PACITAN – Sekitar lima bulan ini, produksi arang di Pacitan mengalami
penurunan signifikan. Pasalnya, puluhan pengrajin arang mengaku
kesulitan mendapatkan bahan baku. Disisi lain, harga baku yang ada,
harganya sudah melambung. “Harga bahannya naik sekitar seratus persen,
Mas,” kata Ketua Paguyuban Pengrajin Aran, Pangasalasan, Pacitan,
Jumingan.
Dijelaskan, paguyuban yang dipimpinnya, memiliki anggota sekitar 70-an
orang pengrajin. Dari jumlah itu, semuanya memilih tiarap. Sebagai
ilustrasi, harga bahan baku berupa kayu akasia naik signifikan. Jika
sebelumnya hanya Rp 30 ribu per meter persegi, kini menjadi Rp 90 ribu
per meter perseginya.
Ironinya, harga bahan baku sudah meroket, barangnya pun susah dicari.
Persoalannya, tidak banyak warga yang menjual kayu. Sebab, seiring
dengan datangnya musim penghujan, kondisi hutan menjadi sulit dan
licin. Disisi lain, sekiatr hutan sudah mulai ditanami tanaman
pertanian. Mulai padi tadah hujan maupun jenis tanaman palawijo.
“Kalau menebang pohon dikhawatirkan merusak tanaman pertanian,” imbuh
Jumingan.
Tentunya, dengan harga naik 100 persen, berdampak pada biaya
operasional para pengrajin. Artinya, jika dipaksakan, pengrajin akan
mengalami kerugian. Sebagai gambaran, sela tiga hari melakukan
aktivitas, pengrajin membutuhkan bahan sekitar 10 meter persegi dengan
nominal sekiatr Rp 900 ribu. Belum lagi biaya transport kendaraan,
baik mengangkut jayu maupun mengirim arang ke Magelang dan sejumlah
kota di Jawa Tengah.
Tidak itu saja, pengrajin juga harus mengeluarkan biaya honor tenaga
kerja, per hari Rp 30 ribu. Bahkan, masih harus membeli karung plastik
sebagai tempat arang yang akan dikirim ke konsumen. Sehingga, jika
dihitung-hitung, pengarajin hanya mendapatkan keuntungan kecil. “Bahan
kayu 10 meter persegi menghasilkan sekitar 60 karung plastik dengan
nilai jual Rp 1,5 juta. Padahal toral biaya operasional juga berkisar
Rp 1,5 jutaan”.
Itulah sebabnya, sebagian besar pengrajin memilih menunggu musim
kemarau. Atau paling tidak, jika harga bahan kayu kembali turun.
Sebab, harga kayu mahal dan bahan sulit didapat. Tetapi, harga jual
tidak mengalami kenaikan, yakni Rp 25 ribu per karung plastik. Pun
demikian, masih ada pengrajin yang tetap beraktivitas.
Pertimbangannya, memiliki bahan limbah yang harganya relatif murah.
Mereka juga tidak memiliki kegiatan sampingan selain sebagai pegrajin
arang.