Mitan langka dipasaran
Belum Terbiasa Pakai Kompor Gas, Listrik Sering Padam
Berita Pacitan – Minyak tanah (mintan) masih menjadi primadona bagi
warga masyarakat Pacitan. Terbukti, Sabtu (17/10) pagi, kemarin,
ratusan warga antre mitan disalah satu agen mitan di kompleks pasar
Arjowinangun. “Sejak pukul 06.00 wib, saya sudah antre, Mas,” kata
Sokinah,60, warga asal Desa Wonogondo, Kecamatan Kebonagung, Pacitan.
Diakuinya, untuk mendapatkan mitan sebanyak 4 liter, Sokinah tidak
saja berangkat pagi. Tetapi, harus mengeluarkan uang Rp 2000 ribu,
sebagai ongkos angkot. Pun demikian, semua itu dilakukannya. Sebab, di
daerahnya tidak lagi ditemukan penjual mitan.
Padahal, lanjut nenek yang mengaku bercucu 6 ini, kebutuhan mitan
sangat penting. Utmanya untuk kebutuhan memasak. Selama ini, kebutuhan
memasak masih menggunakan kompor atau kayu bakar. Sebaliknya, kompor
gas elpiji masih tersimpan dalam kardus. Persoalan, masih takut
menggunakannya. Bahkan, hari-hari terakhir ini, kebutuhan mitan juga
dipergunakan untuk penerangan lampu di malam hari. Sebab, listrik PLN
sering padam.
Itulah sebabnya, hampir setiap hari, antre mitan selalu menjadi
pemandangan di agen mitan Bintang Wijaya Arjowinangun. Bahkan, warga
yang antre tidak saja berasal dari masyarakat Kota. Tetapi, tidak
sedikit diantaranya adalah warga dari luar kecamatan, seperti
Kebonagung, Tulakan, Arjosari, dan Ngadirojo.
Persoalannya, warga masih belum bisa meninggalkan mitan 100 persen.
Kendati sudah menggunakan gas elpiji, masih juga memakai kompor minyak
atau memasak menggunakan kayu. Warga pun memiliki beragam alasan. Ada
yang mengatakan saying kalau kompor minyak tanah rusak lantara tidak
dipakai. Ada juga yang mengaku lebih berat menjinjing tabung elpiji,
ketimbang mitan. Bahkan, ada yang terkesan lucu. “Kalau masaknya gak
pakai minyak tanah, rasanya kurang tanak, Mas,” ungkap Tumin, warga
Arjowinagun yang ikut antre sejak pukul 08.00 wib.
Memang, hampir kebanyakan warga yang antre beralasan untuk keperluan
memasak dan penerangan lampu malam hari, lantaran listrik sering
padam. Sebab, terkadang listrik mati sampai beberapa hari.
Mengenai antrean mitan dibenarkan Lia,35, pemilik agen mitan Bintang
Wijaya. Pembelian dengan cara antre itu merupakan upaya pemerataan
kebutuhan mitan bagi warga. Sebab, setiap orang hanya mendapat jatah 4
liter mitan. “Kita jual Rp 3.500 per liternya,” kata Lia.
Antrean itu dibuka setiap hari, kecuali Jumat. Sebab, pada hari itu,
agennya tidak dapat jatah kiriman dari pertaminan. Sedang setiap hari,
mendapat kiriman sekitar tiga drum atau 220 liter mitan. Tetapi, pada
saat-saat tertentu, pasokan mitan berkurang. Sehingga, tidak sedikit
warga yang tidak kebagian mitan. “Tidak ada keplek atau nomor urut.
Pokoknya siapa yang antre lebih dulu yang dilayani,” terang Lia.
Pun demikian, hingga pukul 10.00 wib, kemarin, jumlah warga yang antre
mitan semakin bertambah. Bahkan, sampai ada antrean cadangan yang
jumlahnya mencapai puluhan jerigen. Antrean cadangan itu hanya
untung-untungan. Kalau persediaan masih ada akan kebagian dan
sebaliknya. “Kalau hari ini (kemarin, red) tidak kebagian, besok antre
lebih pagi,” kata Saten,45, warga asal Arjosari.