Distribusi Gas Belum Merata, Warga Masih Buru Minyak Tanah

EKONOMI PACITAN – Rupanya, masih banyaknya warga berburu minyak tanah (mitan),
disebabkan masih adanya beberapa wilayah yang warganya mengaku
kesulitan mendapatkan gas elpji 3 kilogram. Padahal, wilayah itu sudah
merupakan terkonversi Tak pelak, jika masih bertahan menggunakan
mitan. Tidak sedikit diantaranya yang menggunakan kayu bakar.
“Distribusi gas masih belum lancar di daerah kami,” kata Sanimin,46,
warga Desa Kemuning, Kecamatan Tegalombo, Pacitan, kemarin (6/11).
Diakuinya, selama ini, Sanimin dan beberapa warga didesanya mengaku
kebingungan. Sebab distribusi gas belum sepenuhnya lancar ke desanya.
Jika pun ada jumlahnya relatif sedikit. Sementara, jika akan beralih
ke minyak tanah, juga sudah sulit didapat. Harganya pun mahal,
berkisar Rp 7 ribu per liter. Itulah sebabnya, warga pun mulai beralih
menggunakan cara konvensional. Yakni, menggunakan kayu bakar untuk
memasak sehari-hari. “Gimana lagi, Mas. Cari gas susah, mitan apalagi.
Terpaksa kayu bakar saja. Apalagi, kayu bakar banyak dan nggak sulit
mencarinya,” terangnya.
Belum siapnya warga menggunakan gas diakui Kepala Dinas Koperasi
Perindustrian dan Perdagangan (Kopindag), Heri Purwanto. Indikasi
ketidaksiapan warga bisa dilihat dari banyaknya permintaan minyak
tanah dipasaran meski sudah masuk wilayah konversi. Sesuai hukum
ekonomi, hargapun beranjak naik dari Harga Eceran Tertinggi (HET)
antara Rp 2.500-Rp3.500/liter menjadi Rp 9.000-Rp 10.000/liter.
Lebih lanjut Heri menjelaskan, subsidi dan pengiriman dari Depo Madiun
sudah dihentikan sejak 19 Oktober kemarin. Untuk memenuhi kebutuhan
warga, Kopindag kemudian meminta bantuan tambahan distribusi minyak
tanah ke Depo Kediri. Saat ini, wilayah yang masuk kategori kritis
stok minyak tanah adalah wilayah Kecamatan Kota Pacitan. “Karena
subsidi sudah dikurangi bahkan di stop, kita minta bantuan ke Depo
Kediri,” kata Kepala Kopindag, Heri Purwanto, kemarin (6/11).
Heri menambahkan, nantinya jumlah yang diminta sama dengan jumlah
distribusi minyak tanah bersubsidi sebelumnya, yakni 15 ribu liter
perhari. Bahkan saat-saat tertentu mencapai 30 ribu liter/hari. Dalam
waktu dekat diharapkan permintaan ini bisa terealisasi. “Dua hari lagi
kita minta kejelasan ke sana (Depo Kediri-red),” terangnya.

Leave a Reply