Cuaca Buruk, Ratusan Nelayan Pacitan Tak Melaut
PACITAN -Sejak sepekan terakhir, ratusan nelayan di wilayah Kabupaten Pacitan, tak melaut. Cuaca buruk disertai gelombang tinggi dan arus kuat menjadi penyebab nelayan membuangjangkar di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan. Diperkirakan, kondisi seperti ini akan terjadi hingga bulan Maret tahun depan. “Banyak nelayan tidak melaut sejak seminggu lalu,” kata Imam Ghozali, salah satu nelayan, Senin (30/11). Keputusan tidak melaut yang diambil para nelayan sesuai peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), untuk mewaspadai gelombang tinggi di perairan Indonesia mulai tanggal 29 November sampai 3 Desember mendatang. Tidak itu saja, bulanNovember juga merupakan masa peralihan ke musim barat yang ditandai gelombang tinggi serta arus laut kuat. Baberapa hari kemarin ada nelayan yang nekat melaut, tetapi urung karena kondisi perairan membahayakan.“Jika dipaksakan, nelayan akan merugi,” jelasnya. Sebagai ilustrasi, sekali melaut, sebuah kapal jenis slerek membutuhkan logistik hingga Rp 7 juta. Nilai sebanyak itu untuk memenuhi belanja bahan bakar, es dan keperluan lainnya, selama sekitar seminggu di tengah laut. Bahkan, pada kapal yang lebih besar, ongkos operasionalnya bisa mencapai Rp 10 juta. Padahal, jika dipaksa melaut dan hasilnya kurang dari 1 ton, dipastikan modal tidak akan kembali. Hal yang nyaris sama juga terjadi pada para nelayan di pantai Wawaran, Kecamatan Kebonagung. Meski tidak berhenti total mencari ikan, namun mereka membatasi jam melaut. Jika pada kondisi normal, aktivitas menangkap ikan dimulai jam 4 pagi hingga jam 12 siang, kini hal itu hanya dilakukan hingga jam 9. Penyebabnya sama, karena ombak besar. Ditambah lagi disekitar area pantai banyak terumbu karang yang bisa mencelakai nelayan. “Jelang siang nelayan memilih berhenti melaut karena ombak semakin besar,” tukas Nasikin, nelayan setempat. Akibat kondisi laut yang kurang bersahabat, otomatis mempengaruhi pendapatan nelayan. Sebagai kompensasi, mereka akan beralih mata pencaharian, yakni bertani. Namun hal itu hanya berlaku bagi nelayan yang mempunyai sawah. Bagi yang tidak punya, biasanya memilih boro(menjadi buruh) pada nelayan lain. Sementara itu, Kepala Sub Koordinasi Pelayanan Teknis PPP Tamperan, Choirul Huda membenarkan sepinya aktivitas nelayan karena pengaruh cuaca buruk di perairan sekitar Pacitan. Dikatakannya, sepinya aktivitas karena banyak nelayan yang tidak melaut dan memilih pulang kedaerahnya masing-masing. Seperti Sinjai (Sulawesi Selatan), Malang dan Prigi (Kabupaten Trenggalek). “Sekitar 60 persen kapal sudah hampir sebulan ditinggal karena mereka (nelayan-red) memutuskan pulang kampung,” ungkapnya. Dikatakannya, kepulangan nelayan tak hanya karena cuaca buruk, tetapi juga disebabkan merosotnya harga-harga komoditas laut pada bulan-bulan kemarin. Kondisi ini diperparah dengan datangnya musim barat sehingga penangkapan ikan tidak maksimal. Paling tidak hal itu terlihat di areal kolam labuh. Puluhan kapal besar dan kecil bersandar, Pun demikian dengan kondisi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tamperan.“Mereka kan nelayan andon. Kemungkinan, bulan Maret tahun depan mereka baru akan kembali,” paparnya.
cuaca pacitan hari ini, harga ikan laut di pacitan mulai tinggi, www nelayanpacitan com