Archive for the ‘Pertanian’ Category
Kekurangan Air, Terancam Gagal Panen
PERTANIAN PACITAN – Puluhan hektar tanaman padi di Pacitan wilayah barat,
terancam gagal panen. Pasalnya, sejak ditanam dua bulan lalu, hingga
kemarin, curah hujan sangat rendah. Akibatnya, sebagian bibit tanaman
mengering. Sedang sebagian tanaman kerdil.
Seperti diungkapkan Heru, salah seorang petani asal Ngadirejan,
Kecamatan Pringkuku, Pacitan. Dijelaskan, di wilayah Pringkuku, Punung
dan Donorojo, banyak areal pertanian berupa sawah tadah hujan.
Artinya, lahan itu bisa ditanami tanaman pertanian, khususnya padi,
hanya di musim penghujan. “Kalau tidak ada hujan seperti sekarang ini,
tanaman padi terancam gagal panen,” kata Heru, kemarin.
Padahal, sebagian besar, rata-rata tanaman padi sudah berusia sekitar
dua bulan lebih. Seharusnya, usia padi seperti itu sudah mulai
berbuah. Diperkirakan, akhir Desember atau awal Januari tahun depan,
petani panen. Tetapi, rendahnya curah hujan, membuat tanaman padi
mengalami kekurangan air. “Sebagian tanaman padi sudah mengering dan
mati,” imbuhnya.
Tentu saja, kurangnya pasokan air tersebut membuat sejumlah petani
mengalami kerugian cukup besar. Sebagai ilustrasi, untuk lahan satu
hektar, membutuhkan benih padi sekitar 25 kilogram. Jika harga benih
sebesar Rp 35 ribu, berarti harus mengeluarkan modal Rp 875 ribu.
Belum biaya pengolahan sawah sebesar Rp 600 ribu maupun pembelian
pupuk. Sebab, untuk satu kali musim tanam menghabiskan pupuk (Urea dan
NSP) sekitar 3 kuintal. “Rata-rata, biaya produksi tanam padi per
hektar hampir Rp 2 juta,” imbuh Heru.
Memang, dalam kondisi normal, per hektar bisa menghasilkan sekitar 4
ton gabah kering. Jika dinominalkan, dengan harga gabah kering Rp
2.800 per kilogram, menghasilkan Rp 11, 2 juta. Tetapi, dalam kondisi
seperti sekarang ini, diperkrakan mengalami penurunan produksi sekitar
50 persen. Bahkan, sebagian lagi hanya memanen sepertiganya saja.
Diakui Heru, ancaman gagal panen tentu akan berdampak pada
perekonomian masyarakat desa. Terlebih, selama ini, hasil panen petani
di pedesaan, biasanya untuk dikonsumsi sendiri. Sebab, sawah tadah
hujan hanya sekali tanam padi dalam setahun. Sebagai antisipasi,
sebagian petani akan menyulam tanaman padi dengan jagung. Sehingga,
mereka masih memiliki cadangan pangan. “Masyarakat petani sudah
terbiasa dengan kondisi seperti ini, Mas,” kata Heru pasrah.
Kesulitan air juga dialami sebagain petani di perkotaan. Seperti
dialami Sukemi, petani asal Kelurahan Sidoarjo, Kec./Kab. Pacitan.
Untuk memenuhi kebutuhan air, ia menyodotnya dari sumuran menggunakan
diesel. Tentu saja, upaya itu menambah biaya produksi. “Sehari harus
mengeluarkan uang membeli 10 liter bensin,” kata Sukemi.
Dijelaskan, kondisi itu akan sangat terasa bagi petani yang tidak
memiliki diesel dan sumuran. Sebab, untuk menyewa disel dan sumuran
butuh biaya tidak sedikit. Terlebih, pemenuhan air tidak hanya
sehari-dua hari. Agar tanaman mencapai pertumbuhan normal, dalam usia
dua sampai tiga minggu harus kecukupan air. “Mungkin, hasil panenan
tahun ini juga akan tutun, Mas”.
Presiden SBY Bantu 100 Ribu Bibit Trembesi
PACITAN-Sebagai upaya mendukung program revegetasi hutan di Pacitan,
Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan bantuan
berupa 100 ribu bibit pohon Trembesi. Dari jumlah tersebut, sebagian
besar masih berupa biji. “Sedangkan yang sudah dalam bentuk bibit
berjumlah 2 ribu batang dengan tinggi sekitar 1,5 meter,” kata Kepala
Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Suyatno, Senin (7/12).
