<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Radio Berita Pacitan Yaa Radio Gemilang FM 103.8 Mhz</title>
	<atom:link href="http://gemilang-fm.biz/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gemilang-fm.biz</link>
	<description>Radio Berita Pacitan Yaa Radio Gemilang FM 103.8 Mhz</description>
	<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 18:15:15 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kesulitan Air, Warga Pacitan Berencana Gelar Istisqa</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/kesulitan-air-warga-pacitan-berencana-gelar-istisqa/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/kesulitan-air-warga-pacitan-berencana-gelar-istisqa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 07:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Pacitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[PACITAN – Sebagian besar petani di Kabupaten Pacitan mengeluh.
Pasalnya, hingga saat ini, curah hujan sangat rendah. Akibatnya,
tanaman padi yang sudah ditanam terancam gagal panen. Menyikapi iklim
yang kurang bersahabat itu, ratusan warga di enam desa di
Kec./Kabupaten Pacitan, berencana menggelar shalat Istisqa atau shalat
minta hujan. Rencananya, Minggu (27/12) besok, warga melakukan sholat
Istisqa di lapangan sepak bola Desa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PACITAN – Sebagian besar petani di Kabupaten Pacitan mengeluh.<br />
Pasalnya, hingga saat ini, curah hujan sangat rendah. Akibatnya,<br />
tanaman padi yang sudah ditanam terancam gagal panen. Menyikapi iklim<br />
yang kurang bersahabat itu, ratusan warga di enam desa di<br />
Kec./Kabupaten Pacitan, berencana menggelar shalat Istisqa atau shalat<br />
minta hujan. Rencananya, Minggu (27/12) besok, warga melakukan sholat<br />
Istisqa di lapangan sepak bola Desa Widoro, Kec./Kab. Pacitan. “Kami<br />
sudah berkoordinasi dengan sejumlah warga di enam desa,” kata Kepala<br />
Desa Widoro, Djazuli, kemarin.<br />
Dijelaskan, keenam desa itu diantaranya, Desa Widoro, Semanten,<br />
Ponggok, Nanggungan, Sambong, dan Desa Bolosingo. Namun, tidka menutup<br />
kemungkinan, jumlah itu akan bertambah dari desa-desa lainnya.<br />
Terlebih, persoalan itu dialami oleh semua warga, khususnya para<br />
petani.<br />
Memang, antusias warga mengikuti Istisqa cukup tinggi. Terbukti,<br />
sebagian warga ada yang mengaku menjalani puasa terleboh dulu.<br />
Tujuannya, agar keinginannya terkabul. Seperti diungkapkan Rahayu,<br />
salah seorang warga, mengaku akan mengikuti Istisqa, dengan harapan<br />
hujan segera turun. Sebab, jika hujan tidak segera turun,<br />
dikhawatirkan tanaman padi yang sudah ditanam mengering dan mati.<br />
“Sebagian petani sudah terlanjur tanam padi,” katanya.<br />
Keinginan warga itu tidak terlepas dari kondisi terakhir saat ini.<br />
Kendati sudah memasuki musim penghujan, namun curah huja yang<br />
diharapkan masih relatif kecil. Bahkan, sudah satu bulan ini, tidak<br />
turun hujan. Andaikan turun hujan hanya sesekali dan rintik-rintik<br />
saja. “Sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman pertanian terhambat,”<br />
ungkap Kuncoro.<br />
Perlu diketahui, sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan, khususnya di<br />
bagian barat, mulai merasakan dampak perubahan iklim yan gtidka<br />
menentu ini. Malahan, tanaman padi di areal sawah tadah hujan,<br />
pertumbuhannya tidak normal. Artinya, kendati sudah berumur dua bulan<br />
lebih, namun belum juga menunjukkan tanda-tanda tanaman akan berbuah.<br />
Karena itu, kegiatan Istisqa nanti, diharapkan warga, khususnya petani<br />
menjadi solusi terkait perubahan iklim yang tidak menentu dan<br />
merugikan aktivitas pertanian tersebut. Paling tidak, dengan turunnya<br />
hujan, bias menyelematkan sebagian tanaman padi yang sudah terlanjur<br />
di tanam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/kesulitan-air-warga-pacitan-berencana-gelar-istisqa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perajin Gula Jawa Pacitan Butuh Koperasi</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/perajin-gula-jawa-pacitan-butuh-koperasi/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/perajin-gula-jawa-pacitan-butuh-koperasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 06:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Pacitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/perajin-gula-jawa-pacitan-butuh-koperasi/</guid>
		<description><![CDATA[PACITAN - Sekitar 500 orang perajin pembuat gula Jawa di wilayah
Kecamatan Donorojo, Pacitan, menginginkan berdirinya sebuah koperasi
untuk menaungi usahanya. Keinginan tersebut mencuat setelah para
petani merasa harga hasil produksinya selalu dipermainkan para
pedagang. “Harga gula sekarang anjlok mas,” kata Sogiran, salah
seorang perajin, kemarin.
Keinginan Sogiran ini diamini Wakino, pembuat gula Jawa lainnya.
