Kesulitan Air, Warga Pacitan Berencana Gelar Istisqa
PACITAN – Sebagian besar petani di Kabupaten Pacitan mengeluh.
Pasalnya, hingga saat ini, curah hujan sangat rendah. Akibatnya,
tanaman padi yang sudah ditanam terancam gagal panen. Menyikapi iklim
yang kurang bersahabat itu, ratusan warga di enam desa di
Kec./Kabupaten Pacitan, berencana menggelar shalat Istisqa atau shalat
minta hujan. Rencananya, Minggu (27/12) besok, warga melakukan sholat
Istisqa di lapangan sepak bola Desa Widoro, Kec./Kab. Pacitan. “Kami
sudah berkoordinasi dengan sejumlah warga di enam desa,” kata Kepala
Desa Widoro, Djazuli, kemarin.
Dijelaskan, keenam desa itu diantaranya, Desa Widoro, Semanten,
Ponggok, Nanggungan, Sambong, dan Desa Bolosingo. Namun, tidka menutup
kemungkinan, jumlah itu akan bertambah dari desa-desa lainnya.
Terlebih, persoalan itu dialami oleh semua warga, khususnya para
petani.
Memang, antusias warga mengikuti Istisqa cukup tinggi. Terbukti,
sebagian warga ada yang mengaku menjalani puasa terleboh dulu.
Tujuannya, agar keinginannya terkabul. Seperti diungkapkan Rahayu,
salah seorang warga, mengaku akan mengikuti Istisqa, dengan harapan
hujan segera turun. Sebab, jika hujan tidak segera turun,
dikhawatirkan tanaman padi yang sudah ditanam mengering dan mati.
“Sebagian petani sudah terlanjur tanam padi,” katanya.
Keinginan warga itu tidak terlepas dari kondisi terakhir saat ini.
Kendati sudah memasuki musim penghujan, namun curah huja yang
diharapkan masih relatif kecil. Bahkan, sudah satu bulan ini, tidak
turun hujan. Andaikan turun hujan hanya sesekali dan rintik-rintik
saja. “Sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman pertanian terhambat,”
ungkap Kuncoro.
Perlu diketahui, sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan, khususnya di
bagian barat, mulai merasakan dampak perubahan iklim yan gtidka
menentu ini. Malahan, tanaman padi di areal sawah tadah hujan,
pertumbuhannya tidak normal. Artinya, kendati sudah berumur dua bulan
lebih, namun belum juga menunjukkan tanda-tanda tanaman akan berbuah.
Karena itu, kegiatan Istisqa nanti, diharapkan warga, khususnya petani
menjadi solusi terkait perubahan iklim yang tidak menentu dan
merugikan aktivitas pertanian tersebut. Paling tidak, dengan turunnya
hujan, bias menyelematkan sebagian tanaman padi yang sudah terlanjur
di tanam.