Perkelahian antar napi masih terjadi di Rutan
Kenakalan remaja bisa terjadi dimana saja. Termasuk di Rumah
Tahanan (Rutan) Kelas 2B Pacitan. Seperti dilakukan Sl,15, Ms,16 dan
By,16 saat mengeroyok As,15, hingga menderita luka pukulan dibeberapa
bagian tubuhnya. Kini, keempatnya yang menjadi napi lantaran kasus
pencurian, tengah diproses di intern Rutan.
Kepala Rutan Pacitan, Budi P. membenarkan kejadian itu. Hanya,
peristiwa itu dinilai sebagai kenakalan remaja. Pun demikian, pihaknya
akan menindaklanjuti kejadian itu dengan serius dan sungguh-sungguh.
Selain sebagai wujud kooperatif Rutan, juga koreksi sosial ke depan.
Dijelaskan, tindak kenakalan remaja yang dialami As diketahui petugas
saat pelaksanaan shalat Jum’at (2/10), kemarin. Saat itu, korban
dicari petugas lantaran tidak terlihat mengikuti shalat. Ternyata,
korban tengah berada di lantai dua dan bermaksud melarikan diri.
Untungnya, upaya nekat As tersebut diketahui petugas dan berhasil
dicegah. Setelah dimintai keterangan, korban mengatakan tidak betah
lagi berada di tahanan bersama tiga orang temannya. Sebab, sudah kerab
kali diperlakukan semena-mena oleh mereka. “Tindakan pelaku terjadi
sejak seminggu terakhir,” terang Budi, saat ditemui di rumah dinasnya,
kemarin (3/10).
Itulah sebabnya, korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Pacitan, untuk menjalani pemeriksaan. Tindakan yang dilakukan
petugas bukan berarti kondisi korban luka parah. Melainkan untuk
memastikan kondisi korban. Tentunya, jika kondisi parah, pihaknya
akan menghubungi keluarga. “Semua masih dalam batas toleransi.
Sehingga, pihak keluarga korban tidak dihubungi,” imbuhnya.
Dugaan sementara, motif saling ejek diantara mereka. Dugaan muncul
dari latar belakang psikologis pada diri anak-anak. Selain itu juga
bisa disebabkan unsur besukan, ketersinggungan maupun pemberian
makanan. Padahal, saat akan menempati sel, semuanya sudah diberi
pembekalan mengenai tata tertib, kewajiban, larangan dan samksi yang
akan diberikan jika terbukti melanggar.
Diakui, tindak kenakalan di rutan memang baru kali ini terjadi. Hanya,
karena di Pacitan (Kota kecil), gaungnya menjadi besar. Kejadian di
lembaga pemasyarakatan di kota-kota besar, lebih parah lagi. Pun
demikian, pihaknya tetap berupaya maksimalmenindaklanjuti kenakalan
itu.
Lebih lanjut, Budi mengungkapkan, penjagaan di Rutan sangat ketat.
Baik pagi, siang dan malam hari. Bahkan, untuk malam hari ditambah
petugas piket yang ketat. Tidak itu saja, para warga binaan juga
sering diberikan pengarahan terkait tingkah laku dan tata tertib.
“Mereka melakukan perbuatan dengan memanfaatkan kelengahan petugas.
Jika nanti pelaku terbukti melanggar, tentu akan diberi sanksi berupa
pemisahan sel,” pungkasnya.