Menurutnya, harga gula sekarang berada di kisaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PACITAN - Sekitar 500 orang perajin pembuat gula Jawa di wilayah<br />
Kecamatan Donorojo, Pacitan, menginginkan berdirinya sebuah koperasi<br />
untuk menaungi usahanya. Keinginan tersebut mencuat setelah para<br />
petani merasa harga hasil produksinya selalu dipermainkan para<br />
pedagang. “Harga gula sekarang anjlok mas,” kata Sogiran, salah<br />
seorang perajin, kemarin.<br />
Keinginan Sogiran ini diamini Wakino, pembuat gula Jawa lainnya.<br />
Menurutnya, harga gula sekarang berada di kisaran Rp 6.500 per<br />
kilogram. Nilai ini turun sekitar Rp 2.500 dari harga sebelumnya,<br />
yakni Rp 9.000 per kilogram. Perajin pun tak punya pilihan lain.<br />
Sebab, sampai sekarang belum ada koperasi yang menampung hasil<br />
usahanya sehingga mau tidak mau mereka harus rela menjualnya ke<br />
pedagang meski harganya kurang layak. “Kami berharap pemerintah daerah<br />
bisa mendirikan koperasi agar para pedagang<br />
tidak bebas mempermainkan harga,” ujarnya.<br />
Memang, Desa Widoro merupakan salah satu sentra penghasil gula Jawa. Baik<br />
Sogiran maupun Wakino, pada musim penghujan seperti saat ini mampu<br />
memproduksi gula Jawa sebanyak 5 kilogram per hari. Sedangkan pada<br />
musim kemarau, jumlah produksi sedikit menyusut. Yakni sekitar 3<br />
kilogram per hari. Penyebab menurunnya produksi lebih banyak<br />
disebabkan karena factor alamiah. Pada musim penghujan, jumlah bunga<br />
kelapa lebih banyak dibanding ketika musim kemarau. Dari bunga itulah<br />
kemudian perajin mengambil nira sebagai bahan baku gula Jawa.<br />
Hanya, peningkatan produksi gula Jawa itu, tidak juga membuat<br />
pengrajin tersenyum. Pasalnya, harga jualnya justru anjlok. Sehingga<br />
keinginan pengrajin menikmati hasil produksi gulanya belum juga<br />
terealisasi. Paling tidak, harga jual gula bertahan dengan harga<br />
semula, yakni Rp 9.000 per kilogramnya.<br />
Sementara itu di tempat terpisah, Kepala Desa, Mahmudi, berharap<br />
pemkab setempat memperhatikan nasib para petani kelapa. Diantaranya<br />
dengan membentuk koperasi. Sehingga, harga jual produksi gula Jawa<br />
relatif stabil. Ketidakpastian harga berimbas pada pendapatan petani.<br />
Sebab, dengan turunnya harga jual, berdampak pada pendapatan mereka.<br />
“Nantinya, koperasi itu akan kita gunakan untuk menampung hasil<br />
produksi gula Jawa dari petani,” jelasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/perajin-gula-jawa-pacitan-butuh-koperasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berencana Gelar Operasi Terpadu</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/berencana-gelar-operasi-terpadu/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/berencana-gelar-operasi-terpadu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 02:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Pacitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[PACITAN – Rupanya, masih banyak kendaraan plat hitan yang beroperasi
sebagai anggkutan umum di Pacitan. Realita itulah yang terkadang
memicu persoalan dengan pemilik kendaraan angkutan yang memiliki ijin
trayek. “Masih ada kendaraan plat hitam yang beroperasi sebagai
angkutan umum,” kata Kepala Dinas Perhubugan, Komunikasi dan
Informatika (Dishubkominfo), Pacitan, Sunaryo, kemarin.
Meyikapi kondisi itu, pihaknya berencana akan menggelar operasi
terpadu. Hanya, mengenai waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PACITAN – Rupanya, masih banyak kendaraan plat hitan yang beroperasi<br />
sebagai anggkutan umum di Pacitan. Realita itulah yang terkadang<br />
memicu persoalan dengan pemilik kendaraan angkutan yang memiliki ijin<br />
trayek. “Masih ada kendaraan plat hitam yang beroperasi sebagai<br />
angkutan umum,” kata Kepala Dinas Perhubugan, Komunikasi dan<br />
Informatika (Dishubkominfo), Pacitan, Sunaryo, kemarin.<br />
Meyikapi kondisi itu, pihaknya berencana akan menggelar operasi<br />
terpadu. Hanya, mengenai waktu pelaksanaan dan titik wilayah operasi<br />
masih akan dikoordinasikan dengan jajarannya.<br />
Diakuinya, memang masih ada beberapa kendaraan plat hitam sebagai<br />
angkutan umum. Kebanyakan, di pelosok pedesaan. Persoalannya, jalur<br />
tersebut jarang dilewati kendaraan angkutan umum. Disisi lain,<br />
kendaraan plat hitam memberikan pelayanan dengan masuk jauh ke pelosok<br />
pedesaan. “Kami masih mendata berapa banyak kendaraan plat hitam yang<br />
dipergunakan sebagai angkutan umum,” imbuhnya.<br />
Untuk menertibkan trayek di semua jurusan yang ada, lanjut Sunaryo,<br />
memang butuh waktu. Pasalnya, secara geografis wilayah Kabupaten<br />
