkan Nur Kasanah, Guru Matematika SMP
Muhamadiyah 2 Tulakan. “Ada 15 soal dan dua skenario pembelajaran.
Kami siap mengikuti tahapan berikutnya untuk lebih mematangkan program
tersebut,” ujarnya.
Galakkan Operasi Penertiban Pelajar
PENDIDIKAN PACITAN – Belakangan ini, tingkat kenakalan pelajar menunjukkan
peningkatan. Hal itu terlihat adanya kelompok-kelompok pelajar yang
terkadang menimbulkan keributan. Padahal, semua itu hanya dipicu oleh
persoalan kecil. Seperti kejadian beberapa hari belakangan ini,
tentang ancaman terjadinya tawuran masal yang melibatkan ratusan
pelajar. “Polisi terus melakukan pencegahan agar tawuran masal tidak
meledak,” kata Kapolres Pacitan, AKBP Wahyono, kemarin (25/10).
Padahal, selama ini, setiap satu bulan sekali, pihaknya rutin
memberikan pembinaan-pembinaan secara bergilir ke beberapa lembaga
sekolah. Baik mengenai penyuluhan narkoba, operasi HP porno dan
sebagainya, termasuk masalah perkelahaian antar siswa. Sebab, perilaku
pelajar seperti itu sangat merugikan semuanya. Khususnya pelajar yang
bersangkutan. Sebab, jika terjadi perkelahian, semua pelaku akan
ditindak tegas. Dampak terjeleknya, pelaku bias dikeluarkan dari
sekolah atau disel jika terbukti ada unsur pidananya.
Memang, sejumlah lembaga sekolah, memberikan larangan bagi anak
didiknya membawa HP ke sekolah, khususnya HP yang dilengkapi fasilitas
menyimpan foto-foto. Selain dikawatirkan disalahgunakan menyimpan
gambar porno, juga dianggap mengganggu konsentrasi kegiatan
belajar-mengajar di dalam kelas.
Seperti diungkapkan Heru Triyono, Kepala Sekolah SMKN3 Pacitan. Selama
ini, pihaknya melarang siswa membawa HP ke ruang kelas. Jika tidak
mengindahkan larangan itu, akan dikenakan sanksi. Yakni, HP disita
guru dan harus diambil oleh orang tuanya. “Masalah larangan siswa
membawa HP kesekolah sudah disepakati komite dan wali murid. Hanya
satu dua oang tua murid yang tidak setuju,” jelas Heru.
Penagamatan selama ini, kegunaan HP bagi anak-anak saat kegiatan
belajar, banyak ruginya ketimbang manfaatnya. Misalnya, saat pelajaran
berlangsung ada SMS atau telepon masuk. Dan SMS atau telepon itu
hamper kebanyakan dari teman atau pacar. Sehingga membuat
konsentrasinya buyar. Tidak itu saja, ada yang memanfaatkan HP untuk
mendengarkan musik-musik.
Selain mengganggu, proses belajar-mengajar, pemakaian HP juga
bermdapak negative terhadap perilaku siswa. Misalnya, pengaruh gambar
porno yang menyebabkan ada pelajar hamil. Bahkan, ada juga yang
mendorong terjadinya tindak criminal pencurian HP lantaran teman ingin
memilikinya. “Kami mendukung pihak terkait untuk menertibkan
ketertiban dan kedisiplinan siswa,” imbuhnya.
Rebutan Cewek, Ratusan Siswa Nyaris Bentrok
PENDIDIKAN PACITAN – Didiuga persoalan cewek, dua lembaga sekolah di Pacitan, SMK
Bina Karya dan SMKN 3 nyaris bentrok, Jumat (23/10), kemarin. Tetapi,
guru dan polisi berhasil meredam emosi anak-anak. Kendati begitu,
suasana ‘siaga’ masih terasa dikedua lembaga sekolah yang mayoritas
laki-laki itu.
Kepala Sekolah SMK Bina Karya Pacitan, Drs. Kusyairi, mengaku belum
menerima laporan resmi terkait rencana perkelahian yang melibatkan
ratusan siswa-siswanya. Informasi batu didengar dari cerita orang di
luar. “Belum ada laporan resmi dari guru yang menanganinya,” terang
Kusyairi, kemarin (25/10).
Salah seorang Guru Agama SMK Bina Karya, Nanang Arifin, membenarkan
adanya perselesihan anak-anak kedua lembaga sekolah itu. Hanya,
persoalan itu sudah diselesaikan. Artinya, pelajar dan guru sudah
dipertemukan dan menghasilkan kesepakatan damai.
Tetapi, suasana kembali memanas setelah tersebar pesan singkat (SMS)
melalui HP, bahwa anak-anak SMK Bina Karya tidak ada apa-apanya.
