Jumlah Pengangguran di Kab Pacitan Relatif Rendah
PACITAN – Ternyata, jumlah pengangguran di Pacitan, relatif lebih baik
dibanding daerah-daerah lain di Jawa Timur. Bahkan, berdasarkan Survei
Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan Badan Pusat
Statistik (BPS) setempat, tahun 2008 lalu, Pacitan menempati peringkat
kedua terendah setelah Kabupaten Sampang.
Dalam survey tersebut tercatat angka pengangguran terbuka di kota
kelahiran Presiden SBY itu sebanyak 3,1 persen atau 11.746 jiwa dari
total angkatan kerja sebanyak 378.866 jiwa. Jumlah itu relatif
mengalami kenaikan dibanding hasil survei yang sama pada tahun 2007,
sebanyak 2,72 persen atau sekitar 10 ribu orang. Hasil itu memberi
gambaran bahwa dari 100 orang angkatan kerja yang ada di Pacitan saat
ini, tiga di antaranya menganggur. Kenaikan jumlah pengangguran itu
disebabkan beberapa faktor. Diantaranya, krisis global serta musim
kemarau berkepanjangan satu tahun terakhir ini. Sehingga, banyak
tenaga kerja di sektor pertanian dan perkebunan yang menganggur.
Sementara, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
Pacitan, Marwan, membenarkan rendahnya angka pengangguran di Pacitan.
Hanya, berdasarkan jumlah pencari kartu kuning, jumlahnya sebanyak
15.789 orang. Artinya, pencari kartu kuning bisa dikategorikan sebagai
pengangguran. Kendati begitu, keberadaan mereka tidak sepenuhnya
sebagai pengangguran. “Sebab, masih ada aktivitas mendapatkan
pendapatan. Selain itu, sebagian diantaranya sudah mendapatkan kerja,”
kata Marwan.
Sebenarnya, jumlah persuahaan di Pacitan hanya sedikit dengan status
perusahaan kelas kecil-menengah. Pun demikian, ada beberapa persuahaan
yang masih kekurangan tenaga kerja. Seperti perusahaan pabrik rokok di
Kelurahan Sidoarjo, Pacitan, misalnya, dari kebutuhan total 2000
orang tenaga kerja, baru terealisasi sekitar 1459 orang. “Berarti
masih membutuhkan sekitar 400-an orang tenaga kerja”.
Diakuinya, selama ini, pihaknya terus mengupayakan memperkecil angka
jumlah pengangguran. Diantaranya, dengan menjalin kerja sama dengan
daerah luar. Sebab, Ketersediaan angkatan kerja sangat terbatas.
Salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan Lampung, yang meminta
1000 orang tenaga kerja wanita. Tenaga kerja itu nantinya akan bekerja
sebagai tanaga pecking udang. Selain itu , juga ada kerja sama dengan
Kalimantan, yang membutuhkan 200 KK. Nantinya, keluarga itu akan
menempati asrama dan bekerja di kebun kelapa sawit. “Ada yang sudah
daftar,” terang Marwan.
Kendati begitu, mengenai MoU antara pekerja dan perusahaan
diselesaikan di Pacitan. Khususnya mengenai hak-hak yang diperoleh
tenaga kerja. Sehingga, sebelum berada di tempat kerja, sudah ada
kejelasan mengenai besarnya gaji, tunjangan, maupun tempat asrama
tingga bersama isteri dan anak. “Selama ini, tenaga kerja Pacitan
banyak dicari perusahaan lantaran dikenal tekun, ulet dan kompak”.
Tidak itu saja, pihaknya terus menggelontorkan kegiatan wira usaha
baru. Khususnya, keberadaan home industri kecil. Baik bergerak di
bidang kerjainan kayu, bamboo maupun makanan. Nantinya, usaha baru itu
akan mendapatkan bantuan peralatan dan modal usaha. Hanya, mengenai
teknis pelaksanaan masih menunggu kejelasan dari Propinsi Jatim.
Selama ini, pihaknya sudah memiliki beberapa kelompok binaan pengrajin
kolong. Seperti di Bubakan, Kecamatan Tulakan, yang produksinya
rata-rata mencapai satu kuintal per hari. Dengan pasar di Kabupaten
Ponorogo dan beberapa daerah lainnya.