Pacitan sangat memungkinkan beroperasinya kendaraan angkutan ilegal.<br />
Sebagai contoh, untuk jalur-jalur sirip yang menghubungkan jalan utama<br />
dengan wilayah pedesaan, belum seluruhnya terlayani angkutan umum<br />
bertrayek. Akibatnya, celah tersebut dimanfaatkan angkutan plat hitam<br />
untuk beroperasi. “Terkadang, penumpang juga tidak keberatan, karena<br />
tidak punya pilihan lain”.<br />
Kapolres Pacitan, AKBP Wahyono, membenarkan adanya rencana operasi<br />
terpadu kendaraan, termasuk kendaraan plat hitam. Hanya, dalam<br />
pelaksanaan perlu tahapan-tahapan. Misalnya, sebelumnya harus dimulai<br />
dengan operasi simpatik. Artinya, pelanggar kendaraan akan diberikan<br />
tegoran-tegoran. “Bagi pelanggar tidak langsung ditindak,” kata<br />
Kapolres saat ditemui usai sosialisasi UU Lalu Lintas di Balai<br />
Kelurahan Sidoarjo, Kec./Kab. Pacitan, kemarin (20/12).<br />
Selain harus melalui tahapan-tahapan, pihaknya juga akan menyesuaikan<br />
kondisi nasional. Terlebih, saat ini, kepolisian tengah menggalakkan<br />
operasi citra. Karena itu, operasi penindakan baru akan dilaksanakan<br />
pada pertengahan awal bulan tahun depan.<br />
Sementara itu, dalam kegiatan sosialisasi UU Lalu Lintas, kapolres<br />
banyak mengurai tentang analisa kecelakan lalu lintas, analisa dampak<br />
lingkungan dan lain sebagainya. Mengenai kecelakaan lalu lintas,<br />
misalnya, setiap kasus akan dianalisa secara menyeluruh tentang<br />
penyebab kecelakaan. Apakah penyebabnya unsur manusia, kendaraan,<br />
sarana jalan, lingkungan dan suaca. “Hal itu sebagai upaya mencegah<br />
kejadian serupa terulang lagi, sekaligus menciptakan lalu lintas yang<br />
aman,” tandas Kapolres.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/berencana-gelar-operasi-terpadu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kekurangan Air, Terancam Gagal Panen</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/kekurangan-air-terancam-gagal-panen/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/kekurangan-air-terancam-gagal-panen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 02:55:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[PERTANIAN PACITAN – Puluhan hektar tanaman padi di Pacitan wilayah barat,
terancam gagal panen. Pasalnya, sejak ditanam dua bulan lalu, hingga
kemarin, curah hujan sangat rendah. Akibatnya, sebagian bibit tanaman
mengering. Sedang sebagian tanaman kerdil.
Seperti diungkapkan Heru, salah seorang petani asal Ngadirejan,
Kecamatan Pringkuku, Pacitan. Dijelaskan, di wilayah Pringkuku, Punung
dan Donorojo, banyak areal pertanian berupa sawah tadah hujan.
Artinya, lahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERTANIAN PACITAN</strong> – Puluhan hektar tanaman padi di Pacitan wilayah barat,<br />
terancam gagal panen. Pasalnya, sejak ditanam dua bulan lalu, hingga<br />
kemarin, curah hujan sangat rendah. Akibatnya, sebagian bibit tanaman<br />
mengering. Sedang sebagian tanaman kerdil.<br />
Seperti diungkapkan Heru, salah seorang petani asal Ngadirejan,<br />
Kecamatan Pringkuku, Pacitan. Dijelaskan, di wilayah Pringkuku, Punung<br />
dan Donorojo, banyak areal pertanian berupa sawah tadah hujan.<br />
Artinya, lahan itu bisa ditanami tanaman pertanian, khususnya padi,<br />
hanya di musim penghujan. “Kalau tidak ada hujan seperti sekarang ini,<br />
tanaman padi terancam gagal panen,” kata Heru, kemarin.<br />
Padahal, sebagian besar, rata-rata tanaman padi sudah berusia sekitar<br />
dua bulan lebih. Seharusnya, usia padi seperti itu sudah mulai<br />
berbuah. Diperkirakan, akhir Desember atau awal Januari tahun depan,<br />
petani panen. Tetapi, rendahnya curah hujan, membuat tanaman padi<br />
mengalami kekurangan air. “Sebagian tanaman padi sudah mengering dan<br />
mati,” imbuhnya.<br />
Tentu saja, kurangnya pasokan air tersebut membuat sejumlah petani<br />
mengalami kerugian cukup besar. Sebagai ilustrasi, untuk lahan satu<br />
hektar, membutuhkan benih padi sekitar 25 kilogram. Jika harga benih<br />
sebesar Rp 35 ribu, berarti harus mengeluarkan modal Rp 875 ribu.<br />
Belum biaya pengolahan sawah sebesar Rp 600 ribu maupun pembelian<br />
pupuk. Sebab, untuk satu kali musim tanam menghabiskan pupuk (Urea dan<br />
NSP) sekitar 3 kuintal. “Rata-rata, biaya produksi tanam padi per<br />
hektar hampir Rp 2 juta,” imbuh Heru.<br />
Memang, dalam kondisi normal, per hektar bisa menghasilkan sekitar 4<br />
ton gabah kering. Jika dinominalkan, dengan harga gabah kering Rp<br />
2.800 per kilogram, menghasilkan Rp 11, 2 juta. Tetapi, dalam kondisi<br />
seperti sekarang ini, diperkrakan mengalami penurunan produksi sekitar<br />