Kendati SMS itu tidak jelas sumbernya, namun membuat ratusan pelajar
SMK Bina Karya tersinggung. Pesan itu dinilai sebuah ‘tantangan’. Tak
pelak, sepulang sekolah, ratusan anak-anak berkonsentrasi di depan
SMKN 3. Terlebih, jumlah total pelajar SMK Bina Karya itu sekitar
550-an anak, dan mayoritas laki-laki. “Untungnya guru mengetahui
rencana itu dan kembali meredam dengan mempertemukan siswa yang
bermasalah,” papar Nanang.
Santoso, urusan Humas SMK Bina Karya menambahkan, persoalan itu masih
dalam batas kewajaran. Artinya, tidak seperti anak-anak pelajar di
Kota besar. Kendati begitu, pihaknya gencar melakukan pengarahan dan
pembinaan melalui berbagai kesempatan. Baik dengan tatap muka langsung
maupun saat upacara bendera.
Diakuinya, perkelahian tidak kali ini saja terjadi. Dulu, juga pernah
anak didiknya berantem dengan SMAN I, SMK PGRI maupun SMKN 3. Tetapi,
bisa didamaikan dan tidak sampai menelan korban. Karena itu, lembaga
sekolahnya sangat mendukung jika pihak terkait (Satpol PP dan
kepolisian) menggelar operasi terpadu penertiban pelajar. “Semua hanya
untuk antisipasi saja,” ungkapnya.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Sekolah SMKN 3 Pacitan, Heru
Triyono, membenarkan adanya perselisihan antara anak didiknya dengan
pelaja SMK Bina Karya. Tetapi, permasalahan itu sudah ditangani.
Selalin mempertemukan siswa yang bermasalah, juga memanggil orang tua
yang bersangkutan. “Persolan pacar sudah selesai. Tiba-tiba muncul
persoalan lain, yang sifatnya tantangan dan membuat pelajar
tersinggung,” jelas Heru.
Jika dirunut, persoalan itu sangat sepele dan bersifat pribadi.
Tetapi, akhirnya dibesar-besarkan dan melibatkan ratusan pelajar
lainnya. Dan semua itu terjadi sepulang sekolah. Sebab, di dalam
sekolah suasana aman dan tertib. Begitu juga dengan siswa yang
bermasalah, juga dikenal pendiam. Di rumah juga rajin mengaji. “Semua
sudah diselesaikan oleh guru masing-masing. Dan siswa yang
bersangkutan juga sudah didamikan. Jadi tidak ada persoalan lagi,”
kata Heru.
Ribuan Warga Pacitan Belum Melek Huruf
PACITAN- Ribuan warga Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
buta aksara. Warga belum melek huruf itu didominasi oleh mereka yang
berusia diatas 45 tahun. Sedangkan warga buta huruf di bawah usia
tersebut sudah dituntaskan. “Tahun 2009 ini masih ada 3.609 warga yang
buta huruf,” terang Kepala Dinas Pendidikan, Pacitan, Heru Wiwoho, kemarin.
Berbagai upaya dan tahapan telah dilakukan untuk mengikis angka buta
aksara. Selain melalui Kelompok Belajar Masyarakat, Dinas Pendidikan
juga menggandeng elemen-elemen kemasyarakatan lainnya sebagai upaya
mengentaskan buta aksara. Seperti melalui PPK, Muslimat NU, Aisyiah
dan lain sebagainya. “Tahun ini pula ada 910 warga yang mengikuti
kegiatan belajar membaca dan tulis,” jelas Heru.
Dikatakannya, jumlah penyandang buta aksara di Pacitan tergolong
sedikit. Yakni hanya 0,84 persen. Angka ini jauh dibawah angka patokan
buta huruf nasional sebanyak lima persen. Hanya, untuk warga yang
belum melek huruf diatas usia 45 tahun, ada sedikit kendala. Sebab,
kemampuan berpikirnya mulai menurun. “Yang terpenting sekarang adalah
menjaga agar daerah yang sudah terbebas tidak kembali lagi menjadi
daerah buta huruf. Caranya dengan upaya yang terus menerus.”
Untuk menarik minat warga kelompok umur di atas 40 tahun kembali
belajar membaca, menulis, dan menghitung, diperkenalkan pula program
kewirausahaan. Tidak itu saja, pemerintah menerapkan kebijakan
afirmatif pendidikan pemberdayaan perempuan. Seperti, pendidikan
kelompok belajar keaksaraan mandiri yang pada hakikatnya pendidikan
kecakapan hidup sebagai kelanjutan dari program keaksaraan yang sudah
ada.
Ada beberapa hal yang menyebabkan sesorang buta aksara. Misalnya,
akses pelayanan pendidikan dasar dan angka putus sekolah. Khususnya di
kelas 1 sampai 3 di jenjang Sekolah Dasar (SD). Selain itu, beratnya
kondisi geografis Indonesia, munculnya penyandang buta aksara baru,
serta pengaruh faktor sosiologis masyarakat ikut menjadi pemicu.