Nantinya, bibit yang sudah siap akan segera ditanam sebelum tahun 2009
berakhir. Sementara, yang berbentuk biji akan disemaikan lebih dahulu.
Rencananya, hasil persemaian akan ditanam pada tahun 2010. Beberapa
wilayah akan dijadikan konsentrasi penanaman trembesi. Khususnya yang
mempunyai sumber air. Seperti wilayah kota, Pacitan barat dan
Kecamatan Kebonagung. “Trembesi juga akan ditanam sebagai turus
jalan,” ungkap Suyatno.
Diakuinya, jumlah pohon penyerap air di kota 1001 goa memang menurun.
Saat ini masih ada sekitar 44 ribu batang Trembesi pada lahan seluas
111 hektar. Itupun ukurannya hanya kecil-kecil. Sedangkan yang besar
sudah habis ditebang. Pohon Trembesi merupakan salah satu pohon yang
mampu menyerap air. Sehingga keberadaannya diharapkan mampu memelihara
ketersediaan air bersih bagi warga. Khususnya pada musim kemarau.
Hutbun sendiri kini tengah berupaya mengurangi perdagangan komoditas
hutan, seperti jenis kayu-kayuan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Misalnya, Jati, Sono maupun Mahoni. Berdasarkan data Dinas Hutbun,
hingga bulan Oktober tahun ini, tercatat sebanyak 12.597 rit kayu
diperjualbelikan. Jumlah itu baru yang berasal dari penerbitan dokumen
Surat Keterangan Sahnya Kayu Bulat (SKSKB) Kayu Rakyat. “Meski SKAU
diterbitkan oleh kepala desa, tetapi setiap bulan mereka memberi
laporan ke dinas,” tukas Suyatno.
Jika ditambah dengan kayu yang masuk melalui pengajuan Surat
Keterangan Asal Usul (SKAU) kayu, jumlahnya dipastikan bertambah.
Memang, secara kwantitas, jenis kayu dengan ijin SKAU lebih sedikit
dibanding jenis kayu berdokumen SKSKB, yaitu 9.191 rit. Permasalahan
ini menjadi kesulitan tersendiri bagi dinas terkait. Apalagi harus
berhadapan dengan kepentingan ekonomi dari pemilik kayu.
Hujan Mulai Turun, Petani Lega
PERTANIAN PACITAN – Sejumlah petani di Kecamatan Donorojo, Pacitan, mulai
beranfas lega. Pasalnya, mulai Selasa (10/11) malam, kemarin,
wilayahnya diguyur hujan selama beberapa jam. Kendati curah hujan
masih rendah, diharapkan bisa menyelamatkan benih padi gogo rancah
yang sudah terlanjur ditanam sekitar satu bulan lalu.
Paling tidak, di kecamatan barat Pacitan itu, ada empat desa yang
sejak satu bulan lalu tanam padi gogo. Diantaranya, Desa Widoro,
Sendang, Kalak dan Desa Klepu. Tentu saja, lantaran kekurangan
kebutuhan air, tanaman padi setinggi sekitar 25-an sentimeter itu pun,
daunnya mulai menguning. Bahkan, sebagian diantarannya mati.
“Mudah-mudahan kembali turun hujan,” ungkap Jumingan, salah seorang
petani setempat.
Diakuinya, kendati sudah turun hujan, namun masih belum membuat tanah
di area persawahan basah. Sehingga, belum melakukan penyulaman bibit.
Sebab, jika pasokan air kurang, dikawatirkan juga akan mati.
Memang, kondisi alam di desa-desa tersebut sangat gersang. Artinya,
petani sangat kesulitan mendapatkan sumber air. Padahal, jika ada
sumber air, petani bisa menyedotnya menggunakan mesin diesel. Sedang
pembelian air dari PDAM untuk pengairan jelas tidak memungkinkan.
Karena itu, para petani memperkirakan, produksi panenan kali ini akan
menurun. Kendati begitu, tidak terlalu menjadi soal. Terlebih. Hasil
panenan tersebut kebanyakan dikonsumsi sendiri. Paling tidak, bisa
mencukupi hingga musim panen berikutnya. Sebab, terkadang, warga
mencampur dengan gaplek (ketela yang dikeringkan dan dibuat nasi
tiwul). “Kalau masalah pangan tidak sampai kekurangan, Mas,” terang
Jumingan.