50 persen. Bahkan, sebagian lagi hanya memanen sepertiganya saja.<br />
Diakui Heru, ancaman gagal panen tentu akan berdampak pada<br />
perekonomian masyarakat desa. Terlebih, selama ini, hasil panen petani<br />
di pedesaan, biasanya untuk dikonsumsi sendiri. Sebab, sawah tadah<br />
hujan hanya sekali tanam padi dalam setahun. Sebagai antisipasi,<br />
sebagian petani akan menyulam tanaman padi dengan jagung. Sehingga,<br />
mereka masih memiliki cadangan pangan. “Masyarakat petani sudah<br />
terbiasa dengan kondisi seperti ini, Mas,” kata Heru pasrah.<br />
Kesulitan air juga dialami sebagain petani di perkotaan. Seperti<br />
dialami Sukemi, petani asal Kelurahan Sidoarjo, Kec./Kab. Pacitan.<br />
Untuk memenuhi kebutuhan air, ia menyodotnya dari sumuran menggunakan<br />
diesel. Tentu saja, upaya itu menambah biaya produksi. “Sehari harus<br />
mengeluarkan uang membeli 10 liter bensin,” kata Sukemi.<br />
Dijelaskan, kondisi itu akan sangat terasa bagi petani yang tidak<br />
memiliki diesel dan sumuran. Sebab, untuk menyewa disel dan sumuran<br />
butuh biaya tidak sedikit. Terlebih, pemenuhan air tidak hanya<br />
sehari-dua hari. Agar tanaman mencapai pertumbuhan normal, dalam usia<br />
dua sampai tiga minggu harus kecukupan air. “Mungkin, hasil panenan<br />
tahun ini juga akan tutun, Mas”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/kekurangan-air-terancam-gagal-panen/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengajin Arang Pacitan  Tiarap</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/pengajin-arang-pacitan-tiarap/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/pengajin-arang-pacitan-tiarap/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 10:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Pacitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/pengajin-arang-pacitan-tiarap/</guid>
		<description><![CDATA[PACITAN – Sekitar lima bulan ini, produksi arang di Pacitan mengalami
penurunan signifikan. Pasalnya, puluhan pengrajin arang mengaku
kesulitan mendapatkan bahan baku. Disisi lain, harga baku yang ada,
harganya sudah melambung. “Harga bahannya naik sekitar seratus persen,
Mas,” kata Ketua Paguyuban Pengrajin Aran, Pangasalasan, Pacitan,
Jumingan.
Dijelaskan, paguyuban yang dipimpinnya, memiliki anggota sekitar 70-an
orang pengrajin. Dari jumlah itu, semuanya memilih tiarap. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PACITAN – Sekitar lima bulan ini, produksi arang di Pacitan mengalami<br />
penurunan signifikan. Pasalnya, puluhan pengrajin arang mengaku<br />
kesulitan mendapatkan bahan baku. Disisi lain, harga baku yang ada,<br />
harganya sudah melambung. “Harga bahannya naik sekitar seratus persen,<br />
Mas,” kata Ketua Paguyuban Pengrajin Aran, Pangasalasan, Pacitan,<br />
Jumingan.<br />
Dijelaskan, paguyuban yang dipimpinnya, memiliki anggota sekitar 70-an<br />
orang pengrajin. Dari jumlah itu, semuanya memilih tiarap. Sebagai<br />
ilustrasi, harga bahan baku berupa kayu akasia naik signifikan. Jika<br />
sebelumnya hanya Rp 30 ribu per meter persegi, kini menjadi Rp 90 ribu<br />
per meter perseginya.<br />
Ironinya, harga bahan baku sudah meroket, barangnya pun susah dicari.<br />
Persoalannya, tidak banyak warga yang menjual kayu. Sebab, seiring<br />
dengan datangnya musim penghujan, kondisi hutan menjadi sulit dan<br />
licin. Disisi lain, sekiatr hutan sudah mulai ditanami tanaman<br />
pertanian. Mulai padi tadah hujan maupun jenis tanaman palawijo.<br />
“Kalau menebang pohon dikhawatirkan merusak tanaman pertanian,” imbuh<br />
Jumingan.<br />
Tentunya, dengan harga naik 100 persen, berdampak pada biaya<br />
operasional para pengrajin. Artinya, jika dipaksakan, pengrajin akan<br />
mengalami kerugian. Sebagai gambaran, sela tiga hari melakukan<br />
aktivitas, pengrajin membutuhkan bahan sekitar 10 meter persegi dengan<br />
nominal sekiatr Rp 900 ribu. Belum lagi biaya transport kendaraan,<br />
baik mengangkut jayu maupun mengirim arang ke Magelang dan sejumlah<br />
kota di Jawa Tengah.<br />
Tidak itu saja, pengrajin juga harus mengeluarkan biaya honor tenaga<br />
kerja, per hari Rp 30 ribu. Bahkan, masih harus membeli karung plastik<br />
sebagai tempat arang yang akan dikirim ke konsumen. Sehingga, jika<br />
dihitung-hitung, pengarajin hanya mendapatkan keuntungan kecil. “Bahan<br />
kayu 10 meter persegi menghasilkan sekitar 60 karung plastik dengan<br />
nilai jual Rp 1,5 juta. Padahal toral biaya operasional juga berkisar<br />
Rp 1,5 jutaan”.<br />
Itulah sebabnya, sebagian besar pengrajin memilih menunggu musim<br />
kemarau. Atau paling tidak, jika harga bahan kayu kembali turun.<br />
