Gizi Buruk, Terkait Perilaku Masyarakat
KESEHATAN PACITAN – Selain faktor ekonomi, munculnya beberapa kasus gizi buruk juga disebabkan perilaku masyarakat, khususnya orang tua. Sebab, penanganan anak itu dilakukan sejak dalam kandungan. “Saat hamil, si ibu harus berperilaku sehat. Baik memeriksakan kondisi kandungan secara kontinyu, termasuk pemenuhan kebutuhan gizi,” kata Kabid Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan, Pacitan, Wawan Kasiyanto. Terlebih, sekarang sudah ada poliklinik dan bidan di masing-masing desa. Usia perkawinan relatif lebih baik. Begitu juga dengan pemahaman kesehatan. Hanya, terkadang, sebagian masyarakat lebih mementingkan kebutuhan sekunder, ketimbang masalah kesehatan. Dicontohkan, diantara balita yang menderita gangguan pertumbuhan, kondisi orang tuanya cukup mampu. Rumahnya bagus, punya sepeda motor ada TV dan sebagainya. Sehingga, jika dikaitkan persoalan ekonomi kurang tepat. Realita di lapngan itulah yang akan dijadikan kajian untuk lebih menyadarkan perilaku masyarakat terhadap pentingnya kesehatan balita, mulai di dalam kandungan hingga remaja. “Akibatnya, 70 persen remaja di Pacitan, tinggi badannya di bawah standar,” terang Wawan. Banyak perilaku tidak sehat yang dilakukan orang tua (ibu). Misalnya, seorang ibu tengah mengandung dan menderita sakit kepala. Dengan sembarangan mengkonsumsi obat sakit kepala yang dibeli di warung-warung. Begitu juga pola makannya, yang cukup dengan nasi dan sambal dan sebagainya. Tanpa disadari, perilaku seperti itu berdampak pada bayi yang dikandungnya. Kendati begitu, secara umum, persoalan gizi di Pacitan masih bagus. Bahkan, berdasarkan data di Jatim, Pacitan menempati urutan dibagian atas. Artinya, masih lebih baik dibanding daerah lain di Jatim. Hanya, jumlah bayi mati saat dilahirkan ada kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun 2008 tercatat sekitar 56 bayi mati saat dilahirkan, tahun ini meningkat menjadi 86 kasus. Begitu juga dengan kematian ibu melahirkan, dari 4 kasus (tahun 2008) menjadi 6 kasus di tahun 209 ini. Sementara, pemkab Pacitan terus mengupayakan peningkatan penanganan masalah perbaikan gizi, khususnya anak sampai remaja. Hal itu terlihat dari naiknya anggaran penanganan gizi melalui APBD tahun 2010. Tentunya, program-program itu harus diimbangi dengan kedaan masyarakat terkait pentingnya gizi bagi pertumbuhan anak-anaknya.