Camat Donorojo, Hariyanto, membenarkan sebagian padi yang ditanam
petani mengalami kesulitan air. Persoalannya, saat hujan pertama dulu,
petani langsung menanam padi gogo rancah. Sayangnya, setelah itu tidak
lagi turun hujan hingga satu bulan. Tentu saja, hal itu berdampak pada
pertumbuhan tanaman padi.
Kondisi seperti itu sudah terjadi sejak jaman dulu kala. Artinya,
setiap musim kemarau, wilayahnya pasti mengalami kesulitan air,
khususnya untuk konsumsi lahan pertanian. Pun demikian, warga sudah
melakukan berbagai antisipasi terkait persedian bahan pangan.
Sehingga, belum pernah terjadi adanya kekurangan pangan yang dialami
warga. Hanya, dari sisi ekonomi, petani mengalami kerugian.
Seharusnya, hasil panenan banyak menjadi berkurang. Begitu juga ada
yang harus tanam ulang lantaran banyak padi yang mati atau tidak
sehat. “Kalau mengenai benih ada bantuan dari pemerinah yang
disalurkan melalui kelompok-kelompok tani yang ada,” pungkasnya.
Hujan Tak Kunjung Turun, Petani Tadah Hujan Mulai Resah
PERTANIAN PACITAN - Sejumlah petani di Kabupaten Pacitan mulai resah. Pasalnya,
saat ini, curah hujan tidak menentu. Tak pelak, sebagian petani pun
memilih hati-hati memulai tanam padi. “Biasanya, pertengahan Oktober,
curah hujan mulai banyak. Sekarang kok aneh ya,” ujar Jumingan, salah
seorang warga Donorojo, Pacitan, kemarin.
Padahal, tahun-tahun sebelumnya, memasuki awal November seperti saat
ini, tanam padi sudah memasuki usia 20 sampai 25 hari. Sekarang, belum
turun hujan sama sekali. Kemarin, pernah ada hujan. Tetapi, hanya tiga
hari dan curahnya sangat kecil sekali. “Jika saat turun hujan lalu
petani tanam padi, sekarang pasti rugi. Banyak persemaian yang mati,”
imbuhnya.
Padahal, sejumlah petani, khususnya petani sawah tadah hujan sudah
memulai mengolah tanah pada pertengahan Oktober lalu. Bahkan, tidak
sedikit diantaranya yang menanam benih padi ‘gogo rancah’. Sedang
sebagian lainnya memulai awal November ini. Hanya, mereka sama-sama
mengaku resah lantaran hujan tak kunjung datang.
Menyikapi curah hujan yang tidak menentu saat ini, sebagian besar
petani memilih menunda tanam padi sampai curah hujan berjalan pasti.
Hal itu dilakukan agar kegiatan tanam padi tidak merugi. Sebab, dulu,
juga pernah terjadi musim tidak menentu. Lantaran latah tanam padi,
akibatnya sejumlah petani mengalami kerugian. Ada yang tanam baru
lantaran banyak bibit padi mati kekurangan air.
Sedang untuk areal pertanian yang irigasinya sudah bagus, juga belum
berani memulai membajak sawah. Sebab, kegiatan itu harus didukung
suplai air yang memenuhi. Sebenarnya, pemenuhan air bisa diatasi
dengan menggunakan diesel penyedot air dengan membuatkan sumur di
sawah. Hanya, petani juga berhitung dengan biaya yang dikeluarkan
untuk sewa diesel tersebut.
Sementara, sebagian petani di kawasan barat, sudah memulai tanam benih
padi gaga. Hanya, mereka tidak mengkhawatirkan belum adanya turun
hujan. Sebab, benih padi gaga itu ditanam dengan kedalaman tertentu di
tanah. Artinya, jika tidak dimakan burung atau semut, benih masih bisa
tumbuh seiring dengan datangnya musim penghujan. “Mulai tanam benih
padi, belum ada hujan. Sehingga benih belum bersemai,” terang Hendro.
Itulah sebabnya, sebagian besar petani di wilayah barat kebanyakan
memimilih menanam padi gogo rancah, lantaran relatif lebih tahan
terhadap kekurangan air. Sebagian lagi juga masih memilih tanam
palawijo. Namun begitu, jika benih padi sudah bersemai dan selama dua
minggu tidak hujan, tanaman gogo rancah petani juga terancam mati atau
gagal panen.