Sebab, harga kayu mahal dan bahan sulit didapat. Tetapi, harga jual<br />
tidak mengalami kenaikan, yakni Rp 25 ribu per karung plastik. Pun<br />
demikian, masih ada pengrajin yang tetap beraktivitas.<br />
Pertimbangannya, memiliki bahan limbah yang harganya relatif murah.<br />
Mereka juga tidak memiliki kegiatan sampingan selain sebagai pegrajin<br />
arang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/pengajin-arang-pacitan-tiarap/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KPUD Lakukan Rekruetmen Panwas Pemilukada Juli 2010</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/kpud-lakukan-rekruetmen-panwas-pemilukada-juli-2010/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/kpud-lakukan-rekruetmen-panwas-pemilukada-juli-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 10:31:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[PACITAN – Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Pacitan, bakal melakukan
rekruetmen Panwas Pemilukada, pada Juli 2010. Keputusan itu diambil
menyusul keluarnya surat edaran (SE) bersama nomor 1669 (KPU) dan
nomor 001 (Bawaslu) tertanggal 9 Desember 2009. Dimana, bagi daerah
yang bupati atau walikotanya habis masa jabatannya sampai bulan
Agustus 2010, tetap memakai anggota Panwaslu Pileg dan Pilpres. “Masa
jabatan Bupati Pacitan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PACITAN – Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Pacitan, bakal melakukan<br />
rekruetmen Panwas Pemilukada, pada Juli 2010. Keputusan itu diambil<br />
menyusul keluarnya surat edaran (SE) bersama nomor 1669 (KPU) dan<br />
nomor 001 (Bawaslu) tertanggal 9 Desember 2009. Dimana, bagi daerah<br />
yang bupati atau walikotanya habis masa jabatannya sampai bulan<br />
Agustus 2010, tetap memakai anggota Panwaslu Pileg dan Pilpres. “Masa<br />
jabatan Bupati Pacitan habis pada Februari 2011. Sehingga, menggunakan<br />
UU No. 22/2007,” kata Ketua KPUD Pacitan, Damhudi.<br />
Dijelaskan, dalam pelaksanaan nanti, KPUD akan melakukan rekruetmen<br />
Panwas Pemulikada sebanyak 6 orang. Selanjutnya, keenam calon Panwas<br />
Pemilukada diserahkan Banwas untuk dilakukan fit and proper test.<br />
“Nantinya, dari 6 calon itu akan diambil 3 orang menjadi Panwas<br />
Pemilukada,” imbuhnya.<br />
Lebih lanjut, Damhudi mengungkapkan, tahapan dan anggaran pelaksanaan<br />
Pemilukada sudah ditetapkan. Untuk tahapan, akan dimulai September<br />
2010. Pendaftaran bakal calon Oktober. Dan satu bulan kemudian<br />
dilakukan penetapan calon bupati dan wakil bupati. “Masa kampanye<br />
diperiakan akhir November sampai 17 Desember. Sebab, coblosan<br />
Pemilukada dilakukan pada 20 Desember 2010,” terang Damhudi.<br />
Namun, sebelum tahapan dimulai, pihaknya juga sudah melakukan<br />
aktivitas pra pemilukada. Diantaranya, rekruetmen panwas dan perangkat<br />
pendukung lainnya. Sehingga, begitu tahapan dimulai, semua berjalan<br />
lancer, aman dan sukses.<br />
Memang, sebelumnya muncul wacana Pemilukada digelar sekitar<br />
Oktober-November. Pertimbangannya, sebagai antisispasi jika Pemilukada<br />
terjadi sampai dua putaran. Tetapi, akhirnya ditetepkan pada 20<br />
Desember. Jika nantinya terjadi dua putaran, akan dilaksanakan Januari<br />
2011. Persiapan selama satu bulan itu dinilai cukup. Sebab, kebutuhan<br />
tinggal pengadaan surat suara.<br />
Begitu juga dengan kepastian anggaran juga sudah ditetapkan sebesar Rp<br />
5,5 milyar. Hanya, anggaran sebesar itu untuk kegiatan selama tahun<br />
2010. Artinya, tidak menutup kemungkinan muncul anggaran Pemilukada<br />
pada tahun anggaran tahun 2011. Misalnya, jika Pemilukada terjadi dua<br />
putaran atau pun pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/kpud-lakukan-rekruetmen-panwas-pemilukada-juli-2010/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sembilan KPUD Di Jawa Timur Dilaporkan Ke Bawaslu</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/sembilan-kpud-di-jawa-timur-dilaporkan-ke-bawaslu/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/sembilan-kpud-di-jawa-timur-dilaporkan-ke-bawaslu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 06:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[POLITIK PACITAN - Sebanyak sembilan KPUD Kabupaten/Kota di Jawa
Timur, akan dilaporkan oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Propinsi Jatim ke
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Laporan dilayangkan setelah proses
rekrutmen anggota KPUD, diduga menyalahi aturan. “Satu atau dua hari
lagi laporan kami kirim ke Bawaslu,” ujar Ketua Panwaslu Jatim, Sri
Sugeng Pujiatmiko, saat menghadiri evaluasi Panwaslu di
Pacitan,kemarin.
