Jumlah Penggunaan Obat Gangguan Kejiwaan Meningkat
KESEHATAN PACITAN - Akhir-akhir ini, pengeluaran obat yang diperuntukkan bagi
penderita gangguan kejiwaan disejumlah kecamatan, di Kabupaten
Pacitan. Hal itu terlihat dari daftar pengeluaran obat yang
menunjukkan adanya peningkatan sekitar 5 – 10 persen.
Sumber di Dinas Kesehatan Pacitan, menyebutkan ada beberapa puskesmas
besar yang menunjukkan peningkatan. Diantaranya, di Puskesmas
Arjosari, dan juga Puskesmas Pringkuku. Beberapa puskesmas lainnya
juga menunjukkan adanya peningkatan. Hanya jumlahnya masih belum
didata secara rinci prosentasenya.
Menariknya lagi, jumlah itupun hanya berasal dari penderita atau
keluarga penderita yang proaktif berobat ke Puskesmas. Artinya, masih
banyak jumlah penderita gangguan kejiawaan lain yang kurang proaktif
atau sengaja dibiarkan oleh keluarganya karena kondisinya sudah parah.
Di Puskesmas Pringkuku, misalnya, dalam sebulan, rata-rata menerima
satu hingga tiga laporan adanya penderita baru gangguan kejiwaan.
Sehingga, dalam kurun waktu satu tahun, terdapat sekitar 25 orang
penderita yang menjalani rawan perawatan. Meski ada diantara pasien
yang dinyatakan sembuh, namun beberapa penderita diantaranya harus
dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Solo (Jawa Tengah) maupun
Yogyakarta karena kondisinya sudah parah.
Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas
Kesehatan Pacitan, dr Hendra Purwaka, membenarkan adanya trend
meningkat penderita gangguan jiwa. Hanya, mengenai data pasti, baik
jumlah penderita, latar belakang pasien dan sebagainya masih dilakukan
pencatatan. “Memang ada peningkatan konsumsi obat bagi gangguan
kejiwaan, seperti di Puskesmas Kecamatan Arjosari,” katanya, Minggu
(25/10).
Dikatakan Hendra, ada berbagai macam penyebab gangguan kejiwaan.
Selain psikologis, gangguan terjadi juga karena faktor genetik.
Dinamisasi kehidupan sosial diperkirakan menjadi salah satu faktor
pencetus tidak stabilnya kondisi kejiwaan seseorang. Misalnya, tekanan
karena sulitnya memperoleh pekerjaan dan pergeseran trend gaya hidup.
“Namun bisa juga gangguan kejiwaan merupakan penyakit bawaan atau
keturunan,” papar Hendra.
Tidak itu saja, masalah ekonomi juga kerap kali berujung pada
menumpuknya beban psikologis. Pola hidup konsumtif sebagai akibat dari
semakin majemuknya interaksi sosial maupun terpaan media ikut
mendorong pertumbuhan gangguan kejiwaan. Meski tidak berlaku mutlak,
hal-hal yang bersifat eksternal ini bisa mempengaruhi pemikiran
individu untuk berharap lebih. Padahal, kenyataan yang ada tidak
mendukung. “Adakalanya, masalah keluarga, seperti perceraian membuat
salah satu pihak tertekan hingga batas kemampuannya,” jelas Hendra.
Lebih lanjut, dokter yang juga aktif di organisasi PMI ini, mengajak
masyarakat untuk belajar bersabar, memahami proses dan berpikir
realitas. Sebab, sangat mungkin, jumlah penderita gangguan jiwa dari
tahun ke tahun akan terus mengalami peningkatan. Seiring dengan
semakin beratnya beban hidup yang dialami masyarakat. Misalnya,
naiknya harga-harga kebutuhan, yang ditambah dengan
permasalahan-permasalahan keluarga dan lingkungan, bisa juga memicu
munculnya penyakit gangguan kejiwaan.
Karena itu, ada baiknya masyarakat yang merasa mengalami beban berat,
memeriksakan sejauh mana tingkat kegilaannya. Atau paling tidak
melakukan konsultasi dengan psikolog atao psikiater. Sehingga, bisa
diketahui sejak dini, jika mengalami gangguan jiwa. “Semua penyakit,
termasuk gangguan kejiwaan, ada tahapan dan tingkatannya. Mulai
stadium dini hingga parah,” pungkas Hendra.
Gmn perkembangan cpnsd kab pacitan