Jelang Musim Tanam, Pupuk Dijamin Aman
Polisi Diminta Ikut Mengawasi Penyalurannya
PACITAN – Memasuki musim tanam tahun ini, petani di Kabupaten Pacitan,
boleh bernafas lega. Pasalnya, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan
setempat, memastikan petani tidak akan mengalami kesulitan mendapatkan
pupuk urea. Terlebih, pupuk bersubsidi masih itu masih tersedia
sekitar 60-an persen. “Kalau tonasenya saya lupa. Tetapi, cukup untuk
memenuhi kebutuhan petani dalam bulan Oktober sampai Desember tahun
ini,” kata Kabid Penyuluhan, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan,
Pacitan, Sugeng, Jumat, (23/10).
Jaminan ketersedian terebut, lanjut Sugeng, disebabkan selama musim
kemarau tidak banyak pemakaian pupuk, yakni sekitar 39 persen. Disisi
lain, sekarang, penyaluran pupuk diatur sesuai Rencana Difinitif
Kebutuhan Kelompok (RDKK). Artinya, penghitungan alokasi mendasarkan
kebutuhan riil yang disampaikan para petani. Terlebih, pada musim
tanam, pasokan pupuk menjadi kebutuhan utama bagi pertanian. “Petani
tidak perlu mengkhawatirkan masalah pupuk. Sebab, pemerintah sudah
berupaya maksimal agar kebutuhan pupuk terpenuhi,” imbuhnya.
Tidak itu saja, pihaknya juga sudah melakukan sinkronisasi pupuk pada
1000-an kelompok tani di Kabupaten Pacitan. Tentunya, dengan kegiatan
sosialisasi menjelang musim tanam, semua menjadi jelas, khususnya
mengenai jadwal dan pengaturan penyaluran pupuk. Bahkan, sebagai
antisipasi, Komisi Pengawas dan Pemantau Pupuk, sudah membuat
pengajuan tambahan pupuk ke Gubernur Jatim. Sehingga, jika kebutuhan
membengkak, langsung bisa diatasi.
Mantan Sekretaris Dinas Kehutanan dan Perkebunan ini, juga meminta
petani untuk memperkirakan dengan tepat kapan saatnya harus tanam
padi. Sebab, iklim sekarang ini kadang berubah. Tentunya, jika
tergesa-gesa (belum memasuki musim penghujan), akan berdampak pada
produksi padi.
Selain memastikan keamanan kebutuhan pupuk, pihaknya juga
mengungkapkan adanya bantuan pemerintah berupa bibit padi dan jagung.
Hanya, penyaluran bantuan itu diberikan melalui kelompok-kelompok
tani. Persoalannya, penyaluran melalui kelompok lebih terorganisir dan
efektif. Sebaliknya, jika penyaluran diberikan sendiri-sendiri pada
petani, akan lebih menyulitkan dan butuh waktu yang lama. Disisi lain,
kondisi areal pertanian masing-masing wilayah sangat berbeda. Ada yang
lebih cocok ditanami padi atau sebalik tanam jagung.
Sementara, Wakil Ketua DPRD Pacitan, Handoyo Aji, menyambut baik upaya
dinas terkait dalam menjamin ketersediaan pupuk menjelang musim tanam
tahun ini. Hanya, kepastian adanya jaminan itu harus dibuktikan saat
petani butuh pupuk nanti. Sebab, dari tahun ke tahun, setiap menjelang
musim tanam, petani pasti selalu kebingungan mendapatkan pupuk.
Bahkan, tidak jarang, harus membeli dari luar daerah dengan harga
tinggi.
Dijelaskan, persoalan yang sering dialami petani adalah, ketika tidak
membutuhkan, pupuk banyak tersedia. Sebaliknya, begitu petani butuh,
saat itu juga tiba-tiba pupuk menghilang. Tidak jarang, untuk
mendapatkan pupuk harus antre di tempat-tempat yang ditunjuk sebagai
penyalur pupuk.
Tidak itu, sebagian petani bahkan tidak mendapatkan jatah pupuk
bersubsidi itu dan terpaksa menggunakan pupuk kompos. Sehingga, sangat
mempengaruhi produksi padi. Pengaman petani selama ini, untuk
mendapatkan pupuk pun harus membuat pengajuan pupuk. Setelah sampai
lima kali, baru bisa mendapatkan. Namun, waktu pemupukan sudah relatif
terlambat.
Karena itu, kader PKS yang dikenal kritis ini, meminta semua pihak
melakukan pengwasan terhadap penyaluran pupuk. Bahkan, Polri juga
diminta melakukan pengawasan. Sebab, pupuk itu adalah pupuk bersbsidi
yang tentunya ada aturan main dalam penyalurannya. Jika terbukti
menyimpang, harus ditindak tegas sesuai perundang-undangan yang
berlaku.