Dijelaskan, indikasi penyimpangan dan tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>POLITIK PACITAN</strong> - Sebanyak sembilan KPUD Kabupaten/Kota di Jawa<br />
Timur, akan dilaporkan oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Propinsi Jatim ke<br />
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Laporan dilayangkan setelah proses<br />
rekrutmen anggota KPUD, diduga menyalahi aturan. “Satu atau dua hari<br />
lagi laporan kami kirim ke Bawaslu,” ujar Ketua Panwaslu Jatim, Sri<br />
Sugeng Pujiatmiko, saat menghadiri evaluasi Panwaslu di<br />
Pacitan,kemarin.<br />
Dijelaskan, indikasi penyimpangan dan tidak transparannya rekrutmen anggota<br />
periode 2009-2014, kata Sugeng, pertama kali dilaporkan ke Panwaslu<br />
oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Paling tidak, ada 9 KPU Derah<br />
yang akan dilaporkan. Oleh sebab itu, pihaknya meminta klarifikasi<br />
pada KPUD yang bersangkutan. “Kalau Bawaslu tidak mungkin melakukan<br />
klarifikasi sendiri ke Jawa Timur,” paparnya.<br />
Selain ke KPUD, Panwaslu juga akan meminta klarifikasi ke calon<br />
anggota yang sempat ikut seleksi. Tidak itu saja, lima anggota KPU<br />
Jatim juga telah dimintai keterangan. Hasilnya, memang ada indikasi<br />
adanya pelanggaran pasal 25 dan 26 Undang-undang nomor 22 tahun 2007<br />
tentang Penyelenggara Pemilu. Dari hasil klarifikasi, tindak lanjutnya<br />
diserahkan sepenuhnya ke Bawaslu. Termasuk perlu<br />
tidaknya membentuk Dewan Kehormatan untuk KPU Jatim. “Ya, itu<br />
(pembentukan Dewan Kehormatan-Red) kita persilahkan. Karena merupakan<br />
kewenangan Badan Pengawas Pemilu,” terang Sugeng.<br />
Ditanya, apakah tindakan tersebut bisa memunculkan spekulasi publik<br />
bahwa terjadi gesekan antara dua pihak penyelenggara Pemilu, Sugeng<br />
menampiknya. Namun, diakuinya, instansi yang dipimpinnya kesulitan<br />
melakukan koordinasi dengan KPU saat pelaksanaan pemilihan gubernur,<br />
Pemilu Legislatif (Pileg) maupun Pemilu Presiden (Pilpres) lalu. “Saya<br />
tidak tahu kenapa begitu,” jelasnya.<br />
Terkait Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), Sugeng mengatakan,<br />
sesuai surat edaran (SE) bersama nomor 1669 (KPU) dan nomor 001<br />
(Bawaslu) tertanggal 9 Desember 2009, bagi daerah yang bupati atau<br />
walikotanya habis masa jabatannya sampai bulan Agustus 2010, tetap<br />
memakai anggota Panwaslu Pileg dan Pilpres. Sebaliknya, jika sudah<br />
dilakukan rekrutmen sebelum surat edaran ditetapkan, Badan Pengawas<br />
Pemilu akan melakukan fit and proper test  sesuai UU 22/2007.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/sembilan-kpud-di-jawa-timur-dilaporkan-ke-bawaslu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Puluhan Warga Pacitan Barat, Terserang Chikungunya</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/puluhan-warga-pacitan-barat-terserang-chikungunya/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/puluhan-warga-pacitan-barat-terserang-chikungunya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 06:37:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[KESEHETAN PACITAN – Awal musim penghujan ini, penyakit yang ditularkan oleh
nyamuk, mulai menyerang sebagian masyarakat Pacitan bagian barat.
Sebelumnya, puluhan warga Kecamatan Punung, terserang Chikungunya.
Kini, penyakit yang menyerang persendian tulang itu, dikabarkan mulai
mewabah ke Kecamatan Donorojo.
