Ribuan Warga Pacitan Belum Melek Huruf
PACITAN- Ribuan warga Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
buta aksara. Warga belum melek huruf itu didominasi oleh mereka yang
berusia diatas 45 tahun. Sedangkan warga buta huruf di bawah usia
tersebut sudah dituntaskan. “Tahun 2009 ini masih ada 3.609 warga yang
buta huruf,” terang Kepala Dinas Pendidikan, Pacitan, Heru Wiwoho, kemarin.
Berbagai upaya dan tahapan telah dilakukan untuk mengikis angka buta
aksara. Selain melalui Kelompok Belajar Masyarakat, Dinas Pendidikan
juga menggandeng elemen-elemen kemasyarakatan lainnya sebagai upaya
mengentaskan buta aksara. Seperti melalui PPK, Muslimat NU, Aisyiah
dan lain sebagainya. “Tahun ini pula ada 910 warga yang mengikuti
kegiatan belajar membaca dan tulis,” jelas Heru.
Dikatakannya, jumlah penyandang buta aksara di Pacitan tergolong
sedikit. Yakni hanya 0,84 persen. Angka ini jauh dibawah angka patokan
buta huruf nasional sebanyak lima persen. Hanya, untuk warga yang
belum melek huruf diatas usia 45 tahun, ada sedikit kendala. Sebab,
kemampuan berpikirnya mulai menurun. “Yang terpenting sekarang adalah
menjaga agar daerah yang sudah terbebas tidak kembali lagi menjadi
daerah buta huruf. Caranya dengan upaya yang terus menerus.”
Untuk menarik minat warga kelompok umur di atas 40 tahun kembali
belajar membaca, menulis, dan menghitung, diperkenalkan pula program
kewirausahaan. Tidak itu saja, pemerintah menerapkan kebijakan
afirmatif pendidikan pemberdayaan perempuan. Seperti, pendidikan
kelompok belajar keaksaraan mandiri yang pada hakikatnya pendidikan
kecakapan hidup sebagai kelanjutan dari program keaksaraan yang sudah
ada.
Ada beberapa hal yang menyebabkan sesorang buta aksara. Misalnya,
akses pelayanan pendidikan dasar dan angka putus sekolah. Khususnya di
kelas 1 sampai 3 di jenjang Sekolah Dasar (SD). Selain itu, beratnya
kondisi geografis Indonesia, munculnya penyandang buta aksara baru,
serta pengaruh faktor sosiologis masyarakat ikut menjadi pemicu.