Isu gempa masih menghantui warga Pacitan

Hingga kemarin, sebagian warga masih mengaku was-was terkait
isu bakal terjadi gempa besar. Warga yang bermukim di pelosok
pedesaan, seperti di kawasan pegunungan kawatir terjadi longsoran.
Sedang yang di kawasan pantai mengkhawatirkan terjadinya tsunami.
Sebab, isu yang tersebar, gempa itu disebut-sebut berkekuatan 8 skala
richter lebih. “Sejak kemarin (8/10), warga sudah mendengar kabar akan
ada gempa. Hanya tidak jelas sumbernya,” kata Priyatno, warga Desa
Bungur, Kecamatan Tulakan, kemarin (10/10).
Dijelaskan, isu gempa itu justru didengarnya dari beberapa anak-anak
yang masih duduk di bangku sekoolah dasar (SD), yang kebetulan lewat.
Anak-anak itu tampak serius bakal terjadi bencana gempa. Bahkan, kapan
terjadinya juga jelas, yakni sekitar pukul 20.00 malam.
Kendati tidak jelas sipa sumber isu itu, namun sebagian beberapa
warga memperrcayainya. Tak pelak, mereka memilih berada di luar
ruangan. Seperti di teras maupun halaman rumah sejak sore hari.
“Biasanya jam-jam segitu warga melihat acara TV. Tetapi karena tak
terbukti, sekitar jam 21.00 mereka kembali masuk rumah,” papar
Hernawan.
Hal yang sama juga dikatakan Agus Wibowo, warga Dusun Cerbon, Desa
Cokrokembang, Kecamatan Ngadirojo. Mendengar ada kabar akan terjadi
gempa besar dan tsunami warga pun mulai bereaksi. Meski tidak sampai
tidur diluar rumah tetapi warga mengaku tidak tenang. “Begitu
mendengar kabar, warga kemudian keluar rumah,” jelasnya.
Isu gempa di Pacitan sendiri pertama kali diketahui muncul pada hari
Selasa (6/10) lalu. Sehari kemudian, Rabu (7/10) siang beradar pesan
singkat melalui handphone bahwa antara jam 13.00-14.00 akan terjadi
gempa bumi dan terakhir diketahui berhembus di wilayah Kecamatan
Tulakan.
Beredarnya isu secara terus menerus memantik berbagai spekulasi
dikalangan warga. Bahkan mereka mulai mengaitkannya dengan salah satu
agenda nasional yakni pelantikan Presiden dan Wakil Presiden tanggal
20 Oktober mendatang. Ditambah lagi muncul permberitaan rencana boikot
yang dilakukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada pelantikan nanti.
“Munculnya isu terus menerus terkesan ingin membuat kondisi masyarakat
tidak tenang,” ujar Mashudi, warga Kecamatan Tulakan.
Kapolres Pacitan, AKBP Wahyono, mengatakan pihaknya masih melakukan
penyelidikan dan memburu penyebar isu dan SMS. Diakuinya, kejadian
serupa tidak hanya terjadi di Pacitan. Tetapi, hampir diseluruh daerah
di Indonesia. “Jajaran kepolisian masih melakukan penyelidikan. Warga
harus tenang dan berpikir sehat. Tetapi, tetap waspada,” jelasnya.

Leave a Reply