Sejumlah warga Donorojo mengatakan, ada sekitar 20-an warga
terjangkiti Chikungunya. Serangan penyakit itu ditandai munculnya
gejala demam sangat tinggi dan sakit pada persendian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KESEHETAN PACITAN</strong> – Awal musim penghujan ini, penyakit yang ditularkan oleh<br />
nyamuk, mulai menyerang sebagian masyarakat Pacitan bagian barat.<br />
Sebelumnya, puluhan warga Kecamatan Punung, terserang Chikungunya.<br />
Kini, penyakit yang menyerang persendian tulang itu, dikabarkan mulai<br />
mewabah ke Kecamatan Donorojo.<br />
Sejumlah warga Donorojo mengatakan, ada sekitar 20-an warga<br />
terjangkiti Chikungunya. Serangan penyakit itu ditandai munculnya<br />
gejala demam sangat tinggi dan sakit pada persendian tulang. Beberapa<br />
desa di Kecamatan Donorojo yang terindikasi terserang penyakit itu<br />
diantaranya Desa Sukodono, Desa Gedompol, Desa Belah dan Desa Kalak.<br />
Hanya berapa banyak jumlah warga yang positif terjangkit chikungunya<br />
belum bisa dipastikan. Sebab, untuk memastikannya harus melalui<br />
pemeriksaan laborat. Terlebih, sumber di Dinas Kesehatan (Dinkes)<br />
Pacitan mengatakan, informasi adanya warga Donorojo terserang<br />
chikungunya belum ada laporan. “Kalau di Kecamatan Punung (berbatasan<br />
dengan Kecamatan Donorojo), ada sekitar 40-an warga menderita<br />
chikungunnya. Kalau di Donorojo, belum ada laporan,” kata petugas<br />
Dinkes setempat, kemarin.<br />
Untuk mengantisipasi mewabahnya penyakit tesebut, sejumlah warga di<br />
Kecamatan Donorojo sudah melakukan gerakan PSN (pemberantasan sarang<br />
nyamuk). Menurutnya, PSN dipandang sebagai tindakan paling tepat dan<br />
ampuh untuk melumpuhkan nyamuk penyebar virus chikungunya.  Selain<br />
itu, juga dilakukan abatisasi dan penyelidikan epidemiologi (EPE).<br />
Diduga, mewabahnya kasus chikungunya di Kecamatan Donorojo itu,<br />
berawal ketika daerah perbatasan (kabupaten tetangga, Wonogiri, red)<br />
melakukan pengasapan (fogging). Akibatnya, nyamuk-nyamuk penyebar<br />
virus mematikan itu bermigrasi ke Pacitan. Secara geografis, Kecamatan<br />
Donorojo memang terletak di garis perbatasan dengan Kabupaten<br />
Wonogiri. “Sehingga wajar, ketika kabupaten tetangga melakukan<br />
fogging, kita yang kena dampak. Terlebih, di kecamatan terdekat<br />
(Punung, red), puluhan warga juga terserang chikungunnya,” imbuh salah<br />
seorang warga Donorojo.<br />
Selain chikungunnya, warga juga melakukan antisipasi terhadap penyakit<br />
lainnya yang juga ditularkan oleh nyamuk. Yakni, Demam Berdarah Dengue<br />
(DBD).  Terlebih, tahun-tahun sebelumnya, penyebaran penyakit<br />
mematikan ini, mulai merambah hampir disemua kecamatan. Biasanya,<br />
serangan penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk Aides Aghepty  itu<br />
terjadi pada kurun waktu Januari sampai Maret.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/puluhan-warga-pacitan-barat-terserang-chikungunya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Camat dan Kades Ditunjuk Jadi Pengawas Proyek</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/camat-dan-kades-ditunjuk-jadi-pengawas-proyek/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/camat-dan-kades-ditunjuk-jadi-pengawas-proyek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 08:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Pacitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[PACITAN - Rendahnya kualitas pekerjaan proyek fisik di Pacitan,
membuat berbagai pihak merasa prihatin. Untuk itu, mulai tahun depan,
semua kegiatan pembangunan akan diawasi secara ketat. Caranya dengan
menunjuk pejabat berwenang di wilayah menjadi
pengawas. “Nanti kita siapkan payung hukumnya, yakni peraturan
bupati,” ujar Bupati, Sujono disela-sela acara pelantikan kepala desa
di pendopo kabupaten, kemarin (16/12).
Dikatakan, dengan anggaran pembangunan yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PACITAN - Rendahnya kualitas pekerjaan proyek fisik di Pacitan,<br />
membuat berbagai pihak merasa prihatin. Untuk itu, mulai tahun depan,<br />
semua kegiatan pembangunan akan diawasi secara ketat. Caranya dengan<br />
menunjuk pejabat berwenang di wilayah menjadi<br />
pengawas. “Nanti kita siapkan payung hukumnya, yakni peraturan<br />
bupati,” ujar Bupati, Sujono disela-sela acara pelantikan kepala desa<br />
di pendopo kabupaten, kemarin (16/12).<br />
Dikatakan, dengan anggaran pembangunan yang sangat terbatas, perlu<br />
adanya pengawasan melekat terhadap proses pembangunan. Jangan sampai<br />
anggaran yang berasal dari rakyat, menjadi tidak bermanfaat, karena<br />
mutu pembangunan yang tidak berkualitas. Selama ini, baik camat maupun<br />
kepala desa, belum terlibat aktif dalam pengawasan secara langsung<br />
kegiatan proyek mulai awal  hingga akhir.<br />
Persoalannya, selain tidak memiliki kewenangan, kepala desa juga tidak<br />
mengantongi dasar hukum yang kuat. Diharapkan, dengan terbitnya<br />
peraturan bupati nanti maka para pemimpin wilayah bisa melakukan<br />
pengawasan terhadap semua proyek pembangunan . “Jika ditemukan<br />
pekerjaan yang tidak sesuai standar, maka kepala desa dan camat berhak<br />
melaporkan ke dinas terkait,” terangnya.<br />
Arahan bupati ini tidaklah berlebihan. Terlebih dalam memasuki  tahun<br />
2010 tantangan dan kesulitan akan semakin komplek. Kendati upaya<br />
percepatan pembangunan telah dilakukan pemerintah daerah, namun jika<br />
tidak ada keterlibatan  semua pihak, maka hasilnya tidak akan<br />
maksimal.<br />
Sebelumnya, beberapa waktu lalu, bupati sempat mengeluhkan sejumlah<br />
hasil garapan proyek rekanan yang kualitasnya dibawah standar. Selain<br />
molor dalam pengerjaan, kualitas bangunan rusak sebelum diresmikan.<br />
Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung. Dari jumlah ratusan proyek,<br />
hamper separuhnya diduga tidak beres. Sebenarnya pemkab sudah<br />
memberikan keleluasaan kepada pemborong untuk menggunakan anggaran<br />
sampai habis. Kenyataannya, tak membuat mutu bangunan menjadi lebih<br />
baik.<br />
Satu-satunya langkah yang bisa ditempuh pemkab adalah dengan<br />
mengurangi plafon proyek. Ini sekaligus sebagai shock therapy pada<br />
pemborong nakal. Sementara ke depan pemkab akan lebih banyak lagi<br />
meluncurkan proyek swakelola berbasis masyarakat. Dengan pola ini<br />
biaya dapat ditekan. Selain itu kualitas bangunan lebih baik karena<br />
masyarakat ikut bertanggung jawab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/camat-dan-kades-ditunjuk-jadi-pengawas-proyek/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sirnoboyo Potensi Menjadi Pasar Ikan Segar</title>
		<link>http://gemilang-fm.biz/sirnoboyo-potensi-menjadi-pasar-ikan-segar/</link>
		<comments>http://gemilang-fm.biz/sirnoboyo-potensi-menjadi-pasar-ikan-segar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 08:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Pacitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemilang-fm.biz/sirnoboyo-potensi-menjadi-pasar-ikan-segar/</guid>
		<description><![CDATA[PACITAN – Ternyata, Desa Sirnoboyo, Kec./Kab. Pacitan, memiliki
potensi besar dalam pengembangan usaha perikanan laut. Pasalnya, para
nelayan yang jumlahnya seratusan lebih, didukung SDM yang memadai.
