Kaki Gajah, Penyebab Cacat Nomor Dua Setelah Kusta

KESEHATAN PACITAN-Meski tidak tergolong penyakit yang mematikan, namun
Elephantiasis/Filariasis (penyakit kaki gajah) patut diwaspadai.
Sebab, pada stadium puncak, penderita tidak lagi bisa beraktifitas
karena munculnya pembengkakan di beberapa bagian tubuh yang terserang.
Seperti kaki, tangan dan bahkan beberapa organ vital luar lainnya.
“Pada stadium 7, praktis penderita tidak bisa beraktifitas, dan
dicatat menjadi penyebab kecacatan ke 2 setelah kusta,” kata Staf
Subdit Filariasis Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan (Depkes), Helena di Pacitan,
kemarin.
Dari hasil pengamatan sementara, di wilayah Pacitan ditemukan 6 orang
penderita kaki gajah yang berasal dari dua kecamatan, yakni Kecamatan
Kebonagung dan Kecamatan Donorojo. Di Kecamatan Kebonagung, ada 3
orang penderita. Satu orang ditemukan di Desa Sidomulyo dan 2 orang
lainnya di Desa Kalipelus. Namun satu orang penderita diketahui telah
meninggal. Sedangkan di Kecamatan Donorojo, penderita di temukan di
Desa Belah (2 orang) dan Desa Widoro (1 orang). “Tetapi meninggalnya
bukan karena penyakit kaki gajah, tapi karena penyakit lainnya,” tukas
Helena.
Sesuai rencana tim survei akan melaksanakan kegiatannya selama 3 hari
terhitung sejak Kamis (12/11) kemarin. Sebanyak 1.000 warga akan
dijadikan sampel. Hingga hari ini, tim baru menyelesaikan separuh dari
jumlah total populasi sampel. Dari hasil survei tersebut nantinya akan
diketahui daerah tersebut menjadi endemis penyakit kaki gajah atau
tidak. Penderita kaki gajah sendiri di Pacitan diketahui pertama kali
ada pada tahun 1991 dan telah dilakukan pengobatan secara selektif.
“Daerah jadi endemis filariasis jika jumlah penderita yang ditemukan 1
% dari total populasi sampel,” terang Helena.
Di Propinsi Jawa Timur sendiri, dari survey di 30 kabupaten/kota,
ditemukan sekitar 300 kasus Filariasis. Jumlah temuan terbanyak ada di
Kabupaten Lamongan, yakni 40 kasus lebih. Disusul berturut-turut
Malang dengan 30 kasus dan kemudian Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan
data pemetaan Subdit Filariasis dan Schistosomiasis Depkes antara
tahun 2002 sampai tahun 2005, daerah endemis sebagian besar berada di
Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan dari hasil survei cepat
tahun 2000, sebanyak 6.233 orang menjadi penderita kronis Filariasis.
Helena mengatakan, bagi orang awam, gejala awal penyakit kaki gajah
memang terlihat seperti gejala pada penyakit demam biasa. Penderita
akan merasakan demam, panas dan kelenjaran di lipat paha. Media
penyebarannya melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva
stadium 3. Pada saat menggigit manusia, maka larva akan tinggal di
kulit sekitar lubang bekas gigitan. Ketika nyamuk menarik probosisnya
(belalai untuk menghisap darah), larva akan masuk melalui bekas lubang
gigitan. “Perkembangannya terjadi dalam waktu yang cukup lama
(bertahun-tahun),” paparnya.
Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial
yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Sementara,
hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus
Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres yang dapat berperan
sebagai vector penular penyakit kaki gajah. Selain faktor tersebut,
lingkungan juga berperan menjadi media penyebaran penyakit tersebut.
Misalnya wilayah persawahan, rawa-rawa, genangan air dan lain
sebagainya, sebagai tempat berkembang biak nyamuk.
Lebih lanjut Helena menjelaskan, penyakit yang disebut “terlupakan”
ini juga berdampak secara ekonomis. Penderita yang telah berada pada
stadium puncak (stadium 7) praktis tidak akan bisa beraktifitas dan
hanya menjadi beban keluarga. Dicontohkannya, jika penderita adalah
seorang petani, ketika kondisinya semakin parah, maka ia tidak akan
mampu bekerja dan mencari nafkah bagi keluarganya. “ Penyakit ini juga
termasuk yang “memiskinkan” bagi masyarakat,” jelasnya.

penyebab kaki gajah depkes, penyebab kecacatan pasien kusta, wikipedia nyamuk mansonia

One Response to “Kaki Gajah, Penyebab Cacat Nomor Dua Setelah Kusta”

Leave a Reply