Sungai Lorog Meluap, lahan pertanian tergenang

Puluhan hektar tanaman perkebunan dan pertanian milik warga
di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, tergenang air.
Diduga, genangan air yang meluap ke areal pertanian itu terjadi
lantaran muara sungai tertutup pasir pantai. Mendapati kondisi itu,
warga mengaku tidak bisa berbuat banyak. ” Jika terus dibiarkan
terendam air, tanaman kami bisa mati. Tetapi, bagaimana lagi,” kata
Rajiman, warga setempat, Senin (12/10)
Secara rinci, luas area perkebunan yang terendam belum diketahui
secara pasti. Tetapi, diperkirakan cukup lauas, ada beberapa hektar.
Di area itu, terdapat berbagai tanaman produktif pertanian milik
warga. Seperti, cabai, terung, jagung dan lain sebagainya.
Kendati begitu, warga sendiri mengaku pasrah. Sebab, untuk mengatasi
luapan air tersebut diperlukan alat-alat berat untuk menyingkirkan
timbunan pasir di muara sungai. “Timbunan berasal dari sedimentasi
selama kemarau kemarin,” papar Rajiman.
Dijelaskan, terendamnya tanaman milik warga akibat hujan deras yang
mengguyur wilayah itu dua hari terakhir. Awalnya, air hanya merendam
separuh dari tinggi tanaman. Namun, karena hujan terus turun, kini
genangan air bertambah dan mulai menenggelamkan tanaman. Diperkirakan
air masih akan terus menggenangi lahan pertanian karena mendung tebal
masih terlihat di langit Pacitan. “Genangan berasal dari luapan Kali
Lorok bercampur air laut” ungkapnya.
Jika genangan tak juga surut, diperkirakan warga akan mengalami
kerugian yang cukup besar. Betapa tidak, untuk ongkos tanam, mereka
harus mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu rupiah. Tidak itu saja,
warga yang tinggal di dekat lokasi genangan mengkhawatirkan dampak
lain, yakni munculnya sarang-sarang nyamuk baru. Bahkan mereka
khawatir genangan juga akan meluap dan menggenangi pemukiman.
“Praktis kami tidak bisa melakukan aktivitas di ladang. Apalagi air
laut juga kurang baik bagi lahan pertanian,” papar Rajiman.
Hal senada juga diungkapkan warga lainnya. Sebenarnya, kejadian itu
pernah terjadi. Yakni, ketika sungai meluap, air laut pasang.
Akibatnya, air dari sungai tidak bisa terbuang ke laut. Sebaliknya,
air bergerak menggenangi daratan. Kejadian itu membuat pasir pantai
menutup muara sungai. Persoalannya, saat ini, area sekitar pantai lagi
ditanami palawija.
Secara teknis, kondisi itu bisa diatasi dengan mengeruk tumpukan pasir
laut di muara sungai. Hanya, untuk melakukannya tidaklah mudah.
Apalagi jika hanya menggunakan peralatan seadanya. Karena itu, warga
berharap pemkab membantu warga mengatasi kejadian itu.

lorog pantai

Leave a Reply