Persoalannya, keberadaan nelayan kurang mendapat dukungan pemkab
setempat. “Kami melihat dukungan pemkab setempat masih kurang,” kata
Yulius Harry Widodo, Ketua Pusat Penelitian Pengabdian Masyarakat
(P3M) Polyteknik, Madiun, usai pemberian bantuan kelompok nelayan di
Balai Desa Sirnoboyo, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PACITAN – Ternyata, Desa Sirnoboyo, Kec./Kab. Pacitan, memiliki<br />
potensi besar dalam pengembangan usaha perikanan laut. Pasalnya, para<br />
nelayan yang jumlahnya seratusan lebih, didukung SDM yang memadai.<br />
Persoalannya, keberadaan nelayan kurang mendapat dukungan pemkab<br />
setempat. “Kami melihat dukungan pemkab setempat masih kurang,” kata<br />
Yulius Harry Widodo, Ketua Pusat Penelitian Pengabdian Masyarakat<br />
(P3M) Polyteknik, Madiun, usai pemberian bantuan kelompok nelayan di<br />
Balai Desa Sirnoboyo, Selasa (15/12) malam, kemarin.<br />
Kurangnya dukungan itu, lanjut Yulius, dilihat dari kondisi jalan di<br />
desa tersebut. Sehingga, akses jalan yang kurang memadai itu<br />
menghambat kegiatan perekonomian masyarakat, khususnya para nelayan.<br />
Padahal, Sirnoboyo sangat strategis dijadikan perkampungan nelayan<br />
modern. Selain berada di wilayah perkotaan, memiliki SDM mumpuni.<br />
Tentunya, sangat tepat jika di desa itu dibangunkan pasar ikan segar.<br />
Sehingga, roda ekonomi masyarakat bergerak cepat. “Bahkan, ke depan,<br />
bisa dijadikan salah satu icon Pacitan,” imbuh Yulius.<br />
Dijelaskan, hampir selama tiga bulan lebih, pihaknya melakukan<br />
pendampingan pemberdayaan para nelayan di Sirnoboyo. Selama kurun<br />
waktu itu, dipergunakan memberikan penyuluhan dan pembinaan bagi para<br />
nelayan. Baik penguatan kelembagaan, ketrampilan, pembinaan wira usaha<br />
dan sebagainya.<br />
Selama ini, para nelayan sudah membentuk kelompok. Paling tidak sudah<br />
ada empat kelompok nelayan. Dimana, setiap kelompok beranggotakan 30<br />
sampai 50 orang nelayan. Tentunya, jumla kelompok itu masih bisa<br />
bertambah. Sebab, masih ada nelayan yang belum tergabung kelompok.<br />
Seperti keberadaan koperasi misalnya, sebenarnya, para nelayan<br />
memiliki greget yang cukup tinggi. Hanya, keinginan itu terkendala<br />
pada modal awal. Itulah sebabnya, melalui program Direktorat<br />
Pengabdian Pada Masyarakat (DP2M) Pendidikan Tinggi (Dikti),<br />
Polyteknik Madiun, memberikan berbagai penyuluhan dan bantuan. Mulai<br />
penyuluhan koperasi, computer, perawatan mesin, jiwa kepemimpinan dan<br />
sebagainya. “Kami memberikan bantuan sejumlah uang dan satu unit<br />
computer untuk nelayan,” terang Yulius.<br />
Tidak itu saja, selama tiga bulan di Sirnoboyo, pihaknya juga<br />
menghasilkan beberapa rekomendasi, yang perlu dijadikan referensi bagi<br />
pemkab setempat. Diantaranya, perbaikan jalan, pembangunan tempat<br />
menambat perahu maupun pembangunan pasar ikan segar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemilang-fm.biz/sirnoboyo-potensi-menjadi-pasar-ikan-segar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
